Seorang warga Garut, Holis Muhlisin, mengalami intimidasi dari beberapa orang. Diduga intimidasi itu dilakukan karena Holis kerap mengkritik kondisi jalan yang rusak dan mempertanyakan dana desa.
Holis membagikan video intimidasi itu di akun Facebooknya. Terlihat beberapa pria berbicara kepadanya dengan nada tinggi. Kerah baju Holis juga sempat diremas pelaku hingga menunjukkan gestur ingin memukul.
“Rek anaonan didinya babarawakan cing sok? Hayang tenar didinya? Dek ngajago di media sosial? hayang kumaha? (dalam rangka apa anda teriak-teriak coba? Kamu mau terkenal? Mau ngejago di media sosial?)" ucap pelaku dalam video itu.
"Gregetan lamun lain jelema, ayeuna sia kitu-kitu teuing ka salaki aing (Saya greget kalau kamu bukan manusia, sekarang kamu gitu banget ke suami saya),” ucap lainnya.
Diduga, aksi intimidasi tersebut dilakukan oleh keluarga Kepala Desa. Holis hanya tertunduk ketika menerima intimidasi tersebut.
Holis Buka SuaraHolis buka suara soal intimidasi yang diterimanya. Ia bilang video itu ada sejak 27 Oktober 2025. Namun ia baru posting pada Desember lalu.
“Setelah mempertimbangkan beberapa hal,” jelasnya.
Holis mengaku bahwa aksi dugaan intimidasi itu diterimanya karena kerap mengkritik kondisi desa yang olehnya dianggap amburadul. Salah satu yang paling disorotnya adalah kondisi jalan yang sangat jelek.
Selain itu juga ia menyebut pernah ada kejadian longsor di wilayahnya. “Namun tidak diperbaiki, dibiarkan begitu saja,” ucapnya.
Holis mengaku bahwa dirinya tidak pernah ingin tenar dengan kritikan yang videonya diunggah di akun media sosial. “Saya hanya ingin desa saya baik,” pungkasnya.
Respons KDMVideo intimidasi itu juga direspons oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM lewat akun Instagramnya. Ia meminta agar tidak ada intimidasi dan pengancaman bila ada yang mengkritik pembangunan hingga jalan rusak di desa.
“Untuk jajaran aparat desa di mana pun berada, baik kepala desa, aparat dan perangkat desa sampai ketua RT RW kepala dusun, manakala ada orang yang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin yang tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi pengancaman,” ucap Dedi dikutip Minggu (4/1).
Ia menyampaikan bahwa di kondisi saat ini, bila ada yang menceritakan tentang Pembangunan yang jelek harus menerima dengan lapang dada. Lebih dari itu, menurutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan perubahan dan perubahan.
“Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan kita mencaci maki orang yang mengkritik kita bahkan kita harus tahan terhadap caci maki, karena kita bisa jadi kita ini jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki,” katanya.
Dedi berharap agar kejadian intimidasi akibat mengkritik itu tidak Kembali terjadi. Ia pun meminta seluruh jajaran Masyarakat hingga kepala desa melakukan rekonsiliasi.
“Lakukan perbaikan dan pembangunan dan kepada bupati untuk segera menanganinya jangan membiarkan ada tindakan-tindakan intimidatif terhadap kritik,” harapnya.
Kades Sempat DidemoKades Panggalih diketahui sempat didemo oleh warga. Pada 1 Juni 2023 warga mendatangi Bupati Garut yang ketika itu dijabat Rudy Gunawan. Kedatangan mereka untuk menyampaikan keluhan kaitan dengan Kepala Desa yang diduga tidak bekerja dengan baik. Selain itu juga ada dugaan korupsi bantuan untuk warga hingga membuat sejumlah Ketua RW mengundurkan diri serentak.
Para warga mengaku membawa lebih dari seribu tanda tangan yang mayoritas ingin perubahan dan kepala desa dievaluasi.
Sebelum mendatangi Bupati Garut, warga pun mengaku sempat melakukan pertemuan dan evaluasi namun tidak pernah menghasilkan solusi. Bupati Garut pada saat itu mendorong agar dilakukan musyawarah dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Tidak hanya itu, Rudy juga menyebut bahwa ada empat hal yang bisa menghentikan kepada desa, mulai dari habis masa jabatan, meninggal dunia, terjerat kasus hukum, dan mengundurkan diri.




