Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Sejarah selalu menyediakan cermin, tetapi tidak pernah memberi jawaban siap pakai. Ia hanya menunjukkan pola.
Salah satu pola yang paling relevan untuk membaca Indonesia hari ini adalah bagaimana sebuah perubahan besar gagal atau berhasil tergantung pada apa yang dilakukan negara setelah guncangan politik terjadi.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Cap Diktator Hanya Dalih, Ini 11 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS: Ada yang Muslim
- Kapal Perang Saudi Dikerahkan Menuju Laut Arab, Perang Besar Segera Meletus?
- Terungkap Ini 3 Syarat yang Diberlakukan Israel untuk Akui Kemerdekaan Somaliland
Di titik inilah perbandingan antara Arab Spring dan revolusi-revolusi di Eropa menjadi penting—bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai pelajaran kebijakan yang sangat aktual.
Arab Spring sering dipahami sebagai ledakan kemarahan rakyat terhadap otoritarianisme. Padahal, akar terdalamnya justru soal ekonomi dan martabat hidup.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Tindakan tragis Mohamed Bouazizi pada Desember 2010 bukan semata protes politik, melainkan jeritan seorang warga kecil yang terhimpit birokrasi, kemiskinan, dan negara yang tidak hadir.
Runtuhnya rezim Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia, disusul tumbangnya Hosni Mubarak di Mesir, memunculkan harapan besar akan perubahan.
Namun harapan itu banyak yang kandas. Di sejumlah negara Arab Spring, pergantian rezim tidak diikuti penataan ulang kelembagaan yang menjawab tuntutan paling mendasar masyarakat: pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, kepastian usaha, dan rasa adil dalam berhadapan dengan negara.
Negara berubah wajah, tetapi cara kerjanya nyaris sama. Akibatnya, revolusi menjelma menjadi siklus: penguasa jatuh, penguasa baru muncul, ekonomi tetap rapuh, dan ketidakpuasan kembali terakumulasi.


