Menurut proyeksi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah kelahiran di Tiongkok pada tahun 2025 telah turun di bawah 9 juta jiwa. Yang sangat kontras dengan penurunan tajam jumlah bayi baru lahir ini adalah jumlah lulusan perguruan tinggi nasional yang justru mencetak rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu lebih dari 12 juta orang.
Satu turun, satu naik—generasi muda yang terjepit di tengah kondisi ini sedang menjalani sebuah “ketidakcocokan hidup” yang sunyi. Di tengah kelesuan ekonomi Tiongkok dan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan PKT yang keras, kaum muda memilih tidak menikah dan tidak memiliki anak, sepenuhnya kehilangan harapan akan masa depan.
Seorang blogger daratan Tiongkok: “Tidak bekerja, tidak membeli rumah, tidak menikah, tidak punya anak—generasi pasca-2000 yang ‘empat kosong’ seperti ini, coba katakan pada saya, dengan apa lagi kalian mau ‘memanen’ mereka?”
Etindonesia. Memasuki tahun baru, data terbaru PBB menunjukkan bahwa total jumlah kelahiran di Tiongkok sepanjang tahun 2025 hanya 8,71 juta jiwa. Pangsa Tiongkok dalam jumlah kelahiran global untuk pertama kalinya turun di bawah 7%, menandakan bahwa negara ini tengah mempercepat langkahnya memasuki era kelahiran rendah.
Penulis kolom Epoch Times, Wang He, mengatakan: “Dari proyeksi PBB saat ini, kita bisa menarik dua kesimpulan. Pertama, penurunan angka kelahiran di Tiongkok telah menjadi tren jangka panjang. Kedua, memburuknya struktur demografi semakin dalam. Populasi Tiongkok kini sudah mengalami pertumbuhan negatif, dengan tingkat kelahiran yang sangat rendah. Negara ini telah terperangkap dalam jebakan tingkat kelahiran rendah dan tingkat fertilitas total yang rendah.”
Selama empat puluh tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok (PKT) menerapkan kebijakan satu anak dalam jangka panjang, yang menyebabkan ketidakseimbangan serius dalam struktur penduduk. Menurut data resmi PKT, sejak 2022 jumlah kelahiran di Tiongkok mulai mengalami pertumbuhan negatif dan turun di bawah ambang 10 juta. Pada tahun 2024, jumlah kelahiran hanya mencapai 9,54 juta jiwa.
Wang He menambahkan: “Kerusakan yang dilakukan PKT terhadap struktur demografi Tiongkok sudah mencapai tingkat yang tidak dapat diperbaiki. Ini adalah sebuah kejahatan besar. Namun hingga kini, PKT sama sekali tidak pernah menyampaikan permintaan maaf sedikit pun atas kebijakan perencanaan keluarga yang jahat tersebut. Memburuknya situasi demografi Tiongkok sepenuhnya merupakan akibat langsung dari kebijakan jahat PKT ini.”
Sementara jumlah bayi baru lahir terus mencapai titik terendah, data yang dirilis Kementerian Pendidikan PKT menunjukkan bahwa jumlah lulusan perguruan tinggi angkatan 2025 diperkirakan mencapai 12,22 juta orang, kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Ini juga merupakan tahun keempat berturut-turut jumlah lulusan melampaui angka “10 juta”.
Namun, platform pengembangan karier “Zhaopin” menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan pencarian kerja bagi lulusan bergelar magister ke atas telah turun menjadi hanya 44,4%. Banyak lulusan terjebak dalam kondisi “lulus berarti menganggur”. Laporan menyebutkan bahwa fenomena “pendidikan tinggi, pekerjaan rendah” semakin meluas di berbagai daerah di Tiongkok.
Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, istilah “pemuda empat tidak”—yakni tidak pacaran, tidak menikah, tidak membeli rumah, dan tidak memiliki anak—telah menjadi istilah populer di seluruh negeri.
Seorang pemuda Tiongkok mengatakan: “Karena kondisi lingkungan secara keseluruhan memang sangat buruk sekarang. Semua orang sulit mencari pekerjaan. Dengan gaji yang minim saja sudah sulit untuk menghidupi diri sendiri, apalagi punya kemampuan untuk menopang kehidupan baru.”
Analisis menunjukkan bahwa seiring dengan kelesuan ekonomi Tiongkok, suramnya prospek pekerjaan dan karier kaum muda, serta ketidakseimbangan serius dalam struktur demografi, berbagai masalah sosial tak terelakkan akan muncul.
“Situasi terbaru menunjukkan pertumbuhan negatif secara menyeluruh, dan ini sangat berbahaya. Pada akhirnya, jumlah kelahiran akan menjadi sangat kecil, sementara kelompok lansia menjadi sangat besar. Hal ini akan membawa dampak besar terhadap keseimbangan pembangunan ekonomi dan stabilitas sosial secara keseluruhan,” ujar ekonom dari Washington Institute of Information and Strategy, Li Hengqing. (Hui)
Laporan wawancara oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Tang Rui




