MEDAN, KOMPAS - AA, bocah berusia empat tahun tertembak saat melintas di lokasi tawuran di Medan Belawan, Medan, Sumatera Utara. Peluru yang diduga berasal dari senapan angin pelaku tawuran itu bersarang di matanya. Tawuran berulang terus terjadi kawasan padat penduduk tersebut.
"Anak saya tertembak di mata. Sekarang masih menunggu jadwal operasi pengangkatan peluru itu," kata Romanda Capriati Siregar (33), ibu AA, Rabu (7/1/2026).
Romanda mengatakan, anaknya telah menjalani perawatan serta pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi dan telah dirujuk ke Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU).
Kejadian itu bermula saat Romanda dan anaknya melintas di Jalan Stasiun menumpang becak motor, Senin (5/1). Dalam perjalanan, becak terpaksa berhenti karena saat itu sedang terjadi tawuran antarkampung di kawasan tersebut.
"Saya terkejut karena tiba-tiba anak saya menangis. Saya lalu melihat matanya berdarah," kata Romanda.
Serial Artikel
Kapolres Belawan Dinonaktifkan Seusai Tembak Mati Remaja, Kompolnas Pantau Penyelidikan
Kapolres Belawan, Sumut, menjalani pemeriksaan kasus penembakan pelaku tawuran yang menyebabkan Muhammad Suhada (15) meninggal dan Basri (17) terluka.
Romanda semakin panik karena darah terus mengucur dari mata AA. Dia lalu membawa anaknya ke sebuah klinik di Belawan. Namun, anaknya langsung dirujuk ke RSUD Pirngadi.
Romanda mengatakan, kondisi anaknya saat ini stabil. Namun, anaknya masih mengalami nyeri di mata. Dokter menyebut, AA akan segera menjalani operasi pengangkatan proyektil.
Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD Pirngadi Gibson Girsang mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan CT Scan dan ronsen kepala terhadap AA, anak seorang nelayan. Hasilnya, ditemukan citra visual diduga proyektik peluru di bagian dalam mata.
”Peluru bersarang di dalam mata," kata Gibson.
Dia menyebut, AA masih mengalami nyeri di bagian mata. Namun, secara keseluruhan, kondisi AA stabil. Bocah itu telah dirujuk ke RSU USU agar bisa segera menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Belawan Ajun Komisaris Agus Purnomo mengatakan, telah mengantongi identitas pelaku penembakan anak tersebut. "Kasus ini sedang kami selidiki. Kami sudah mengetahui identitas pelaku," kata Agus.
Agus menyebut, mereka belum bisa memastikan jenis senjata yang digunakan dalam tawuran itu. Polisi masih menunggu hasil observasi dari rumah sakit. Namun, peluru itu diduga berasal dari senapan angin.
Kepala Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Negeri Medan Majda El Muhtadj mengatakan, tawuran berulang yang memakan korban dari berbagai lapisan masyarakat menjadi gambaran kondisi kawasan Belawan, wilayah aglomerasi Medan dan sebagian Deli Serdang.
"Ini gambaran Belawan yang identik dengan kekerasan, kumuh, tanpa hukum, hidup yang keras, putus sekolah, dan anarkistis," kata Majda.
Ke depan, Majda menyebut, pemerintah harus menyusun kerangka pembangunan secara menyeluruh. Tujuannya, membangun Belawan menjadi lebih beradab. Hal itu bukan tidak mungkin dilakukan. Belawan, kata dia, sebenarnya sama dengan kota-kota pelabuhan lainnya di Indonesia dengan kehidupan yang sangat keras.
Serial Artikel
Balada Kuli Angkut Pelabuhan Belawan, Dibutuhkan Tapi Terjerat Kemiskinan
Menjadi kuli angkut di pelabuhan penumpang tidak mudah. Sakit pingang dan punggung makanan sehari-hari. Kadang membayar ganti rugi barang hilang, kadang terbawa kapal. Mereka juga terjerat kemiskinan turun-temurun.





