BPS Catat Inflasi Desember Membengkak, Tembus 0,64%

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi pada Desember 2025 mencapai 0,64%. Sementara itu inflasi dari tahun ke tahun tercatat sebesar 2,92%. 

Angka inflasi Desember 2025 merupakan yang tertinggi selama 8 bulan terakhir. Terakhir kali inflasi menembus angka 0,6% terjadi pada April 2025. Saat itu inflasi bahkan menembus angka 1,17%. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan bahwa peningkatan inflasi pada bulan Desember 2025 dipicu pola cuaca yang memicu terhadap produksi tanaman pangan. 

"Terjadi inflasi di Desember 2025 yang lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun 2024," ungkap Pudji, Senin (5/1/2026). 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan inflasi melonjak pada Desember, baik secara bulanan maupun tahunan. 

Sebanyak 12 ekonom yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan median atau nilai tengah IHK pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,63% secara bulanan (month on month/MoM). Nilai tersebut melonjak cukup tinggi dibandingkan realisasi inflasi sebesar 0,17% MoM pada bulan sebelumnya atau November 2025.

Baca Juga

  • Konsensus Ekonom Proyeksi Inflasi Melonjak pada Desember 2025
  • Kolombia Naikkan Upah Minimum 23% pada 2026 walau Ada Risiko Inflasi
  • Inflasi RI Diproyeksi Terkendali pada 2026, Ruang Penurunan Suku Bunga Terbuka

Adapun estimasi tertinggi diberikan oleh Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana sebesar 0,84% MoM. Sementara estimasi terendah disampaikan oleh Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto sebesar 0,20% MoM.

Sedangkan secara tahunan (year on year/YoY), 19 ekonom memproyeksi median IHK pada Desember 2025 berada di zona inflasi sebesar 2,80%. Nilai tersebut naik moderat dibandingkan realisasi inflasi sebesar 2,72% YoY pada November 2025.

Estimasi tertinggi terpantau berada di angka 3,14% yang dikeluarkan oleh Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana. Sebaliknya, estimasi terendah di angka 2,50% oleh Ekonom JP Morgan Chase Bank Jin Tik Ngai.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro menjelaskan laju inflasi akan mengalami peningkatan signifikan akibat lonjakan aktivitas konsumsi masyarakat dan gangguan pasokan pangan akibat faktor cuaca pada akhir tahun atau Desember 2025.

Asmo memperkirakan inflasi pada Desember 2025 akan menembus level 2,98% YoY. Secara bulanan, inflasi diproyeksi melonjak ke level 0,7% pada Desember 2025.

"Kami memperkirakan IHK utama akan naik 0,7% secara bulanan, mencerminkan aktivitas konsumsi akhir tahun yang lebih kuat serta rebound tajam pada harga pangan bergejolak [volatile food]," tulis Asmo dalam laporannya, dikutip Minggu (4/1/2026).

Harga Bergerak

Dia memaparkan bahwa komponen harga bergejolak (volatile price) diperkirakan naik signifikan, utamanya didorong oleh tingginya harga pangan di tengah curah hujan tinggi selama Desember yang mengganggu kondisi pasokan. Di sisi lain, permintaan justru meningkat selama periode libur akhir tahun.

Secara rinci, harga cabai rawit tercatat melonjak hingga 60% MoM, diikuti oleh cabai merah yang naik 8%, daging ayam naik 6%, dan telur ayam naik 3%.

Dari sisi inflasi inti (core inflation), Asmo melihat adanya penguatan yang didukung oleh membaiknya konsumsi domestik dan kenaikan harga emas.

"Momentum konsumsi tetap solid, tercermin dari Mandiri Spending Index [MSI] yang naik 7,8% secara bulanan dari sebelumnya 6,2%, didorong oleh belanja yang lebih kuat di sektor mobilitas/transportasi dan elektronik," jelasnya.

Selain itu, harga emas dalam rupiah juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 4,7% mtm, lebih tinggi dibandingkan kenaikan bulan sebelumnya sebesar 1,3% MoM.

Adapun, untuk komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices), Tim Ekonom Bank Mandiri memperkirakan adanya kenaikan moderat. Perkembangan tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar non-subsidi yang rata-rata naik 5,0% (dari 0,7%), serta lonjakan tarif angkutan udara sebesar 17,2% MoM di tengah tingginya permintaan perjalanan akhir tahun.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kios Diduga Jual Obat Keras di Tangsel Laris Diserbu Muda-Mudi, Polisi Cek Lokasi
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Apa Arti Kata FOMO? Ini Contoh Penggunaannya yang Tepat
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Prabowo Subianto Sindir Pakar yang Komentari Dirinya Lewat Podcast: Ngarang! | SAPA MALAM
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
ATH Lagi! IHSG Hari Ini (6/1) Ditutup Menguat ke Level 8.933
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Abdul Wahid: Masa tunggu haji maksimal 25 tahun
• 19 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.