JAKARTA, KOMPAS.com – Penurunan tanah di Jakarta yang dikabarkan mencapai 4,5 meter tidak terjadi merata di seluruh wilayah, kata pakar konstruksi Davy Sukamta.
Davy, anggota Dewan Pertimbangan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), menekankan angka itu hanya berlaku di titik ekstrem dengan kondisi tanah lebih tipis.
"Itu pada lokasi ekstrem tertentu. Bisa terjadi cekungan seperti itu, tapi tidak merata seluruh Jakarta turun 4,5 meter," ujar Davy saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/1/2025).
Baca juga: Melihat Tugu Penurunan Tanah Jakarta, Pengingat Turunnya Tanah 4,5 Meter dalam 46 Tahun
Ia menyarankan masyarakat melihat data penurunan tanah per wilayah agar lebih jelas.
Menurut Davy, pengambilan air tanah berlebihan dan faktor alami seperti sedimentasi turut memengaruhi penurunan permukaan tanah.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=land subsidence jakarta, Air tanah Jakarta, penurunan tanah jakarta, tugu penurunan tanah&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNS8yMjU4MjExMS9wZW51cnVuYW4tdGFuYWgtamFrYXJ0YS00NS1tZXRlci10aWRhay1tZXJhdGEtcGFrYXItamVsYXNrYW4tc2ViYWJueWE=&q=Penurunan Tanah Jakarta 4,5 Meter Tidak Merata, Pakar Jelaskan Sebabnya§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `"Sebaiknya penggalian sumur air tanah maksimal 20-30 meter. Jika lebih dalam, risiko meningkat," kata Davy. Ia juga menekankan pentingnya memastikan pasokan air bagi rumah tangga dan industri sebelum membatasi pengambilan air tanah.
Davy menambahkan, warga sebaiknya tidak panik dengan angka 4,5 meter karena tiap titik berbeda.
"Penurunan tanah itu terjadi. Warga harus memahami itu, tetapi setiap titik pasti berbeda. Harus dicermati dengan data lebih lanjut," ujarnya.
Tugu Penurunan Tanah Jakarta yang berada di Kawasan Wisata Kota Tua, Pinangsia, Taman Sari, menampilkan catatan penurunan tanah sejak 1975-2020 sebesar 4,5 meter.
Baca juga: Pramono Larang Pengambilan Air Tanah di Muara Angke, Cegah Penurunan Tanah
Tugu ini dibuat oleh Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian PUPR dan JICA.
Data penurunan tanah di Jakarta diambil dari Dinas Perindustrian dan Energi (1974-2014) dan InSAR (2014-2020). Penurunan terbesar tercatat di Cengkareng, Cakung, dan Muara Baru.
Salah satu warga, Oktani (34), yang berjualan di dekat tugu, mengaku baru menyadari informasi ini. "Saya baru paham, ternyata tanahnya turun itu setinggi itu. Sebagai warga, ya takut," kata Oktani.
Warga lain, Titis (40), juga terkejut saat membaca keterangan tugu. "Apalagi dijelaskan karena air tanah yang diambil terlalu banyak. Saya sendiri bukan warga Jakarta, tapi ngeri membayangkan," ujarnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang




