Libur akhir tahun telah usai. Ini saatnya kembali ke kenyataan: bekerja. Libur memang saat yang tepat untuk mengisi kembali energi fisik dan mental. Setelah libur, harapannya diri pun bisa lebih produktif.
Namun kenyataannya tidak semudah itu. Tidak sedikit orang yang merasa lebih berat memulai pekerjaan setelah pulang dari liburan. Stres, kelelahan mental, dan penurunan fokus lebih dirasakan setelah liburan usai.
Kondisi tersebut sebenarnya lumrah. Situasi yang dikenal dengan post-holiday blues ini merupakan kondisi ketika terjadi tekanan kognitif dan emosional saat transisi dari masa liburan ke rutinitas harian.
Hal itu bisa bertambah buruk jika liburan yang dilalui juga berat. Banyak orang yang ketika berlibur malah merasa lelah. Kewajiban sosial selama liburan kerap memicu perasaan lelah tersebut. Jika begitu, alih-alih memulihkan diri dan beristirahat, liburan justru membutuhkan lebih banyak energi.
Praktisi kesehatan mental di London, Ankita Guchait dalam tulisannya di Psychology Today, menyampaikan, beban terbesar biasanya akan dirasakan pada minggu-minggu pertama setelah liburan. Tumpukan agenda yang mesti dimulai, banyak surat elektronik atau email belum terbaca, serta target baru awal tahun menanti untuk segera diselesaikan.
Padahal, pada saat yang sama, sistem kognitif dan emosional seseorang masih berada pada fase penyesuaian. Itu sebabnya, banyak orang yang merasa menjadi lebih lambat, kurang fokus, dan mudah kewalahan dibandingkan hari kerja sebelumnya.
“Fenomena ini umumnya disebut sebagai stres pascaliburan atau perasaan sedih pascaliburan. Hal ini bukan hanya pengalaman subyektif. Gangguan rutinitas dan kembali pada lingkungan dengan tuntutan tinggi akan memberikan tekanan pada kognitif dan emosional,” tutur Guchait.
Dalam studi psikologi serta kesehatan kerja, liburan memang berkaitan dengan manfaat penurunan stres dan peningkatan kesejahteraan jangka pendek. Namun, tinjauan lain dari para peneliti menunjukkan manfaat itu cenderung memudar dengan cepat setelah seseorang kembali pada rutinitas kerja.
Dalam beberapa pekan setelah kembali bekerja, indikator kesejahteraan akan kembali ke tingkat dasar. “Ini membantu menjelaskan mengapa seseorang mungkin awalnya merasa segar setelah liburan tapi mengalami tekanan signifikan segera setelah kembali bekerja,” kata Guchait.
Guchait menyampaikan, rasa berat yang dirasakan saat kembali bekerja bisa terjadi karena seseorang telah kehilangan momentum. Jeda dari pekerjaan membuat dampak pada kesehatan mental menjadi menurun.
Namun ketika beban pekerjaan kembali datang dengan intensitas penuh dan otak dituntut untuk langsung bekerja keras, hal itu dapat memicu rasa stres dan ketidakefisienan dalam tubuh.
Otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Proses penyesuaian diri tersebut memerlukan energi dan perhatian yang ekstra. Sayangnya, banyak orang mempunyai ekspektasi yang tidak realistis setelah kembali dari liburan.
Banyak orang berharap bisa langsung produktif setelah liburan. Padahal, berbagai riset menunjukkan kesiapan kerja tak bisa langsung pulih secara instan. Belum lagi jika liburan yang dijalani cukup melelahkan. Perjalanan jarak jauh, gangguan tidur, serta tuntutan sosial dapat menguras energi fisik dan mental selama liburan.
Banyak orang berharap bisa langsung produktif setelah liburan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak bisa langsung pulih secara instan.
Meski begitu, bukan berarti setelah liburan harus kembali ambil cuti atau bermalas-malasan. Sejumlah cara bisa dilakukan agar transisi dari liburan ke tempat kerja bisa berjalan baik. Hal ini tentu untuk menjaga kewarasan di minggu-minggu pertama pascaliburan.
Psikolog dan dosen IPB University di Fakultas Ekologi Manusia, Nur Islamiah dalam artikel di laman IPB University menuturkan, cara pertama yang bisa dilakukan yakni dengan membuat prioritas dalam pekerjaan. Mulailah dari pekerjaan yang paling ringan hingga berat. Lakukan pekerjaan tersebut secara bertahap dan konsisten.
“ Setelah libur panjang, jangan langsung memaksakan diri untuk bekerja dengan target ambisius yang biasanya malah berujung pada kekecewaan,” ungkapnya menambahkan.
Selain itu, Nur menyarankan untuk membangun rutinitas kecil terlebih dahulu. Orang bisa kembali produktif di tempat kerja jika dapat membangun rutinitas kecil yang konsisten.
Sebagai contoh, mulai dari bangun pagi, membuat daftar tugas prioritas, serta menggunakan teknik fokus podomoro di tempat kerja. Teknik podomoro dilakukan dengan bekerja 25 menit dan istirahat 5 menit.
Seseorang juga bisa tetap memanfaatkan energi positif saat liburan. Energi positif yang terpelihara dapat membakar semangat untuk kembali beraktivitas. Pastikan pula pikiran tetap positif dan hati lebih ringan.
Rutinitas baik saat liburan yang dapat dilanjutkan, seperti kebiasaan makan bersama keluarga, mengobrol tanpa terburu-buru, atau menikmati waktu tanpa banyak gangguan aktivitas digital. Hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi sumber ketenangan dan keseimbangan emosional dalam rutinitas harian.
Dengan cara-cara itu diharapkan rasa malas dan tekanan saat kembali bekerja setelah liburan bisa dicegah dan diatasi dengan baik. Akan tetapi, jika rasa tidak nyaman berlanjut dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya konsultasi dengan ahli, seperti psikolog ataupun psikiater.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F07%2Ff8f59d03-f20e-43cd-960e-3dd1820acee6.jpg)

