Sikap Bodo Amat Penting untuk Bertahan Hidup, Ini 4 Cara Agar Efektif

cnbcindonesia.com
2 hari lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi (Designed by rawpixel.com / Freepik)
Dafar Isi
  • 1. Menyadari Beban Berpikir Kritis
  • 2. Perhatian adalah Sumber Daya Langka
  • 3. Bahaya "True Enough"
  • 4. Manfaatkan Internet untuk Melawan Diri Sendiri

Jakarta, CNBC Indonesia - Critical ignoring atau mengabaikan secara kritis disebut menjadi keterampilan bertahan hidup di tahun 2026. Ini dikarenakan informasi yang begitu melimpah dan tak berkualitas sehingga menjadi kebisingan.

Jika diibaratkan ekosistem, internet adalah sungai yang tercemar berisi sampah, mikroplastik, hingga bahan kimia berbahaya.


Baca: Pakar Beberkan 9 Tanda Orang Tua yang Anaknya Bakal Sukses Besar

Critical ignoring dikenalkan oleh Sam Wineburg, seorang profesor emeritus pendidikan di Universitas Stanford, pada 2021. Istilah bukan berupa pengabaian total, melainkan pengabaian setelah seseorang memeriksa beberapa tanda awal.

"Kami menganggapnya sebagai kewaspadaan terus-menerus terhadap kerentanan diri kita sendiri," ungkap Wineburg dikutip The Wall Street Journal, Minggu (4/1/2026).

Critical ignoring bermula dari penelitian tentang bagaimana keterampilan pemeriksa fakta profesional dapat diajarkan kepada anak-anak di sekolah. Baik anak-anak maupun orang dewasa, mereka membutuhkan kemampuan untuk dengan cepat mengevaluasi kebenaran suatu pernyataan dan keandalan sumbernya.

Berikut Cara Mempraktikkan Critical Ignoring sebagai Bekal di 2026

1. Menyadari Beban Berpikir Kritis

Orang cerdas cenderung terlibat secara mendalam dengan sedikit informasi yang tersedia. Di era internet, hal itu telah menjadi jebakan.

Rasa ingin tahu, naluri untuk bergosip, dan kecanduan pada drama mendorong manusia untuk menghabiskan lebih banyak waktu mengonsumsi hal-hal yang tidak penting di internet daripada yang seharusnya.

Wineburg menyarankan perlunya menginvestasikan pemikiran kritis pada sumber-sumber yang seharusnya diabaikan sejak awal. Sehingga perhatian tidak terjebak pada informasi-informasi tak berguna.

2. Perhatian adalah Sumber Daya Langka

Studi pada 2021 menemukan bahwa hanya 30 menit menggulir layar ponsel sudah membuat kita lelah secara psikologis, bahkan mengurangi kemampuan berolahraga. Sebuah makalah pada 2022 menyimpulkan bahwa setengah jam penggunaan media sosial sebelum latihan menyebabkan kelelahan mental yang cukup untuk memengaruhi koordinasi mata dan tangan pemain voli elit.

Masalah mengelola perhatian kita di tengah gempuran media memunculkan solusi, termasuk ponsel dengan fitur yang lebih sederhana.

Namun, solusi paling sederhana adalah melakukan penyesuaian diri, yaitu mengatur konsumsi media dan kebiasaan menggulir layar untuk mengurangi waktu yang dihabiskan demi menangkis sampah dan informasi tidak penting di internet.

Salah satu taktik mudahnya adalah menentukan terlebih dahulu berapa banyak waktu yang ingin dihabiskan di depan layar, lalu bikin pengatur waktu.

3. Bahaya "True Enough"

Walter Quattrociocchi, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Sapienza Roma menyebut chatbot atau AI memiliki kecenderungan untuk berbohong. Model bahasa besar AI generatif yang mendukung chatbot telah dilatih untuk memberikan hasil yang meyakinkan.

Quattrociocchi menambahkan hal ini sangat berbeda dari kemampuan untuk mengkonfirmasi apakah sesuatu itu benar-benar nyata. Seseorang sedang dibujuk untuk menerima "true enough" sebagai pengganti kebenaran sesungguhnya dan seseorang kehilangan kebiasaan memverifikasi informasi sendiri.

4. Manfaatkan Internet untuk Melawan Diri Sendiri

Menemukan kebenaran dalam lanskap media kita membutuhkan alat yang bahkan belum ada beberapa tahun yang lalu. Ketika menemukan klaim baru, mundurlah selangkah dan gunakan pencarian cepat untuk menemukan apa yang dikatakan orang lain tentang hal itu.

Pengguna juga dimungkinkan memanfaatkan AI untuk memeriksa klaim yang dibuat oleh manusia dan AI lainnya di internet.

Mungkin terdengar paradoks menggunakan AI untuk melawan AI. Tetapi, menggunakan teknologi untuk membersihkan kekacauan yang dibuat oleh teknologi sebelumnya justru adalah apa yang selalu orang lakukan.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Usai Beroperasi 401 Tahun, Pos Denmark Setop Pengiriman Surat

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemdiktisaintek Satukan Arah Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Pengamat Soroti Penunjukan John Herdman sebagai Pelatih Timnas Indonesia: Keputusan Tepat, tetapi...
• 11 jam lalubola.com
thumb
Hutama Karya Catat 2,49 Juta Kendaraan Melintas di Tol Trans Sumatera Saat Nataru
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Piala Afrika 2025: Mesir dan Nigeria Lolos ke Babak 8 Besar
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Prabowo: Kita Berada di Jalan Benar, Suci, yang Diridoi Tuhan
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.