EtIndonesia. Setiap orang hidup di dunia ini dengan caranya masing-masing. Mereka memiliki mimpi dan tujuan yang berbeda, bergegas menuju arah yang mereka pilih. Mereka berusaha sekuat tenaga menjalani hidup, dan dengan tindakan mereka seolah berkata: demi hal yang kita cintai, demi masa depan, entah di depan sana menanti kepahitan atau manisnya hasil, entah jalannya dipenuhi duri atau penuh kicau burung dan bunga bermekaran, kita tetap akan melangkah tanpa ragu dan maju tanpa menoleh ke belakang.
Suatu hari pada bulan Maret 1976, di sebuah kota kecil di Anhui, terdengar tangisan bayi—sebuah kehidupan baru telah lahir. Namun takdir berkata lain. Tak lama kemudian, bayi itu didiagnosis menderita polio. Dia tumbuh sebagai penyandang disabilitas: sulit bergerak dan berbicara dengan jelas. Sejak itu, dia menjadi bahan ejekan teman-teman sebayanya—diejek, ditindas, bahkan dihina. Luka-luka itu menanamkan rasa rendah diri dan ketakutan di dalam hatinya.
Padahal, dia adalah anak yang cerdas. Namun karena terus dibayangi rasa minder akibat keterbatasan fisik, dia tidak pernah berani mendaftar ke universitas favorit. Saat hasil ujian masuk perguruan tinggi diumumkan, dia diterima di Universitas Shihezi, Xinjiang.
Memasuki dunia kampus, dia bertekad mengubah dirinya. Dia mulai belajar bergaul, membuka hati yang telah lama tertutup, dan perlahan melangkah ke tengah masyarakat. Dari sanalah dia menemukan minatnya di bidang bisnis. Dia menyadari memiliki bakat berdagang. Di kampus, dia mulai berjualan tiket film, menjual CD, dan berbagai usaha kecil lainnya—bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk mengumpulkan pengalaman.
Setelah lulus kuliah, karena kondisi keluarga yang miskin dan statusnya sebagai penyandang disabilitas, sangat sedikit perusahaan yang mau menerimanya. Bahkan ada yang terang-terangan meremehkan dan mendiskriminasi kekurangan fisiknya. Dia mengikuti wawancara berkali-kali, namun semuanya berakhir dengan penolakan. Meski begitu, dia tidak menyerah.
Demi bisa makan, dia mulai berjualan kaki lima—menjual kartu-kartu kecil dengan keuntungan yang sangat tipis.
Di hari-hari yang dingin, dia sering menahan lapar. Mengenakan mantel tentara hijau, dia berjongkok di pinggir jalan, menjaga dagangannya yang belum laku. Dia menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, tanpa satu pun menoleh. Namun, masa itu belumlah yang paling pahit dalam hidupnya.
Seperti yang pernah dia katakan sendiri: “Aku pernah berjualan kartu di kaki lima, membuka toko buku, membuka warnet. Tokoku pernah dibakar, warnetku pernah ditutup. Tapi aku tidak pernah menyerah, dan tidak lagi mengeluh—karena mengeluh tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan hanyalah mengandalkan diri sendiri.”
Setelah menempuh jalan yang tak terhitung jumlahnya, mengalami kegagalan demi kegagalan, dengan ketekunan dan perjuangan yang tak kenal lelah, dia akhirnya mendirikan perusahaan garmen miliknya sendiri. Dengan kualitas terbaik, harga terjangkau, dan kejujuran sebagai fondasi, dia meraih kepercayaan para pelanggan. Perusahaannya terus berkembang, produknya dipasarkan secara daring hingga ke mancanegara, dan dia pun menjadi salah satu dari sepuluh pedagang online terbesar di dunia.
Tokoh luar biasa itu adalah Cui Wanzhi, CEO Hefei Diezhilian Clothing Company.
Saat memperkenalkan dirinya, dia pernah berkata: “Ayahku menanamkan sebuah pohon untukku, dan aku menanamkan sebuah mimpi untuk diriku sendiri. Tuhan mencintaiku, maka Dia menggigitku satu kali. Dengan luka yang masih berdarah, aku terus berjalan—tanpa menoleh ke belakang.”
Tak ada kesuksesan yang datang begitu saja. Sebelum meraih keberhasilan, segala penderitaan, kegagalan, dan kesulitan yang dia alami sejatinya adalah hadiah. Hingga suatu hari, jawaban yang berhembus di dalam angin akan menyapanya—seperti sebutir benih di musim semi yang terbawa angin, jatuh ke setiap sudut bumi, menyebar dan mengisahkan semangat perjuangan manusia.(jhn/yn)


