2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: Infografis/INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI RI /Aristya Rahadian Krisabella
  • Dunia menatap 2026 dengan sikap lebih optimis sejalan meredanya ketidakpastian 
  • IHSG diramal tembus 10000 sementara nilai tukar rupiah masih tertekan
  • Harga emas diramal masih berkilau sedangkan batu bara kian merana

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melewati banyak "drama" di 2025, dunia menatap 2026 dengan lebih optimis. Ketidakpastian global diharapkan sedikit mereda pada tahun ini.

Untuk menyambut lembaran baru 2026, CNBC Indonesia hari ini menghadirkan edisi khusus membahas prospek ekonomi 2026.  Prospek tersebut akan dilihat dari berbagai sudut mulai dari kerangka ekonomi global dan nasional dari kebijakan fiskal dan moneter.

Bagaimana dampak perkembangan global dan nasional terhadap pergerakan rupiah, bursa saham, dan harga komoditas tahun ini selengkapnya bisa dibaca pada halaman 1-7 artikel ini.

Menilik kembali ke tahun lalu, 2025 menjadi salah satu periode paling bergejolak dalam tatanan ekonomi global dan nasional. Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membawa dunia ke dalam periode yang penuh huru hara dan drama.

Contoh paling nyata adalah ambruknya bursa saham global di awal April 2025 setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif. Tarik ulur Trump dengan kebijakan tarifnya adalah drama terpanas tahun ini.

Lonjakan harga emas dan perak menjadi cerminan akan kepercayaan dunia terhadap sistem ekonomi tengah runtuh, termasuk karena AS. Geopolitik global juga memanas karena situasi di Timur Tengah, konflik Kamboja-Thailand hingga China versus Taiwan.

Belum lagi, banyaknya bencana alam juga menyadarkan warga dunia, termasuk Indonesia, mengenai dampak nyata perubahan iklim. Tahun 2025 adalah tahun di mana Asia menjadi pusat bencana bertubi-tubi dari banjir hingga topan.

Meninggalkan 2025, dunia setidaknya bisa bernafas sedikit lega dengan berkurangnya ketidakpastian dan konflik geopolitik.

Suku bunga jauh lebih rendah dibandingkan awal 2025 sementara inflasi dunia juga lebih terkendali. Kondisi ini menjadi salah satu alasan Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas ekonomi global.


(mae/mae)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Bupati Bekasi, KPK: Beni Saputra Diduga Terima Aliran Uang
• 11 jam laluidntimes.com
thumb
RI Larang Impor Daging Babi dari Spanyol, Wabah Penyakit Melanda Barcelona
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Strong Point di Jam Pulang Kantor, Satlantas Polres Pelabuhan Makassar Urai Kemacetan Malam Hari
• 11 jam laluharianfajar
thumb
SPBU Shell Cs Boleh Impor BBM Lagi, Kuota 2026 Ditambah
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Bank Jateng Sabet Penghargaan Bank Daerah Terpopuler 2025
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.