Okupansi Hotel Berbintang Masih Turun 1,07% YoY per November 2025

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) alias okupansi hotel klasifikasi bintang turun 1,07% secara tahunan (YoY) menjadi 53,89% per November 2025.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Senin (5/1/2025).

“TPK hotel klasifikasi bintang pada November 2025 mencapai 53,89% atau mengalami peningkatan secara bulanan sebesar 1,05% poin, tetapi mengalami penurunan secara tahunan sebesar 1,07% poin,” kata Pudji.

Lebih lanjut, BPS mencatat okupansi hotel berbintang paling tinggi tercatat di Provinsi Papua Selatan, yakni sebesar 63,31%. Hal ini salah satunya didorong oleh penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di daerah tersebut.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Menilik tren bulanan, Pudji berujar bahwa sebagian besar provinsi mengalami peningkatan TPK, sedangkan 10 provinsi mengalami penurunan.

Tiga provinsi dengan okupansi hotel berbintang terendah hingga bulan kesebelas tahun lalu antara lain Papua Pegunungan (37,49%), Aceh (31,27%), dan Bangka Belitung (29,50%).

Baca Juga

  • Tingkat Okupansi Hotel di Jawa Timur Tembus 95% Pada Libur Nataru 2025/2026
  • PHRI Sebut Okupansi Hotel Anjlok Sepanjang 2025, Mengapa?
  • PHRI: Pengetatan Belanja Pemerintah Jadi Biang Kerok Okupansi Hotel Merosot

“Provinsi Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan peningkatan TPK tertinggi secara bulanan yaitu meningkat sebesar 12,10% poin,” pungkasnya.

Sebelumnya, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyampaikan sepanjang 2025 bukan karena cuaca ekstrem atau bencana, melainkan dipengaruhi pengetatan belanja pemerintah.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menyebut kontribusi pasar pemerintah terhadap kinerja hotel berkisar antara 40%–60%, bahkan bisa mencapai 80% di wilayah tertentu.

“Terkait penurunan okupansi yang terjadi itu, paling utama itu bukan karena cuaca, bukan karena bencana, tetapi year-on-year penurunan okupansi atau kontribusi negatif pertumbuhan itu terjadi karena hilangnya pasar pemerintah,” kata Maulana kepada Bisnis, Sabtu (27/12/2025).


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim SAR Evakuasi Satu Jenazah WN Spanyol dari Bangkai KM Putri Sakinah di Labuan Bajo
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Hikmahanto Beberkan Dasar Hukum AS di Balik Operasi Tangkap Maduro
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sony Honda Mobility Perkenalkan Prototipe EV Terbaru di CES 2026
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Tumbangkan Burkina Faso 3-0, Pantai Gading Melaju ke Perempat Final Piala Afrika dan Tantang Mesir
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Masa Penahanan Bekas Bupati Bekasi Diperpanjang 40 Hari, KPK Diingatkan Tenggat
• 12 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.