Bahasa Daerah: Tempat Pulang Paling Nyaman Saat Dunia Lagi Capek-capeknya

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Pernah nggak sih, setelah seharian kerja atau kuliah habis-habisan, terus kamu nggak sengaja dengar orang di angkot atau di jalan ngomong pakai bahasa daerah asalmu? Rasanya tuh kayak tiba-tiba ada yang nepuk pundak terus bilang, "Sabar ya, kamu nggak sendirian."

Padahal kamu nggak kenal orang itu. Tapi, dengar logat atau dialek yang sama saja sudah bikin hati rasanya adem.

Kenapa Bahasa Inggris Aja Enggak Cukup?

Zaman sekarang, kita mungkin fasih banget bilang "I'm so exhausted" atau "I need a break". Kedengarannya keren, modern, dan profesional. Tapi jujur deh, kata-kata itu seringkali cuma berhenti di tenggorokan. Rasanya nggak sampai ke ulu hati.

Beda ceritanya kalau kita ngomong—misalnya dalam bahasa Jawa—"Duh, lungkrah banget awakku," atau dalam bahasa Sunda, "Aduh, meni rungsing kieu." Ada semacam getaran emosi yang cuma dimengerti oleh kita dan akar budaya kita. Bahasa daerah itu punya "frekuensi" yang langsung nyambung sama perasaan paling dalam.

Shortcut Buat Jadi Diri Sendiri

Di kantor atau lingkungan pergaulan, kita sering pakai "topeng". Harus ngomong pakai bahasa Indonesia yang rapi atau bahasa Inggris yang tertata biar dianggap kompeten. Capek, kan?

Nah, bahasa daerah itu adalah shortcut atau jalan pintas buat kita jadi diri sendiri. Begitu kita ngomong pakai bahasa ibu, semua beban formalitas itu luruh. Kita nggak perlu mikir tata bahasa yang ribet. Kita cuma perlu mengekspresikan apa yang dirasa. Itulah kenapa bahasa daerah sering jadi "ruang aman" buat kita yang lagi mumet sama tuntutan dunia.

Bukan Kampungan, Tapi Akar

Sayangnya, masih ada yang anggap pakai bahasa daerah itu kampungan. Padahal, bahasa daerah itu identitas. Itu adalah memori tentang masakan ibu, tentang candaan sama teman masa kecil, dan tentang rumah yang jauh di sana.

Di tengah dunia yang makin serba cepat dan seringkali terasa dingin, bahasa daerah adalah selimut hangatnya. Ia mengingatkan kita dari mana kita berasal, sebelum kita sibuk jadi "siapa-siapa" di perantauan.

Jadi, kalau hari ini kamu lagi ngerasa capek banget sama dunia, coba deh telepon orang rumah. Ngobrol pakai bahasa daerah yang paling medok sekalian. Rasakan gimana kata-kata sederhana itu pelan-pelan menyembuhkan lelahmu. Karena pada akhirnya, bahasa daerah adalah tempat pulang yang nggak pernah mengusir kita.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bupati Samosir Dilaporkan ke Kejaksaan, Terkait Dugaan Korupsi Bansos PENA
• 9 jam lalurealita.co
thumb
Cuaca Ekstrem Masih Mengintai, Pemprov Jatim Lanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Gejolak Venezuela
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Geruduk Disnakertrans Jabar, Demo Buruh Tolak Kebijakan Gubernur Soal UMSK Bakal Dilanjutkan ke Istana Jakarta
• 11 jam laludisway.id
thumb
Konflik AS-Venezuela: INDEF Desak Pemerintah Mitigasi Risiko Lonjakan Subsidi Energi
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.