Di era digital, kritik dan saran hadir nyaris tanpa jeda, terutama melalui media sosial dan ruang publik daring. Tidak semua kata yang disebut “kritik” benar-benar bertujuan memperbaiki, dan tidak semua “saran” disampaikan dengan cara yang tepat. Dalam banyak percakapan, perbedaan keduanya sering kali kabur, terutama ketika bahasa yang digunakan kehilangan empati.
Dalam keseharian, kata “kritik” dan “saran” sering digunakan secara bergantian, seolah keduanya memiliki makna dan dampak yang sama. Padahal, dalam praktiknya, perbedaan antara kritik dan saran kerap ditentukan bukan oleh niat, melainkan oleh bahasa yang digunakan. Satu kalimat yang dimaksudkan sebagai masukan bisa diterima dengan lapang, atau justru memicu penolakan, tergantung bagaimana ia disampaikan.
Kritik biasanya dipahami sebagai penilaian terhadap kesalahan atau kekurangan, sementara saran diasosiasikan dengan upaya membantu dan memperbaiki. Namun, batas itu tidak selalu jelas. Kritik yang disampaikan dengan nada merendahkan, pilihan kata yang tajam, atau tanpa konteks yang memadai sering kali terasa seperti serangan personal. Sebaliknya, kritik yang dibungkus dengan bahasa yang empatik dan berorientasi solusi dapat diterima sebagai saran yang membangun. Di sinilah bahasan memainkan peran penting sebagai penentu makna dan rasa.
Dalam ruang publik daring, terutama media sosial, persoalan ini semakin kompleks. Banyak pendapat dilontarkan atas nama “kritik”, tetapi kehilangan etika berbahasa. Kalimat-kalimat yang singkat, frontal, dan minim penjelasan mudah disalahartikan, bahkan ketika niat awalnya baik. Akibatnya, diskusi berubah menjadi perdebatan emosional, dan substansi yang seharusnya dibahas justru tenggelam oleh konflik personal.
Bahasa sejatinya bukan sekadar alat untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga cerminan sikap dan kedewasaan dalam berdialog. Mengkritik tidak berarti bebas mengabaikan perasaan orang lain, sebagaimana memberi saran tidak cukup hanya dengan niat baik tanpa cara yang tepat. Pilihan kata, struktur kalimat, dan konteks penyampaian menentukan apakah sebuah pesan akan membuka ruang dialog atau menutupnya rapat-rapat.
Pada akhirnya, perbedaan antara kritik dan saran memang tipis, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Di tengah kebebasan berpendapat yang semakin luas, kemampuan menggunakan bahasa secara bijak menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Sebab, kritik yang baik bukan hanya soal apa yang disampaikan, melainkan bagaimana bahasa digunakan untuk menjaga martabat, membangun pemahaman, dan mendorong perubahan yang lebih sehat.



