Saya mencermati perkembangan terbaru yang memicu kekhawatiran global, khususnya terkait klaim bahwa NATO siap perang dengan Rusia dan Belarusia. Menteri Pertahanan Belarusia, Viktor Khrenin, menuding negara-negara NATO di Eropa kini secara terbuka mempersiapkan diri untuk konflik militer melawan Moskow dan Minsk. Ia bahkan menyatakan bahwa “persiapan perang sedang berlangsung,” sebuah pernyataan yang menurut saya tidak bisa dianggap sepele.
klaim ini bukan sekadar gertakan geopolitik, melainkan sebuah sinyal serius yang harus kita analisis dengan kepala dingin. Mengapa? Karena tindakan dan angka-angka yang ditunjukkan Eropa memang mengarah ke sana.
Khrenin menyebutkan Polandia, Jerman, Prancis, dan negara-negara Baltik berlomba memiliterisasi diri dan membangun kekuatan tentara yang masif. Namun, poin yang paling menguatkan opini saya adalah komitmen baru negara-negara NATO Eropa untuk mengalokasikan 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka untuk militer.
Angka 5% PDB untuk militer, menurut saya, jauh melebihi batas pertahanan normal. Ini adalah lonjakan anggaran yang menunjukkan adanya prioritas yang sangat mendesak. Khrenin benar, ini adalah anggaran pra-perang!
Selain anggaran, ada manuver fisik yang tidak bisa kita abaikan. NATO, di bawah komando AS, terus memperkuat posisinya:
1. Peningkatan Infrastruktur: Pelabuhan dan lapangan terbang dekat Belarusia ditingkatkan kemampuannya (di-upgrade).
2. Peningkatan Latihan Militer: Intensitas latihan terus meningkat.
3. Peningkatan Kehadiran Pasukan: Unit-unit baru dibentuk dan kehadiran pasukan NATO di dekat perbatasan Rusia dan Belarusia diperkuat.
Semua langkah ini, dalam pandangan saya, bukan sekadar pertahanan pasif tetapi ini adalah penempatan aset yang strategis yang dibutuhkan sebelum suatu konflik besar dimulai.
Oreshnik Rusia: Penyeimbang atau Pemicu?Tentu saja, Rusia dan Belarusia tidak tinggal diam. Respons strategis terbaru mereka adalah penempatan sistem rudal Oreshnik di Belarusia, yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan memiliki kemampuan hipersonik. Sistem rudal ini, yang diumumkan oleh Presiden Putin, akan segera bertugas tempur sebelum tahun baru.
Khrenin menyebut langkah ini sebagai pencegahan strategis dan reaksi terhadap agresi yang mereka rasakan. Mereka berdalih, "kami tidak ingin berperang. Mari kita bernegosiasi."
Namun, di sinilah letak dilemanya. Saya khawatir, penempatan rudal hipersonik berkemampuan nuklir di perbatasan Eropa, meskipun diklaim sebagai pencegahan, justru bisa dianggap pihak Barat sebagai eskalasi yang sangat provokatif. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang berbahaya:
1. Eropa meningkatkan anggaran dan pasukan (persiapan perang).
2. Rusia/Belarusia membalas dengan rudal nuklir taktis (pencegahan).
3. Eropa merespons balik dengan sanksi/bantuan militer lebih lanjut (eskalasi).
Presiden Putin sendiri menyatakan bahwa Moskow akan mencari solusi diplomatik selama masih ada harapan. Namun, ia menekankan bahwa setiap peluang damai yang hilang adalah tanggung jawab pihak yang memilih "menggunakan bahasa kekerasan."
Kesimpulan: Kita Berada di Ambang BatasSebagai kesimpulan, Kita melihat situasi saat ini sangat genting. Klaim Belarusia bahwa NATO Eropa sedang bersiap untuk perang terbuka tidak bisa dianggap enteng. Ketika anggaran pertahanan mencapai angka 5% PDB dan rudal nuklir taktis diposisikan di perbatasan, kita tidak lagi bicara soal latihan.
Kita berbicara soal persiapan serius untuk konflik besar. Dunia harus menekan semua pihak untuk kembali ke meja perundingan. Sebelum Oreshnik resmi bertugas dan sebelum anggaran 5% PDB itu sepenuhnya terimplementasi, upaya diplomatik harus dimaksimalkan, agar narasi perang ini tidak menjadi kenyataan yang menghancurkan.
Tulisan dari Herbert tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Herbert Will Tiotama-Mahasiswa Universitas Pamulang





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5227891/original/051091000_1747826644-20250521-Tiang_Monorel-HER_7.jpg)