Survei Ungkap Banyak Pengurus Koperasi Desa Merah Putih Kebingungan, Ada Apa?

viva.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Survei dari Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia membeberkan bahwa masih banyak pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang kebingungan mau bisnis apa. Mereka kebingungan menentukan arah usaha koperasi.

Human Rights Manager DFW Indonesia Luthfian Haekal mengungkapkan,  dalam survei yang dilakukan pada Oktober—November 2025 terhadap 146 responden di 19 provinsi itu. Menunjukkan, sebanyak 92 persen pengurus mengaku telah memiliki rencana usaha, tetapi sekitar 56 persen belum memiliki mitra pemasaran.

Baca Juga :
Prabowo: Di Tengah Gejolak Perang Dimana-mana, Kita Harus Bersyukur Indonesia Damai
Kapolri Ungkap Survei Kepercayaan Publik Terhadap Polri Alami Tren Positif

“Hal ini menimbulkan planning fallacy institusional atau kesesatan berpikir dalam perencanaan,” kata dia dalam diseminasi hasil survei Tata Kelola Koperasi Desa Merah Putih secara daring dari Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026.

Dia mengatakan, rencana usaha yang disusun pengurus koperasi lebih banyak ditujukan untuk memenuhi desain program. Tetapi, belum ditopang oleh kesiapan pasar maupun jejaring ekonomi.

Survei juga mencatat 42,3 persen responden menyatakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) hanya berfungsi sebagai kelengkapan administrasi, bukan rujukan operasional. Bahkan, 30,9 persen koperasi tidak memiliki AD/ART sama sekali.

Dari sisi kapasitas sumber daya manusia, 66 persen pengurus koperasi belum pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Di antara yang pernah mengikuti pelatihan, 62,8 persen belum menerima materi teknis manajemen koperasi dan keuangan.

Haekal menegaskan meski Kopdes Merah Putih memiliki legitimasi formal dan dukungan negara, fondasi kelembagaannya masih lemah dan cenderung administratif.

“Ke depan, koperasi diharapkan tidak sekadar menjadi instrumen kepatuhan kebijakan. Pendampingan harus berkelanjutan, tidak berhenti pada pelatihan jangka pendek, tetapi disertai peningkatan literasi dan perencanaan kelembagaan yang matang,” ujarnya.

Sementara itu, fasilitator lapangan DFW Indonesia Sitti Monira Fyenci Laya menuturkan bahwa ketika ia turun ke lapangan untuk melakukan survei ini, ditemukan sejumlah Kopdes Merah Putih di Sulawesi Utara belum memiliki mekanisme jelas terkait jenis usaha yang akan dijalankan.

“Contohnya di Batu Putih, Kota Bitung, pengurus koperasi masih berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk menentukan bentuk koperasi, meski bangunan sudah dirancang untuk membuka gerai penjualan produk lokal seperti ikan dan abon,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, pendamping bisnis atau business assistant Kopdes Merah Putih di Maluku Herman Nurleteh menilai kebingungan pengurus koperasi juga dipengaruhi oleh regulasi yang tumpang tindih.

Baca Juga :
Pamer Hasil Survei, Kapolri Minta Jajaran Terus Berbenah-Tak Puas Diri
82,4 Persen Publik Puas! Begini Penilaian Masyarakat pada Pemerintahan Prabowo Berdasar Survei ISC
Legislator Golkar: UMP 2026 Harus Jaga Daya Beli dan Keberlanjutan Usaha

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bungkam Sassuolo 3-0, Juventus Kembali ke Empat Besar dan Tempel Ketat Inter Milan
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Warga Australia Diminta Tinggalkan Iran yang Dilanda Demo Besar
• 8 jam laludetik.com
thumb
Atasi Banjir Menahun di Cibuluh, Pemkot Bogor Siapkan Strategi Khusus
• 1 jam laluidntimes.com
thumb
Hyundai Luncurkan Creta Alpha Terbaru, Harga Dibanderol Rp455 Juta
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Kepala BPBD Kini Tak Lagi Dijabat Sekretaris Daerah
• 17 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.