Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer yang memicu kontroversi internasional setelah ketegangan kedua negara berlangsung bertahun-tahun lamanya.
Penangkapan yang berlangsung pada Sabtu (3/1/2026) tersebut, terjadi hanya selang beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menghubungi Maduro via sambungan telepon.
Menurut laporan The New York Times yang dilansir dari Reuters, percakapan itu berlangsung pada awal bulan ini dan mencakup pembahasan mengenai kemungkinan pertemuan keduanya di Amerika Serikat. Namun, Trump tidak merinci lebih jauh isi pembicaraannya dengan Maduro.
“Saya tidak akan mengatakan itu berjalan baik atau buruk, itu hanya panggilan telepon,” ujar Trump tentang percakapan tersebut.
Sebelumnya pada Sabtu (29/11/2025), Trump menyatakan bahwa wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela harus dianggap sepenuhnya ditutup, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Ketika ditanya apakah hal itu menandakan serangan terhadap Venezuela akan segera terjadi, Trump hanya menjawab agar hal itu tidak perlu dipikirkan. Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan di Caracas, sedangkan pemerintahannya terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro.
Baca Juga
- Pasca-penangkapan Maduro, PIEP Pastikan Operasional Pertamina di Venezuela Tak Terganggu
- Pasar Minyak Global Tenang Usai Maduro Ditangkap: Chevron Tetap Operasi di Venezuela
- Siap-Siap! Biaya Logistik & Harga BBM Naik Imbas AS Serang Venezuela
Bukan hal baru, ketegangan antara Washington dan Caracas telah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Pasalnya AS menilai Maduro terlibat dalam jaringan kartel narkoba Cartel de los Soles.
Maduro dituding menjadi aktor penyelundupan kokain ke AS selama selama lebih dari 25 tahun dengan bantuan kartel dan teroris regional.
Presiden Venezuela itu dituding bersekongkol dengan kelompok-kelompok termasuk Kartel Sinaloa dan Tren de Aragua, yang semuanya telah ditetapkan oleh AS sebagai organisasi teroris asing.
AS bahkan memasukkan Maduro dalam daftar buronan dan menetapkan sebagai teroris. Washington bahkan menawarkan hadiah senilai US$50 juta (sekitar Rp833 miliar) sebagai imbalan bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Namun, Maduro membantah keras memiliki hubungan dengan perdagangan narkoba.
KronologiPenyergapan Maduro disadari warganya di Caracas, yang melaporkan suara raungan pesawat di udara serta ledakan di sejumlah titik. Dalam rekaman video tampak rudal menghantam target dan helikopter menembakkan roket ke langit sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Kejadian tersebut diikuti dengan pemadaman listrik dilaporkan terjadi di beberapa wilayah. Asap dan api terlihat di Fuerte Tiuna, dekat Kementerian Angkatan Bersenjata, serta di pangkalan udara La Carlota. Ledakan juga dilaporkan terjadi di pelabuhan La Guaira dan fasilitas pasukan keamanan di sekitarnya.
Sementara itu, AS diketahui telah mengerahkan pasukan militernya di kawasan Karibia sejak musim panas. Unit operasi khusus yang menangkap Maduro disebut telah berada di Venezuela sejak awal Desember.
AS meluncurkan pesawat dari sekitar 20 pangkalan darat dan laut di seluruh Belahan Bumi Barat. Operasi tersebut melibatkan pesawat pembom B-1, jet tempur F-22, F-18, F-35, pesawat pengintai E-2, helikopter, serta sejumlah besar drone yang dikendalikan dari jarak jauh.
Pasukan AS tiba di lokasi Maduro sekitar dua jam setelah Trump memberikan perintah. Salah satu pesawat dilaporkan terkena tembakan, tetapi mampu kembali ke pangkalan. Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke USS Iwo Jima, kapal serbu amfibi yang telah dikerahkan ke wilayah tersebut sejak Agustus.
Trump kemudian mengunggah foto Maduro dalam kondisi ditahan, mengenakan pakaian olahraga dan penutup mata, beberapa menit sebelum menggelar konferensi pers.
Trump menegaskan bahwa penggulingan Maduro mungkin bukan akhir dari operasi AS. Dia menyatakan Washington tidak ragu mengerahkan pasukan darat dan telah menyiapkan rencana serangan yang lebih besar apabila pemerintahan pengganti Maduro dinilai tidak kooperatif.
Dampak Penangkapan MaduroPenangkapan Maduro memunculkan kekhawatiran akan harga minyak dunia, mengingat Venezuela menjadi negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
“Jika benar [penangkapan Maduro], operasi ini dapat memengaruhi distribusi minyak dari Venezuela yang memiliki cadangan terbesar di dunia,” kata seorang analis pasar energi yang dikutip oleh Bloomberg.
Meski kontribusi Venezuela terhadap pasokan global relatif terbatas, gangguan distribusi akibat ketegangan politik dapat mendorong harga minyak naik sementara investor menyesuaikan ekspektasi terhadap pasokan.
Kondisi ini diperparah oleh surplus dari OPEC+ dan pesaing lainnya, serta laporan American Petroleum Institute yang menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah hingga 1,7 juta barel minggu lalu. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah juga ikut menambah risiko geopolitik.
Meski gejolak terjadi, produsen minyak AS, Chevron Corp., tetap beroperasi di Venezuela di bawah pengecualian sanksi pemerintah Trump.
Sementara PT Pertamina (Persero) memastikan aset dan blok minyak dan gas (migas) di Venezuela tak terdampak oleh eskalasi politik yang tengah terjadi di negara tersebut.
Ambisi AS Kuasai Minyak VenezuelaAmerika Serikat (AS) disebut bakal menggelontorkan anggaran miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak mentah Venezuela. Hal itu disampaikan Presiden AS Donald Trump beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS, Sabtu (3/1/2025) waktu setempat.
Trump menyebut bakal segera mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi di Venezuela.
"Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini," kata Trump dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, Trump menyebut bahwa embargo AS terhadap seluruh minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa pasukan militer AS akan tetap berada di posisinya sampai tuntutan AS dipenuhi sepenuhnya.
"Armada Amerika tetap siaga di posisinya, dan AS mempertahankan semua opsi militer hingga tuntutan Amerika Serikat sepenuhnya dipenuhi dan dipuaskan," katanya.
Adapun satu-satunya perusahaan AS yang saat ini beroperasi di ladang minyak Venezuela adalah Chevron. Perusahaan itu memproduksi minyak mentah yang digunakan oleh kilang-kilang di Pantai Teluk AS dan kilang-kilang lainnya.
Francisco Monaldi, Direktur Program Energi Amerika Latin di Baker Institute Universitas Rice di Houston, mengatakan bahwa Chevron berada pada posisi yang paling diuntungkan dari potensi pembukaan sektor minyak di Venezuela.
Namun demikian, dia mengatakan bahwa perusahaan minyak AS lainnya akan memperhatikan dengan saksama stabilitas politik. Perusahaan minyak AS lain juga tengah menunggu untuk melihat bagaimana lingkungan operasional dan kerangka kontrak berkembang.
"Perusahaan yang kemungkinan besar akan sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari US$10 miliar dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke negara itu," katanya.
Selain itu, Exxon juga bisa kembali, tetapi piutang mereka tidak sebanyak itu. "Exxon, Conoco, dan Chevron, ketiganya tidak akan khawatir untuk berinvestasi dalam minyak mentah, mengingat minyak tersebut sangat dibutuhkan di Amerika Serikat dan mereka kurang fokus pada dekarbonisasi," imbuh Monaldi.



