Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) melaporkan bahwa personelnya menjadi sasaran tembakan senjata ringan dan senapan mesin di dekat Kafer Shouba, Lebanon selatan, Jumat (2/1/2026) waktu setempat.
UNIFIL sendiri mengonfirmasi bahwa tembakan tersebut berasal dari posisi militer Israel di selatan Blue Line. Dalam pernyataan resminya, UNIFIL menyebut insiden pertama terjadi saat pasukan penjaga perdamaian melakukan patroli di kawasan tersebut.
“Lebih awal hari ini, pasukan penjaga perdamaian yang sedang berpatroli di dekat Kafer Shouba melaporkan ada 15 peluru senjata ringan yang jatuh tidak lebih dari 50 meter dari posisi mereka,” tulis UNIFIL dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita Anadolu, Sabtu (3/1/2026).
Tak lama berselang, insiden serupa kembali terjadi di lokasi yang sama.
“Kurang dari 20 menit kemudian, pasukan penjaga perdamaian dalam patroli kedua di area yang sama melaporkan sekitar 100 peluru senapan mesin menghantam area sekitar 50 meter dari mereka,” lanjut pernyataan tersebut.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan, UNIFIL menegaskan bahwa sumber tembakan berasal dari pihak Israel.
“Tidak ada kerusakan atau cedera dalam kedua insiden tersebut. Namun, kami mengonfirmasi bahwa tembakan berasal dari posisi militer Israel di selatan Blue Line pada kedua kejadian,” tegas UNIFIL.
Menanggapi situasi tersebut, misi penjaga perdamaian PBB itu langsung mengirimkan permintaan stop fire (hentikan tembakan) melalui jalur komunikasi resmi. UNIFIL juga menekankan bahwa patroli tersebut telah dikoordinasikan sebelumnya dengan militer Israel.
“UNIFIL telah memberi tahu IDF mengenai aktivitas di wilayah tersebut sebelumnya, sesuai praktik yang biasa dilakukan untuk patroli di area sensitif dekat Blue Line,” jelasnya.
UNIFIL menyebut insiden semacam ini semakin sering terjadi dan menjadi tren yang mengkhawatirkan, sembari mengingatkan bahwa “serangan terhadap atau di dekat pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.”
Lebih lanjut, UNIFIL mendesak militer Israel untuk menghentikan tindakan agresif terhadap pasukan perdamaian.
“Kami menyerukan kepada tentara Israel untuk menghentikan perilaku agresif dan serangan terhadap atau di sekitar pasukan penjaga perdamaian yang bekerja demi perdamaian dan stabilitas di sepanjang Blue Line,” tegasnya.
Belum ada tanggapan resmi dari militer Israel soal laporan UNIFIL tersebut.
Sebagai informasi, patroli penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan kerap menjadi sasaran tindakan agresif Israel, termasuk penyorotan laser dan tembakan peringatan. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, sebelumnya menyebut insiden semacam ini sebagai “kejadian yang sangat berbahaya.”
Gencatan senjata di Lebanon sendiri telah berlaku sejak November 2024, setelah lebih dari satu tahun serangan yang menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai 17.000 lainnya, di tengah perang Israel di Gaza.
Namun sejak gencatan senjata diberlakukan, setidaknya 335 orang tewas dan 973 lainnya terluka akibat serangan Israel, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, militer Israel seharusnya menarik diri sepenuhnya dari Lebanon selatan pada Januari 2025. Namun hingga kini, penarikan pasukan baru dilakukan secara parsial, dan Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di lima pos perbatasan. (bil/iss)


