Venezuela kini dilanda krisis karena serangan Amerika Serikat (AS) dan ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro atas dakwaan sejumlah dakwaan: Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak, serta Konspirasi Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak terhadap AS.
Venezuela sebetulnya pernah berjaya sebagai salah satu negara dengan PDB per kapita tertinggi ke-4 di dunia. Kekayaan Venezuela berasal dari satu sumber utama: minyak.
Dikutip dari berbagai sumber, Senin (5/1), Venezuela pertama kali menemukan minyak pada 1922 ketika para ahli geologi Royal Dutch Shell mengebor sumur di cekungan Maracaibo. Hasil temuan itu luar biasa: Venezuela merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak di dunia, memproduksi lebih dari 100 ribu barel per hari.
Di bawah pemerintahan sosialis, Venezuela pada 1950-an mengalami apa yang disebut "oil boom" atau ledakan minyak. Lewat fenomena ini, Venezuela melakukan modernisasi besar-besaran, cepatnya urbanisasi, mata uang yang kuat dan stabil, hingga jadi negara magnet imigran.
Venezuela sempat menghadapi tantangan karena minyak Timur Tengah mulai dipompa ke pasar Eropa dan AS. Minyak Venezuela kehilangan daya saing karena harga minyak Arab lebih murah. Venezuela kemudian mengumpulkan negara pengekspor minyak dan membentuk OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) pada 1960.
Krisis minyak yang terjadi pada awal 1970-an menjadi titik balik industri minyak Venezuela. Pendapatan negara antara 1972-1974 meningkat 4 kali lipat, berdampak positif pada peningkatan pendapatan dan kondisi hidup rakyatnya.
Berkat ledakan minyak, Venezuela meroket jadi negara paling makmur di Amerika Latin dan jadi negara dengan pendapatan kapita tertinggi di benua itu. PDB per kapita Venezuela meningkat dari yang sebelumnya kurang dari USD 1.000 menjadi lebih dari USD 2.000 selama 1960-an hingga 1970-an.
Dengan sistem pemerintahan sosialis, Presiden saat itu, Carlos Andres Perez, memutuskan menasionalisasi cadangan minyak dengan membentuk perusahaan negara bernama Petroleos de Venezuela, S.A (PDVSA).
Sayangnya, ledakan minyak yang dinikmati Venezuela tak bertahan lama. Seiring turunnya harga minyak pada 1980-an, ekonomi Venezuela mengalami kontraksi dan inflasi melonjak.
Untuk mengatasi krisis ekonomi, Presiden Perez mengadopsi sejumlah langkah penghematan yang ketat, memangkas anggaran kesejahteraan dan pensiun negara. Kebijakan ini memicu protes dan demonstrasi besar-besaran, membuka jalan bagi munculnya ideologi populis sayap kiri.
Venezuela akhirnya dipimpin oleh Hugo Chavez, petinggi militer yang memenangkan pemilihan presiden pada 1998. Dengan program sosialisnya, dia berjanji mengatasi korupsi yang merajalela, mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan.
Secara geopolitik, Venezuela di kepemimpinan Chavez mulai mendekatkan diri dengan rezim-rezim sosialis lainnya seperti Kuba dan Nikaragua, serta jadi sekutu Rusia dan China karena sikap anti-imperialisme dan anti-Amerika. Chavez juga mereformasi industri minyak dengan sepenuhnya menasionalisasi PDVSA, memecat manager berkeahlian tinggi dan menunjuk sekutu politiknya untuk mengisi posisi itu.
Langkah Chavez membuat ekonomi Venezuela semakin terpuruk. Hal ini semakin diperparah karena tidak ada sektor industri lain yang bisa menopang ekonomi, karena ekonomi Venezuela betul-betul bergantung pada minyak.
Kondisi ekonomi Venezuela kini terpuruk. Meski masih tergantung dengan minyak, namun produksinya sangat rendah. Pertumbuhan ekonomi stagnan bahkan cenderung turun, inflasi tinggi, kemiskinan struktural, hingga pengangguran mencapai 35 persen.
Inflasi di Venezuela meningkat tajam, menekan daya beli masyarakat. Venezuela juga mengalami kekurangan devisa yang memperlemah kemampuan impor dan stabilisasi harga, sehingga pemerintah kesulitan menjaga nilai tukar. Tak cuma itu, Venezuela juga memiliki utang luar negeri yang besar, yang diperkirakan mencapai USD 150 miliar-USD 170 miliar. Ini menambah beban fiskal dan ketidakpastian investasi.
Polandia, dari Sosialis ke Pasar Bebas
Sementara di sisi lain, Polandia yang dulu ekonominya terpuruk kini menjadi salah satu negara kaya di Eropa berkat reformasi ekonomi yang berani.
Polandia sebelumnya merupakan salah satu negara di bawah Uni Soviet. Selama berada di bawah pemerintahan Uni Soviet, harga ditentukan oleh negara. Ini menyebabkan perusahaan milik negara tidak efisien, produktivitas rendah, utang luar negeri besar, inflasi tinggi serta kelangkaan barang.
Situasi ini membuat krisis besar-besaran di Polandia, hingga melahirkan serikat buruh independen pertama bernama Solidarity pada 1980-an. Kemunculan serikat buruh ini didukung luas oleh rakyat, yang kemudian pelan-pelan menghancurkan monopoli komunisme di sana.
Lewat negosiasi damai, Polandia akhirnya lepas dari komunisme pada akhir 1980-an. Polandia kemudian melakukan reformasi ekonomi yang dikenal sebagai Balcerowicz Plan atau Shock Therapy. Lewat langkah ini, Polandia melakukan liberalisasi harga dengan menghapus kontrol harga pemerintah untuk membiarkan pasar bekerja.
Selain itu, Polandia mentransformasi perusahaan negara yang tidak efisien menjadi perusahaan swasta yang kompetitif, hingga menstabilkan mata uang. Meski memang sempat membuat tingkat pengangguran meningkat, namun langkah ini dinilai menciptakan fondasi pertumbuhan yang stabil.
Yang terpenting dan yang membedakan dengan Venezuela, Polandia tidak bergantung pada satu industri atau komoditas saja. Polandia membangun sektor manufaktur, jasa IT, hingga pertanian yang kompetitif di pasar global. Polandia memang mengandalkan industri, ekspor, dan produktivitas karena tidak punya sumber kekayaan alam seperti minyak atau gas.
Reformasi ekonomi Polandia juga didukung oleh IMF dan Bank Dunia lewat bantuan teknis dan dana, AS dan Eropa Barat yang menghapus utang, serta terbukanya akses ke pasar barat lewat investasi.
Reformasi ekonomi juga membuat PDB per kapita Polandia melesat. Sebelum Uni Soviet runtuh, PDB per kapita Polandia di kisaran USD 1.700 hingga USD 2.000.
Begitu Uni Soviet runtuh dan transisi ekonomi berjalan, PDB per kapita Polandia sempat turun di kisaran USD 1.700. Namun seiring berjalannya waktu, PDB per kapita Polandia semakin meningkat hingga menyentuh USD 4.000.
PDB per kapita Polandia semakin meroket ketika masuk ke Uni Eropa pada 2004. PDB per kapita Polandia mencapai USD 6.600.
Kini, Polandia merupakan salah satu negara di Eropa dengan pertumbuhan PDB yang positif. Pertumbuhan ekonomi di Polandia pada 2025 mencapai 2,9-3,4 persen dengan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor pendorong utama.
Inflasi stabil, tingkat pengangguran rendah sekitar 5 persen yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih sehat.




