FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Serangan udara Amerika Serikat dan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, turut ditanggapi oleh akademisi yang juga mantan Capres nomor urut 1, Anies Baswedan.
Melalui tulisan berbahasa Inggris, Anies mengaku menyayangkan serangan itu karena justru bertentangan dengan prinsip yang diperjuangkan Amerika sendiri.
“Serangan militer AS terhadap Venezuela sangat disayangkan, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip kedaulatan dan multilateralisme yang telah lama diperjuangkan Amerika,” tulis Anies Baswedan dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (4/1/2026).
Sebagai negara yang mengklaim penjaga demokrasi global, lanjut Anies, tindakan unilateral ini menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi prinsip-prinsip tersebut, terutama di dunia multipolar saat ini di mana pengaruh Rusia dan Tiongkok di Amerika Latin semakin kuat.
“Hal ini berisiko memicu ketidakstabilan yang meluas, memaksa negara-negara seperti Indonesia untuk menavigasi kepentingan nasional kita secara lebih strategis, daripada sekadar mengikuti arus ideologis,” sambungnya.
Apa yang terjadi pada Venezuela juga menjadi preseden bagi negara-negara berkembang lainnya. Ini melampaui pelanggaran kedaulatan.
Ini adalah upaya yang disengaja untuk membatasi kebebasan negara-negara Selatan dalam mengelola sumber daya mereka sendiri.
Kita harus memperkuat solidaritas di antara negara-negara berkembang untuk melindungi prinsip-prinsip non-intervensi yang telah lama kita perjuangkan.
Kelemahan diplomasi multilateral, seperti melalui PBB atau OAS, semakin terlihat jelas, sehingga pendekatan lunak seperti ASEAN Way menjadi kurang efektif dalam menghadapi konfrontasi langsung.
“Sudah saatnya kita mengembangkan diplomasi yang lebih proaktif, termasuk jaringan dengan aktor non-negara untuk mediasi yang efektif, daripada netralitas pasif yang membuat kita rentan sebagai korban,” ujar eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.
Aksi ini juga dapat berfungsi sebagai katalis untuk mereformasi tata kelola global dari perspektif Selatan. Indonesia memiliki kesempatan untuk memimpin inisiatif di PBB untuk memperkuat suara negara-negara berkembang, khususnya mengenai sumber daya strategis.
“Ini bukan sekadar respons moral, tetapi strategi bertahan hidup di dunia yang terfragmentasi, yang menekankan kepemimpinan yang membangun jembatan daripada menyerah pada kekuatan-kekuatan yang destruktif,” tutup mantan Gubernur DKI Jakarta itu. (sam/fajar)





