Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan mitra-mitranya atau OPEC+ memutuskan tetap menahan kenaikan pasokan minyak pada kuartal I/2026 di tengah ancaman surplus global dan ketidakpastian dampak geopolitik menyusul langkah Amerika Serikat yang menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro.
Melansir Bloomberg pada Senin (5/1/2026), negara-negara kunci OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia sepakat mempertahankan tingkat produksi hingga akhir Maret 2026. Keputusan tersebut menegaskan kembali kebijakan yang telah diambil sejak November 2025 lalu untuk menghentikan rangkaian kenaikan produksi yang agresif sepanjang tahun sebelumnya.
Sejumlah delegasi menyebut isu Venezuela tidak dibahas dalam konferensi video singkat berdurasi sekitar 10 menit pada Minggu (4/1/2026) waktu setempat. Menurut mereka, masih terlalu dini untuk menilai respons yang tepat terhadap situasi yang terus berkembang.
OPEC+ kini menghadapi beragam tantangan. Harga minyak mentah berada di dekat level terendah dalam hampir empat tahun terakhir, sementara banyak proyeksi memperkirakan kombinasi pasokan melimpah dan permintaan yang lemah berpotensi memicu kelebihan pasokan terbesar sepanjang sejarah.
Gejolak politik besar di Venezuela, yang merupakan negara anggota OPEC, akhir pekan ini menjadi tekanan geopolitik terbaru, menyusul ketegangan lain yang membentang dari Rusia hingga Yaman, yang turut membayangi prospek pasar energi global.
“Dalam kondisi pasar yang rapuh seperti ini, OPEC+ memilih bersikap hati-hati dan menjaga fleksibilitas, ketimbang menambah ketidakpastian baru di pasar yang sudah sangat volatil. Transisi politik di Venezuela menambah lapisan ketidakpastian yang signifikan," ujar analis Rystad Energy AS, Jorge Leon.
Baca Juga
- Dampak Krisis Venezuela bagi RI: dari harga Minyak, Yield SBN hingga Ekspor
- Donald Trump: Perusahaan Minyak AS Akan Masuk ke Venezuela setelah Maduro Ditangkap
Presiden AS Donald Trump menyatakan perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat akan menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang telah lama terbengkalai.
Namun, para analis energi menilai tidak akan ada perubahan besar dalam ekspor minyak Venezuela dalam waktu dekat. Trump juga menegaskan sanksi terhadap minyak mentah Venezuela tetap diberlakukan.
Meski menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, Venezuela telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksinya akibat bertahun-tahun kekurangan investasi, salah kelola, dan isolasi internasional.
Saat ini, Venezuela memproduksi sekitar 800.000 barel minyak per hari, hanya sekitar sepertiga dari tingkat produksi satu dekade lalu dan kurang dari 1% pasokan global. Langkah Washington yang menyita dan mengejar kapal tanker, sembari menekan rezim Maduro, turut memangkas produksi di kawasan strategis Sabuk Orinoco hingga 25%.
Produksi diperkirakan bisa naik sekitar 150.000 barel per hari dalam beberapa bulan jika sanksi dicabut. Namun, untuk kembali ke level 2 juta barel per hari atau lebih dibutuhkan reformasi besar-besaran serta investasi masif dari perusahaan minyak internasional, menurut konsultan Kpler.
Ancaman geopolitik lain yang membelit negara-negara OPEC+ juga masih membara. Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—dua kekuatan utama koalisi di Timur Tengah—meningkat akibat dukungan mereka terhadap faksi yang berseberangan dalam konflik Yaman. Pekan lalu, koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok saingan yang didukung UEA.
Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi terhadap produsen utama Rusia pascainvasi Ukraina, konflik yang turut mengganggu arus pasokan dari Kazakhstan, sesama anggota OPEC+. Pada Jumat pekan lalu, Trump bahkan berjanji akan menyelamatkan para demonstran di Iran, yang diguncang gelombang protes setelah nilai mata uangnya anjlok ke rekor terendah.
Meski demikian, pasar minyak global untuk saat ini masih relatif tercukupi. Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris memproyeksikan surplus minyak dunia akan mencapai rekor pada 2026 seiring melonjaknya pasokan dari OPEC+ dan pesaingnya, sementara pertumbuhan permintaan melambat. Perusahaan perdagangan Trafigura Group bahkan memperingatkan potensi terjadinya “super glut”.
Harga minyak berjangka Brent ditutup di bawah US$61 per barel pada Jumat pekan lalu, setelah anjlok 18% sepanjang tahun lalu—penurunan tahunan terbesar sejak pandemi 2020. Produksi di Amerika Serikat, Guyana, Brasil, dan Kanada terus meningkat, sementara permintaan di konsumen utama seperti China melambat.
Pada April 2025 lalu, Riyadh dan mitranya sempat mengejutkan pelaku pasar dengan kembali menggenjot produksi yang sebelumnya dihentikan sejak 2023, meski pasar dinilai telah kelebihan pasokan. Sejumlah delegasi menyebut langkah tersebut bertujuan merebut kembali pangsa pasar yang dalam beberapa tahun terakhir direbut oleh pesaing seperti produsen shale oil AS.
Sebelum jeda terbaru ini, OPEC+ secara resmi menyepakati pemulihan sekitar dua pertiga dari total 3,85 juta barel per hari produksi yang dihentikan sejak 2023. Masih tersisa sekitar 1,2 juta barel per hari yang belum dikembalikan ke pasar.
Namun demikian, realisasi penambahan produksi lebih kecil dari rencana karena sejumlah negara kesulitan meningkatkan kapasitas, sementara negara lain masih harus menebus kelebihan produksi sebelumnya.
Delapan negara anggota OPEC+ yang terlibat dalam pemulihan produksi tersebut dijadwalkan menggelar konferensi video bulanan berikutnya pada 1 Februari.




