Saham Nikel-Tembaga Cs Reli Lagi, INCO hingga AMMN Terbang

idxchannel.com
1 hari lalu
Cover Berita

Reli saham emiten logam kembali berlanjut pada perdagangan Rabu (7/1/2026). Saham-saham nikel hingga aluminium kompak menguat.

Saham Nikel-Tembaga Cs Reli Lagi, INCO hingga AMMN Terbang. (Foto: Harita Nickel)

IDXChannel – Reli saham emiten logam kembali berlanjut pada perdagangan Rabu (7/1/2026). Saham-saham nikel hingga aluminium kompak menguat, seiring sentimen positif dari prospek harga komoditas dan ekspektasi pengetatan pasokan global.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 10.01 WIB, saham emiten nikel dan timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) memimpin penguatan dengan lonjakan 24,24 persen ke level Rp492 per saham. Dengan kenaikan tersebut, saham NIKL telah melesat 42,77 persen dalam sepekan terakhir.

Baca Juga:
Bursa Asia Beragam di Tengah Rekor Wall Street

Di posisi berikutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 13,78 persen ke Rp6.400 per saham.

Disusul saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 12,46 persen ke Rp3,890 per unit, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang menguat 11,15 persen ke Rp1.445 per unit.

Baca Juga:
IHSG Bergerak Menuju 9.000, Analis Cermati Saham AMRT-RATU  

Penguatan juga terjadi pada saham PT Timah Tbk (TINS) yang naik 8,08 persen.

Selanjutnya, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tumbuh 7,58 persen, diikuti PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang menguat 7,29 persen dan PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) yang naik 7,24 persen.

Baca Juga:
Unilever (UNVR) Umumkan Kesepakatan Divestasi Bisnis Teh Sariwangi

Sementara itu, saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) mencatat kenaikan 6,49 persen. Penguatan paling terbatas terjadi pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang terapresiasi 1,85 persen.

Saham emiten penambang tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga melesat 4,52 persen ke Rp8.100 per unit.

Lebih lanjut, saham emiten pemilik smelter aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mendaki 3,88 persen ke Rp1.875 per unit.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan prospek saham nikel seiring rencana Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk memangkas pasokan demi mendorong harga.

Michael mengatakan, kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel. “Saat ini harga nikel LME sendiri sudah menyentuh kenaikan 12-13 persen year to date (YtD),” katanya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, jika tren kenaikan harga tersebut mampu berlanjut, dampaknya akan terasa langsung pada kinerja keuangan emiten.

Michael pun menjagokan empat saham logam. “INCO, AMMN, MBMA, dan NCKL. Semua memiliki potensi pembalikan arah (reversal),” kata dia, Selasa (6/1/2026).

Sementara, harga nikel terkoreksi dari level tertinggi dalam 19 bulan terakhir pada Rabu (7/1/2026) pagi, seiring reli kuat yang mendorong penguatan logam dasar mulai mereda.

Kontrak berjangka tiga bulan melemah pada awal perdagangan, setelah sempat melonjak hingga 10,5 persen mendekati USD 18.800 per ton pada Selasa.

Lonjakan intraday tersebut, yang ditopang risiko terhadap produksi di Indonesia sebagai pemasok utama, serta derasnya aliran investasi ke pasar logam domestik China, menjadi yang terbesar sejak akhir 2022.

Mengutip Bloomberg, Indonesia telah mengisyaratkan rencana untuk menurunkan produksi nikel tahun ini guna menyeimbangkan pasokan dan permintaan.

Pemerintah juga bersiap mengenakan denda berat kepada perusahaan tambang yang melanggar izin kehutanan, langkah yang berpotensi memicu kebangkrutan sejumlah perusahaan dan mengganggu produksi.

Pasar logam dasar mencatat awal yang kuat pada 2026. Indeks LMEX yang melacak enam logam utama di London melonjak ke level tertinggi sejak 2022, saat sektor ini mencapai puncaknya.

Selain lonjakan tajam nikel, harga tembaga sempat mencetak rekor awal pekan ini di tengah kekhawatiran AS dapat memberlakukan tarif impor, sementara aluminium menguat ke level tertinggi sejak April 2022.

Nikel, yang digunakan dalam produksi baja nirkarat dan baterai, turun 1,2 persen ke level USD 18.295 per ton di London Metal Exchange (LME) pada pukul 09.40 waktu Shanghai. Harga tembaga, aluminium, seng, dan timbal juga tercatat melemah.

“Penurunan harga nikel mencerminkan aksi ambil untung setelah lonjakan tajam, yang sebagian besar didorong oleh arus masuk modal finansial,” ujar analis Mysteel Global, Fan Jianyuan. Namun secara fundamental, menurut Fan, pasar nikel masih berada dalam kondisi surplus. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi-TNI hingga Dubalang Tertibkan PETI di Kuansing, 14 Rakit Dimusnahkan
• 7 jam laludetik.com
thumb
Sepanjang 2025, Sudinhub Jakarta Utara Tindak 5.572 Kendaraan Pelanggar Lalu Lintas
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Sederet Prediksi Pelebaran Defisit APBN 2025 jelang Pengumuman dari Purbaya
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Dokumen Lelang Trans Sulsel Segera Lengkap, Dishub Janji Tingkatkan Layanan
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Soal Protes Hakim "Ad Hoc", MA: Sampaikan Aspirasi Tanpa Ganggu Pelayanan Publik
• 8 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.