REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Korea Utara pada Ahad (4/1/2026) mengecam keras serangan terbaru Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang menyebabkan penangkapan presiden negara tersebut.
Pyongyang menyebut tindakan Washington sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan contoh lain dari sifat jahat dan biadabnya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Menhan Venezuela: Sebagian Besar Anggota Paspampres Maduro Tewas Dibunuh Tentara AS
- Kemenkum: Pengadilan Coret Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia
- Cap Diktator Hanya Dalih, Ini 11 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS: Ada yang Muslim
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan Pyongyang memahami beratnya situasi yang saat ini dihadapi Venezuela, yang menurutnya disebabkan oleh tindakan paksaan Amerika Serikat. Juru bicara tersebut memperingatkan meningkatnya ketidakstabilan akan semakin memperburuk situasi regional yang sudah rapuh.
“Insiden ini menjadi contoh lain dari sifat jahat dan biadab Amerika Serikat, sifat yang telah disaksikan komunitas internasional berkali-kali selama bertahun-tahun,” kata kementerian tersebut dilaporkan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Korea Utara menggambarkan tindakan AS sebagai bentuk hegemoni dan pelanggaran kedaulatan yang paling serius. Pyongyang menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional. Prinsip dasarnya meliputi penghormatan terhadap kedaulatan, nonintervensi dalam urusan internal, serta integritas wilayah.
Pyongyang mendesak komunitas internasional menyuarakan protes terhadap Amerika Serikat dan menanggapi krisis Venezuela secara serius. Korea Utara juga memperingatkan bahwa krisis tersebut telah membawa konsekuensi buruk bagi stabilitas regional dan hubungan internasional.
Pemerintah Venezuela pada Sabtu pagi (3/1/2026) menyatakan Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian, sebelum kemudian menetapkan status darurat nasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi serangan berskala besar tersebut. Ia menyatakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Keduanya disebut telah dibawa ke pusat penahanan di New York.
Serangan itu terjadi setelah berbulan-bulan tekanan Amerika Serikat terhadap Maduro, yang dituduh Washington terlibat dalam perdagangan narkoba. Tuduhan tersebut dibantah oleh pemimpin Venezuela itu. Maduro menyatakan kesiapan untuk berdialog.

