EtIndonesia. Paman Jue adalah orang yang sangat keras kepala. Dia selalu merasa dirinya benar dan gemar bersikap berlawanan dengan orang lain. Dahulu, dia bertani di sebelah utara Gunung Gui. Padi dia tanam di lereng gunung yang kering, sementara sorgum dia tanam di kaki gunung yang rendah dan lembap.
Seorang sahabatnya menasihati : “Padi menyukai tempat lembap, seharusnya ditanam di kaki gunung. Sorgum tahan kering, seharusnya ditanam di lereng. Yang kamu lakukan justru terbalik. Ini bertentangan dengan sifat alami tanaman, hasilnya pasti tidak baik.”
Namun Paman Jue tidak mau mendengar. Akibatnya, selama sepuluh tahun bertani, keluarganya bahkan sering kekurangan makanan. Barulah kemudian dia memperhatikan cara bertani sahabatnya—padi ditanam di tempat basah, sorgum di tempat kering, dan hasil panennya selalu melimpah.
Saat itulah dia meminta maaf : “Dulu aku salah. Seandainya sejak awal aku mendengarkan nasihatmu.”
Beberapa waktu kemudian, Paman Jue pergi ke sebuah tempat bernama Wenshang untuk berdagang.
Dia berpikir : “Dulu aku rugi karena tidak mau sama dengan orang lain. Sekarang, apa pun yang dilakukan orang lain, aku akan mengikutinya.”
Melihat orang lain berebut membeli barang tertentu, dia ikut memborong. Melihat orang lain menjual barang tertentu, dia ikut menjual.
Sahabatnya kembali menasihati : “Terus mengikuti langkah orang lain tidak akan berhasil. Karena kamu selalu satu langkah lebih lambat. Saat kamu menjual barang yang sama, pasar sudah kebanjiran. Pedagang yang cerdas justru membeli barang yang belum diperebutkan orang lain. Ketika kesempatan datang, barulah keuntungan besar bisa diraih.”
Sekali lagi, Paman Jue mengabaikan nasihat itu. Sepuluh tahun berlalu, dia jatuh miskin hingga tak lagi memiliki modal untuk berdagang.
Dia teringat kembali ucapan sahabatnya sepuluh tahun lalu dan datang meminta maaf : “Kamu benar. Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkanmu.”
Setelah itu, Paman Jue dan sahabatnya pergi melaut dengan kapal nelayan ke Laut Cina Timur. Ketika kapal mendekati sebuah pusaran air besar, sahabatnya berteriak : “Jangan maju lagi! Di depan ada pusaran besar, kalau masuk, tidak akan bisa keluar!”
Paman Jue berpikir bahwa di depan pasti banyak ikan, sehingga dia tetap melaju. Akibatnya, kapalnya terseret ke dalam pusaran raksasa dan berputar-putar tanpa henti. Begitulah, kapalnya terjebak di pusaran selama sepuluh tahun.
Beruntung, di dalam pusaran itu ikan sangat melimpah. Dia bertahan hidup dengan memakan ikan mentah dan meminum air hujan. Hingga suatu hari, seekor ikan sebesar gunung berubah menjadi burung raksasa, mengepakkan sayapnya dan memicu gelombang besar yang akhirnya melemparkan kapal Paman Jue keluar dari pusaran.
Ketika dia pulang ke rumah, rambutnya sudah memutih seluruhnya, tubuhnya kurus kering seperti lilin. Tak satu pun kerabat atau sahabat yang mengenalinya.
Dia kembali menemui sahabatnya, membungkuk dalam-dalam dua kali, lalu menunjuk ke langit dan berkata: “Dulu aku terlalu keras kepala. Kini, biarlah matahari menjadi saksi—kali ini aku benar-benar akan berubah.”
Sahabatnya tersenyum pahit dan berkata : “Kamu sudah tua. Masa muda telah berlalu. Sekalipun kamu berubah sekarang, seberapa besar lagi gunanya?” (jhn/yn)





