Sebagai salah satu sumber energi terbarukan, panas bumi mampu menyediakan listrik yang andal dan bersih. Namun, pengembangannya masih tergolong lambat, dengan tingkat pemanfaatan baru sekitar 10 persen dari total potensi panas bumi Indonesia. Karena itu, salah satu upaya untuk mengatasi tantangan tersebut adalah mengoptimalkan inovasi teknologi, khususnya yang dapat meningkatkan efektivitas dan akurasi pada tahap eksplorasi.
Mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Indonesia sebesar 2.744 megawatt (MW) atau menjadi negara kedua terbesar setelah Amerika Serikat dengan kapasitas 3.937 MW. Energi panas bumi dari Indonesia pun masih berpotensi berkembang karena kapasitas terpasang saat ini baru sekitar 10 persen dari potensi yang ada.
Selama ini, salah satu hal yang menjadi tantangan pengembangan panas bumi ialah besarnya kebutuhan investasi, yang disertai risiko tinggi dalam eksplorasi, serta masih terbatasnya teknologi. Pada akhirnya, hal tersebut memengaruhi keekonomian dalam suatu proyek PLTP di Indonesia.
Di tengah tantangan tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berinovasi melalui Petro-MAX: A Novel Thin Section Preparation Method to Enhance Petrographic Quality of Clayish Geothermal Rocks. Inovasi itu memadukan resin epoxy (bahan kimia) dan pelarut methyl ethyl ketone untuk menghasilkan lapisan polimer tipis yang meresap ke struktur mineral. Lewat inovasi itu, analisis pada batuan panas bumi menjadi lebih jelas dan turut mengurangi ketidakpastian.
Inovasi tersebut diikutkan PGE pada Seoul International Invention Fair (SIIF) 2025 di Seoul, Korea Selatan, pada 3-6 Desember 2025. Dalam ajang tersebut, PGE meraih medali emas serta Special Prize dari Korea Invention Promotion Association (KIPA).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan, selain memperkuat daya saing industri panas bumi Indonesia, capaian tersebut juga membuka pintu promosi teknologi unggulan ke pasar internasional. Lebih jauh, diharapkan akan hadir berbagai inovasi lain yang relevan, aplikatif, dan memberikan nilai tambah bagi pengembangan panas bumi nasional.
”Eksplorasi panas bumi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya risiko pengeboran hingga kondisi geologi yang rumit. Pada tahap inilah inovasi seperti Petro-MAX berperan penting, karena mampu meningkatkan akurasi analisis dan mendukung pengambilan keputusan teknis di setiap fase proyek,” kata Edwil, melalui keterangan tertulis, Jumat (2/1/2026).
Data Kementerian ESDM menunjukkan, hingga semester I-2025, total kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan mencapai 15,2 gigawatt (GW) atau 14,5 persen dari total pembangkit. Artinya, energi fosil, seperti batubara, minyak bumi, dan gas bumi, yang selama ini menopang ketahanan energi masih dominan.
Adapun target tinggi dipasang pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam meningkatkan realisasi kapasitas pembangkit energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, ditargetkan ada penambahan 69,5 GW dalam 10 tahun ke depan. Sebesar 76 persen di antaranya akan berasal dari energi baru terbarukan.
Upaya lain dalam mengoptimalkan panas bumi di Indonesia ialah melalui inisiatif modernisasi. Pada 2025, Star Energy Geothermal (SEG), anak usaha Barito Renewables, bekerja sama dengan ABB, perusahaan multinasional di bidang teknologi, melakukan modernisasi pada PLTP Wayang Windu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dengan kapasitas 230,5 MW. Pada Unit 1 dan 2 PLTP tersebut, ABB menghadirkan sistem kendali yang lebih tangguh dan andal.
SEG dan ABB juga tengah mengembangkan Unit 3 PLTP Wayang Windu dengan teknologi Symphony Plus. Sistem ini dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi dan keandalan pembangkit melalui otomasi sehingga diharapkan mampu memaksimalkan produksi energi dari seluruh unit pembangkit.
”SEG ada di posisi yang sangat baik untuk mendukung perjalanan transisi energi. Dengan pengalaman puluhan tahun, kami berkomitmen untuk membuka potensi panas bumi. Melalui kemitraan dengan pemimpin teknologi global seperti ABB, kami memanfaatkan solusi yang telah teruji untuk mempercepat langkah menuju masa depan rendah karbon bagi Indonesia,” ucap Group CEO Star Energy Geothermal Hendra Soetjipto Tan, Jumat (19/12/2025).
Sementara itu, salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat pengembangan panas bumi ialah dengan melakukan pemangkasan sejumlah regulasi. Dengan demikian, diharapkan tak ada lagi birokrasi yang berbelit-belit, termasuk dalam perizinan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menuturkan, pemerintah juga akan mendukungnya dengan rencana pembangunan infrastruktur kelistrikan total sepanjang 48.000 kilometer sirkuit (kms), yang juga tertuang dalam RUPTL 2025-2034. ”Ini bentuk komitmen dalam mendorong pembangunan energi baru terbarukan,” katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sejauh ini, optimisme terhadap pengembangan energi terbarukan juga disuarakan Presiden Prabowo Subianto di sejumlah forum internasional. Salah satunya terkait ambisi Indonesia untuk menggunakan 100 persen energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan, yang disampaikan saat kunjungan ke Brasil pada Juli 2025. Namun, dengan tantangan yang ada, sejumlah pihak menilai target tersebut tidak mudah direalisasikan dan layak untuk dikaji secara lebih realistis.
Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra S, menyatakan, pihaknya menyambut baik komitmen Presiden terkait percepatan pemanfaatan energi terbarukan. Namun, belum terlihat adanya transparansi dari pernyataan-pernyataan tersebut, termasuk kejelasan dokumen perencanaan yang disiapkan. Tanpa landasan yang terbuka dan terukur, komitmen itu dikhawatirkan berhenti pada tataran wacana.
”Yang kita butuhkan transparansi seperti dari mana angka-angka tersebut (mencapai 100 persen energi terbarukan pada 2035) muncul? Bagaimanapun, ini menjadi sinyal bagi investor, tetapi tetap perlu didukung dokumen formalnya seperti apa,” ujar Alvin.
Aksi dan implementasi atas apa yang ditargetkan, imbuh Alvin, penting. Menurut dia, salah satu hal utama yang penting dalam pengembangan energi terbarukan ialah konsistensi dalam mengejar target yang sudah ditetapkan. Termasuk di dalamnya bagaimana koordinasi lintas kementerian bisa matang guna mewujudkan target-target tersebut.




