EtIndonesia. Pada 3 Januari waktu setempat, kabar serangan mendadak militer Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan hidup-hidup Presiden Nicolás Maduro mengguncang dunia. Di saat yang sama, banyak warganet Tiongkok ikut bereaksi keras, bahkan berharap militer AS segera menangkap pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping.
Sejumlah komentar bernada satir bermunculan, di antaranya:“Rakyat Tiongkok sudah antre begitu lama sampai kaki mati rasa. Amerika, cepatlah bergerak!”
Masih pada 3 Januari, Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah berhasil melancarkan operasi terhadap Venezuela, menangkap Maduro beserta istrinya, dan membawa mereka keluar dari wilayah Venezuela.
Pada hari yang sama, Maduro dan istrinya diterbangkan ke New York. Dalam tayangan yang beredar, Maduro terlihat mengenakan borgol kaki saat turun dari pesawat, sebelum kemudian diangkut menggunakan helikopter ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn untuk menjalani penahanan.
Hal yang menjadi sorotan adalah bahwa sebelum penangkapan terjadi, delegasi resmi Tiongkok sempat melakukan pertemuan tertutup selama berjam-jam dengan Maduro. Pemerintah Tiongkok sendiri kerap menyebut para pemimpin otoriter seperti Maduro sebagai “sahabat lama”. Setelah kabar penangkapan itu tersebar, reaksi di kalangan diaspora dan komunitas Tionghoa di dalam maupun luar negeri pun langsung meledak.
Di platform Douyin, banyak warganet Tiongkok memuji kekuatan militer AS, dengan komentar seperti: “Menangkap seorang presiden lebih cepat daripada menangkap anak ayam. Luar biasa!”
Sebagian lainnya menyindir pendekatan militer AS yang dinilai berbeda jauh dengan gaya Beijing, dengan mengatakan bahwa Amerika tidak mengandalkan latihan pamer kekuatan atau retorika kosong, melainkan bertindak cepat dan tegas:
- “Tidak ada latihan, tidak ada peribahasa—langsung ditangkap.”
- “Setiap hari menertawakan orang lain, eh ternyata kuatnya mengerikan.”
Ada pula warganet yang mendorong Trump agar ‘lebih murah hati’, dengan komentar bernada sarkas: “Pak Trump, sekalian saja tangkap beberapa diktator lagi. Kalau sudah cukup satu meja, barulah dunia benar-benar damai!”
Di komunitas berbahasa Mandarin di platform X, komentar bernada satir dan provokatif semakin ramai, antara lain:
- “Rakyat Tiongkok sudah antre lama, kaki sampai mati rasa. Amerika, cepatlah!”
- “Bukankah ‘200 jin’ (julukan Xi Jinping) dagingnya lebih banyak? Kapan ditangkap?”
- “Menunggu adegan ini terjadi di Tiongkok! Tangkap hidup-hidup Xi Jinping, adili Xi Jinping!”
- “Inilah suara hati mayoritas rakyat Tiongkok.”
Pada 4 Januari, seorang pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, menulis di platform X bahwa penangkapan Maduro membuat Xi Jinping memasuki fase ketakutan ekstrem.
Dia mengklaim: “Hari ini beredar kabar di Beijing bahwa Xi Jinping mulai memperketat sistem pengamanan pribadinya. Basis-basis militer di sekitar Beijing menunjukkan pergerakan pasukan dengan frekuensi tinggi, dan kemungkinan besar banyak sistem bunker bawah tanah di sekitar ibu kota juga mulai diaktifkan.”(jhn/yn)





