PRESIDEN Prabowo Subianto menepis tudingan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan demi kepentingan elektoral pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Dalam pidatonya pada perayaan Natal Nasional di Jakarta, Senin (5/1), Prabowo menegaskan kebijakan tersebut lahir murni dari keprihatinan terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia, bukan hitung-hitungan politik kekuasaan. Namun, ia juga melontarkan pertanyaan retoris terkait kemungkinan dirinya kembali mendapat mandat rakyat di masa depan.
"Saudara-saudara, dan ada yang nuduh, ‘oh Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali’. Selalu berpikir negatif," ujar Prabowo di hadapan ribuan jemaat yang hadir.
Jika rakyat kembali memberikan mandat pada 2029, kata Parbowo, bagian dari kehendak demokrasi dan tak perlu dipersoalkan. Ia menekankan, kekuasaan tetap berada dalam kehendak Tuhan dan rakyat.
"Tapi kalau rakyat milih saya tahun 2029, apa salah saya? Iya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja tidak akan terjadi, bener nggak?" kata Prabowo.
Fokus Gizi, Bukan PolitikPrabowo kemudian mengisahkan latar belakang lahirnya program MBG. Ia mengaku persoalan gizi anak menjadi temuan berulang saat dirinya berkampanye dan berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.
Pengalaman tersebut mendorong Prabowo mempelajari kebijakan serupa di berbagai negara. Ia menyebut India dan Brasil sebagai contoh negara yang menjadikan makan bergizi sebagai investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Ia juga mengungkapkan hasil kajian lembaga internasional terkait dampak ekonomi program MBG. Prabowo menyebut penilaian Rockefeller Institute yang melihat MBG sebagai investasi bernilai tinggi.
"Ini adalah investasi anda yang terbaik. Satu, satu rupiah investasi kepada makan bergizi gratis menurut Rockefeller Institute akan menghasilkan pelipatan nilai ekonomi 5 kali sampai 35 kali," ujarnya mengutip pernyataan ahli lembaga tersebut.
Meski demikian, Prabowo menegaskan motivasi utamanya bukanlah keuntungan ekonomi, melainkan rasa kemanusiaan. Ia mengaku tidak tega melihat anak-anak Indonesia tumbuh dalam kondisi kekurangan gizi.
Prabowo juga memaparkan capaian program MBG yang dinilainya melampaui banyak negara lain. Hingga awal Januari 2026, jumlah penerima manfaat telah mencapai 55 juta orang.
"Hari ini sudah 55 juta penerima manfaat Indonesia berarti itu sama dengan memberi makan delapan kali Singapura. Tiap hari kita beri makan 55 juta mulut," tutur Prabowo. (Z-2)



