Prospek Saham Sektor Telekomunikasi di 2026, Analis Unggulkan MTEL dan TOWR

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Prospek saham infrastruktur telekomunikasi diproyeksikan kembali menguat pada 2026, seiring ekspektasi penurunan suku bunga dan berlanjutnya ekspansi jaringan digital nasional. Dua emiten menara, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dinilai berpeluang menjadi unggulan.

Saat ini  bisnis MTEL dan TOWR kian bergeser dari sekadar penyedia menara menjadi infrastruktur digital berbasis fiber optik. Analis menilai kedua emiten ini berada di posisi strategis untuk memetik keuntungan dari tren fiberisasi dan perluasan jaringan operator ke luar Jawa. Struktur utang yang relatif besar membuat emiten menara sensitif terhadap arah suku bunga, sehingga potensi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia berpeluang menekan beban bunga sekaligus mendorong pertumbuhan laba pada 2026.

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan sektor ini berpeluang menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari penurunan suku bunga. Pasalnya, rata-rata emiten menara memiliki struktur utang yang relatif besar, sehingga penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat langsung menekan beban bunga dan mendorong kenaikan laba bersih.

“Selain itu, tren fiberisasi dan ekspansi operator ke luar jawa menuntut ketersediaan jaringan fiber optik yg masif,” ujar Wafi kepada Katadata, Senin (5/1).

Wafi menilai, dua emiten telekomunikasi MTEL dan TOWR yang berpeluang mencatatkan kinerja positif pada 2026. Menurut dia, kedua emiten tersebut kini tidak lagi sekadar perusahaan menara, melainkan telah bertransformasi menjadi perusahaan infrastruktur digital (digital infraco) dengan bisnis fiber optik yang menawarkan margin lebih tinggi.

“Saya paling suka MTEL dengan rekomendasi beli dan target harga 860. Mitratel punya jaringan fiber terluas dan tenancy ratio di luar Jawa yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar,” kata Wafi.

Apabila melihat profil perusahaan, MTEL atau Mitratel merupakan anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Perseroan kini mengelola lebih dari 39 ribu menara yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh operator seluler nasional tercatat menjadi penyewa (tenant) dengan menempatkan perangkat BTS di menara Mitratel.

Kinerja Mitratel juga ditopang oleh anak usahanya, PT Persada Sokka Tama, yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi. Perusahaan yang berdiri pada 2008 tersebut awalnya menjadi mitra PT XL Axiata Tbk dalam penyediaan layanan menara, dengan fokus wilayah Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu, pada tahun lalu, MTEL dikabarkan tengah menjajaki penggabungan usaha atau merger bersama emiten infrastruktur lainnya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Aksi tersebut berpotensi terjadi dengan valuasi hingga Rp 93 triliun atau sekitar Rp 5,7 miliar. Meski begitu, hingga kini kabar soal merger belum terang.

Saham MTEL bergerak volatil sepanjang 2025. Harga sahamnya terkoreksi 0,76% secara tahunan atau year on year. Pada kuartal ketiga 2025, MTEL mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,54 triliun. Jumlah tersebut naik 0,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Sementara itu perseroan membukukan pendapatan yang turun menjadi Rp 6,88 triliun dari Rp 6,89 triliun secara yoy. 

Selain MTEL, Wafi merekomendasikan saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk dikoleksi dengan strategi hold hingga harga mencapai Rp 620. Ia menilai manajemen TOWR relatif efisien dan agresif melakukan akuisisi penyedia layanan internet.

“TOWR karena manajemennya efisien dan agresif akuisisi provider internet atau fiber kecil untuk konsolidasi pasar,” kata dia.

TOWR merupakan perusahaan yang berfokus pada investasi dan pengoperasian menara telekomunikasi serta jaringan fiber optik yang disewakan kepada operator sebagai solusi infrastruktur telekomunikasi. Sejak 2008, investasi utama perseroan adalah kepemilikan 99,99% saham PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Operasional Grup SMN sebagian besar dijalankan melalui Protelindo dan anak usaha utamanya, iForte.

Hingga Juni 2025, grup ini memiliki dan mengoperasikan sekitar 35.825 menara telekomunikasi serta lebih dari 170 ribu kilometer jaringan fiber optik yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. 

Harga saham TOWR terkoreksi lebih jauh dibandingkan MTEL. Harga sahamnya turun 19,44% secara tahunan.

Dalam catatan keuangan hingga kuartal ketiga 2025, emiten grup Djarum ini membukukan laba bersih sebesar Rp 2,55 triliun, naik 4,50% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp 2,44 triliun. Pendapatan perseroan juga tumbuh menjadi Rp9,68 triliun dari Rp 9,44 triliun secara tahunan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Minim Urgensi, Retret Kabinet Merah Putih Disebut Hanya Menghapus Kangen
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
DPRD DKI Minta Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Malam Hari
• 13 jam laluidntimes.com
thumb
TOP 5: Dokter Richard Lee Jadi Tersangka hingga 4 Akun Fitnah SBY Dilaporkan
• 20 jam laluidntimes.com
thumb
Saham Nikel-Tembaga Cs Reli Lagi, INCO hingga AMMN Terbang
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Menegur Lane Hogger di Jalan, Tak Perlu Ngotot-Ngototan!
• 8 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.