FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), Dede Budhyarto bicara soal penjilat yang sebenarnya.
Ini merupakan sindiran ke tokoh-tokoh politik yang lancar atau paling lantang memberikan suara kritikan ke Pemerintahan.
Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Dede Budhyarto membagi ke dua tipe.
Ia menyebut ada mantan pejabat yang ketika masa jabatannya selesai, lebih memilih diam.
Mantan pejabat yang seperti inilah yang disebut Dede menjaga integritas & etika kenegaraan.
Beberapa nama mantan pejabat sekaligus tokoh-tokoh politik pun disebutnya sebagai contoh.
“Banyak mantan pejabat yg selesai menjabat tetap menjaga integritas & etika kenegaraan,” tulisnya dikutip Selasa (6/1/2026).
“Ignasius Jonan, Sri Mulyani Indrawati, dan Retno Marsudi—setelah purna—tidak pernah menjelek-jelekkan pemerintah maupun presiden sebelumnya,” sebutnya.
“Mereka memilih diam terhormat, bukan gaduh,” sambungnya.
Di sisi lain, ada juga mantan pejabat yang menurutnya justru berubah menjadi pembenci.
Ini yang kemudian disorotnya bahkan, mantan pejabat-pejabat ini disebutnya benci permanen ke Pemerintahan.
Beberapa nama disebutnya diantaranya ada, Anies Baswedan, Sudirman Said, Mahfud MD, Refly Harun, hingga Said Didu.
“Sebaliknya, ada yg setelah tak lagi menjabat justru berubah menjadi pembenci permanen pemerintah,” paparnya.
“Anies Baswedan, Sudirman Said, Mahfud MD, Refly Harun, Said Didu,” ungkapnya.
“Saat berkuasa dekat, saat selesai menjabat berubah jadi penyerang,” tuturnya.
Dari sini Dede tegas mengatakan bahwa kritik itu sebenarnya memang diperlukan untuk memajukan pemerintahan.
Hanya saja, jika sampai memusui hingga benci permanen karena tidak lagi berkuasa inilah yang disebutnya penjilat.
“Kritik itu perlu. Tapi menjauh lalu memusuhi karena tak lagi berkuasa—itulah definisi menjilat yang sebenarnya,” terangnya.
(Erfyansyah/fajar)





