Istilah super flu ramai diperbincangkan karena varian influenza A yang disebut H3N2 subklade K sudah terdeteksi masuk Indonesia. Perlu dipahami bahwa super flu bukan nama resmi penyakit baru. Secara medis, kondisi yang disebut super flu umumnya merujuk pada infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza tertentu atau virus pernapasan lain, seperti rhinovirus, adenovirus, atau respiratory syncytial virus (RSV).
Virus influenza memang terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya vaksin flu harus diperbarui secara berkala.
Subtipe flu yang dominan tahun ini adalah influenza A (H3N2) subclade K, yang sebenarnya sudah ada sejak 1968 dan telah mengalami banyak perubahan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, fenomena yang disebut “super flu” sebenarnya muncul setiap beberapa tahun sekali.
Ini sebenarnya adalah virus influenza yang sudah dikenal, yang mengalami mutasi sehingga menyebar lebih cepat dan kadang memberi gejala lebih berat daripada flu biasa. Para ahli mengatakan fenomena ini bukan sesuatu yang benar-benar “super” secara medis—melainkan bagian dari siklus evolusi virus flu yang sudah sering terjadi.
Data terbaru CDC (Centers for Disease Control and Prevention) AS mengindikasikan strain H3N2, khususnya subvarian K, menjadi varian dominan di AS dan dinilai lebih menular dibandingkan strain flu lainnya. Saat ini, H3N2 menyumbang hampir 90 persen dari seluruh kasus flu yang dilaporkan di AS.
Gejala Super FluVirus flu ini menyerang saluran pernapasan, dan gejalanya bisa lebih kuat daripada batuk pilek biasa. Beberapa tanda umum super flu antara lain:
Demam tinggi mendadak disertai menggigil
Batuk dan pilek parah
Sakit tenggorokan dan nyeri otot
Sakit kepala
Kelelahan
Kadang pusing atau gangguan pencernaan ringan
Gejala ini sering kali muncul secara intens dan membuat tubuh terasa sangat lemah sehingga aktivitas sehari-hari terganggu. Ini berbeda dengan common cold (pilek ringan), yang biasanya hanya membuat hidung tersumbat dan bersin-bersin tanpa demam tinggi.
Kelompok Paling Rentan Super Flu?Meskipun siapa saja bisa tertular, ada beberapa kelompok yang lebih berisiko mengalami gejala berat, yaitu:
Anak-anak dan remaja
Orang tua (lansia)
Ibu hamil
Orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan pernapasan
Kelompok ini perlu lebih waspada dan sebaiknya menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
Bagaimana Cara Menghadapinya?Walaupun virus ini bisa menyebabkan gejala lebih berat dari flu biasa, virus super flu tidak mematikan seperti COVID-19. Kementerian Kesehatan RI menegaskan warga kita tidak perlu panik, tetapi penting untuk tetap waspada dan mengikuti langkah pencegahan serta perawatan yang tepat.
1. Istirahat yang CukupTubuh perlu waktu untuk melawan virus. Istirahat total dalam sehari atau dua hari saat demam atau gejala muncul, bisa membantu pemulihan.
2. Minum Cukup CairanDehidrasi memperburuk kondisi. Minum air putih, jus buah, atau minuman elektrolit sangat dianjurkan.
3. Jaga Kebersihan Diri dan LingkunganCuci tangan yang sering pakai sabun
Tutup mulut saat batuk/bersin
Pakai masker saat berada di kerumunan
Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala serius seperti:
Sesak napas
Demam tinggi yang tidak turun
Nyeri di dada
Kelelahan ekstrem
Meski vaksin flu musiman tidak 100% mencegah tertular, vaksin tetap membantu mengurangi risiko gejala berat dan rawat inap.



