Terungkap! Segini Cadangan Minyak Venezuela yang Diincar Trump

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mengincar potensi minyak mentah di Venezuela usai Presiden Nicolas Maduro ditangkap. Negara di Amerika Selatan itu diketahui memiliki cadangan minyak jumbo.

Adapun, rencana mengambil alih minyak tersebut diumumkan Trump beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS, Sabtu (3/1/2025) waktu setempat. Trump bahkan berjanji menggelontorkan anggaran miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak mentah Venezuela.

Dia menyebut, bakal mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi mengelola cadangan minyak di Venezuela.

"Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini," kata Trump dikutip dari Reuters.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Lantas, berapa besar cadangan minyak yang dimiliki Venezuela?

Menurut laporan Reuters, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, produksi minyak mentahnya relatif kecil, yakni sektar 1 juta barel per hari (bph). Hal itu terjadi lantaran salah urus, kurangnya investasi, dan sanksi yang dikenakan AS.

Baca Juga

  • Trump Siapkan Investasi Jumbo untuk Ambil Alih Minyak Venezuela
  • Trump Sebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro Telah Dalam Perjalanan Menuju New York
  • Ekspor Minyak Venezuela Lumpuh Dampak Sanksi AS & Gejolak Politik

Tercatat, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan global atau 303 miliar barel. Jumlah cadangan itu di atas pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Arab Saudi.

Cadangan minyaknya sebagian besar terdiri dari heavy oil di wilayah Orinoco di Venezuela tengah. Oleh karena itu, biaya produksi minyak mentah negara itu mahal.

Venezuela diketahui sebagai salah satu anggota pendiri OPEC bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi.

Negara itu pernah memproduksi minyak sebanyak 3,5 juta bph pada 1970-an, yang pada saat itu mewakili lebih dari 7% produksi minyak global. Produksi turun di bawah 2 juta barel per hari selama tahun 2010-an dan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu atau hanya 1% dari produksi global.

Analis MST Marquee, Saul Kavonic, berpendapat bahwa jika perubahan rezim terjadi, produksi minyak Venezuela bisa meningkat. Pun, ekspor minyak Venezuela dapat tumbuh seiring dengan dicabutnya sanksi dan kembalinya investasi asing.

Investasi Jumbo AS Demi Kuasai Minyak Venezuela

Sementara itu, Kepala Analis Sektor Global di Third Bridge, Peter McNally, menilai bahwa rencana Trump untuk mendatangkan perusahaan minyak besar AS ke Venezuela dan 'mengalirkan minyak' akan terhambat oleh kurangnya infrastruktur. Apalagi, pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar.

"Masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab tentang keadaan industri minyak Venezuela, tetapi jelas bahwa dibutuhkan puluhan miliar dolar untuk membalikkan industri tersebut," kata McNally.

Adapun satu-satunya perusahaan AS yang saat ini beroperasi di ladang minyak Venezuela adalah Chevron. Perusahaan itu memproduksi minyak mentah yang digunakan oleh kilang-kilang di Pantai Teluk AS dan kilang-kilang lainnya.

Direktur Program Energi Amerika Latin di Baker Institute Universitas Rice di Houston, Francisco Monaldi, mengatakan bahwa Chevron berada pada posisi yang paling diuntungkan dari potensi pembukaan sektor minyak di Venezuela.

Namun demikian, dia mengatakan bahwa perusahaan minyak AS lainnya akan memperhatikan dengan saksama stabilitas politik. Perusahaan minyak AS lain juga tengah menunggu untuk melihat bagaimana lingkungan operasional dan kerangka kontrak berkembang.

"Perusahaan yang kemungkinan besar akan sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari US$10 miliar dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke negara itu," katanya.

Selain itu, Exxon juga bisa kembali, tetapi piutang mereka tidak sebanyak itu.

"Exxon, Conoco, dan Chevron, ketiganya tidak akan khawatir untuk berinvestasi dalam minyak mentah, mengingat minyak tersebut sangat dibutuhkan di Amerika Serikat dan mereka kurang fokus pada dekarbonisasi," imbuh Monaldi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Sindir Siniar yang Buat Gaduh
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KPK Duga Eks Sekdis Cipta Karya Bekasi Terima Uang dari Ade Kuswara
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Ungkap MBG Sudah Jangkau 55 Juta Penerima dalam Setahun
• 17 jam laludetik.com
thumb
Persib Bandung vs Persija Jakarta, Macan Kemayoran Ogah Didikte
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Madas Laporkan Cak Ji ke Polda Jatim Terkait Sidak Rumah Nenek Elina
• 4 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.