EtIndonesia. Pada pelajaran sains di Sekolah Hewan, Pak Guru Kuda Nil memberi para murid sebuah tugas rumah yang istimewa.
“Anak-anak, besok saat datang ke sekolah, ingatlah untuk membawa satu pot tanaman—boleh bunga atau rumput—yang kalian tanam di rumah.”
Begitu Pak Guru selesai berbicara, kelas langsung ramai oleh obrolan gembira. Sebab setiap murid di Sekolah Hewan pasti memiliki setidaknya satu pot tanaman di rumah. Ini kesempatan bagus untuk membawa tanaman masing-masing ke sekolah dan membandingkan siapa yang tanamannya tumbuh paling indah.
Keesokan harinya, setiap murid datang sambil memeluk pot tanaman.
Anak Beruang membawa anggrek dengan daun hijau ramping yang sangat cantik. Kelinci Abu-abu membawa bunga pacar air dengan bunga merah cerah—indah dan bisa dipakai untuk mewarnai kuku. Anak Sapi membawa poinsettia, dengan daun-daun merah di ujung rantingnya seperti api yang sedang menyala. Anak Tikus kecil membawa kaktus—belum berbunga, hanya dipenuhi duri-duri yang tegak.
“Anak-anak, tujuan kalian membawa tanaman hari ini bukan untuk membandingkan bunganya, melainkan mengamati bentuk daun dari berbagai tanaman. Sekarang, sebutkan bentuk daun tanaman kalian satu per satu. Kita mulai dari kelompok pertama, baris depan,” kata Pak Guru Kuda Nil.
“Daun anggrekku panjang dan ramping,” kata Anak Beruang sambil berdiri.
“Daun poinsettiaku berbentuk lonjong,” sambung Anak Sapi yang duduk di sebelahnya.
“Daun bunga pacar airku berbentuk lonjong memanjang,” kata Kelinci Abu-abu dari baris kedua.
“Pak Guru… kaktusku tidak punya daun,” kata Anak Tikus sambil menundukkan kepala.
Seluruh kelas langsung tertawa.
“Anak-anak,” tanya Pak Guru Kuda Nil. “Menurut kalian, apakah kaktus benar-benar tidak punya daun?”
“Tentu saja tidak punya!” jawab murid-murid serempak. “Kaktus yang belum berbunga, selain duri tajam, tidak punya apa-apa!”
“Sebetulnya, kaktus punya daun,” kata Pak Guru sambil mengangkat pot kaktus ke meja depan.
“Kalau begitu, daunnya ada di mana?” tanya Trenggiling dengan heran.
“Daun kaktus, “adalah duri-duri tajam itu sendiri,” jelas Pak Guru Kuda Nil.
Barulah semua murid mengerti—ternyata kaktus juga memiliki daun.
“Tapi kenapa daun kaktus bentuknya duri? Jelek sekali,” tanya Zebra Kecil.
“Karena kaktus berasal dari daerah gurun yang kering dan jarang hujan,” jawab Pak Guru.
“Daunnya berubah menjadi duri agar mengurangi penguapan air di dalam tubuhnya. Hanya dengan cara itu, kaktus bisa bertahan hidup di gurun.”
Mendengar penjelasan itu, murid-murid tak lagi menganggap daun kaktus jelek. Sebaliknya, mereka justru mengagumi ketangguhan kaktus.
Kartu Pengetahuan
Daun kaktus adalah duri-duri tajam dan keras yang tumbuh di tubuhnya. Setiap tanaman membutuhkan air untuk hidup. Sebagian air akan menguap melalui pori-pori di permukaan daun. Namun kaktus hidup di gurun yang panas dan kering, hampir tanpa hujan. Jika kaktus masih memiliki daun lebar seperti tanaman lain, air di dalam tubuhnya akan cepat menguap dan kaktus akan mati kehausan.
Selama waktu yang sangat panjang, daun kaktus perlahan berubah menjadi duri seperti sekarang. Dengan bentuk ini, air sulit menguap, sehingga kaktus mampu bertahan dan hidup turun-temurun di gurun yang gersang.
Pesan kehidupan: Apa yang tampak sebagai kekurangan, bisa jadi adalah kekuatan untuk bertahan hidup. Seperti kaktus—dia tidak cantik dengan cara biasa, tetapi dia kuat, tangguh, dan mampu hidup di tempat yang paling sulit.(jhn/yn)





