Ditangkap Trump lalu Diadili di AS, Presiden Venezuela Nicolás Maduro: Saya Tidak Bersalah

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika pada Senin (5/1/2026) waktu setempat, menyusul penangkapannya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengguncang para pemimpin dunia dan memicu kekacauan politik di Caracas.

“Saya tidak bersalah. Saya tidak melakukan kejahatan. Saya orang baik. Saya masih presiden negara saya,” ujar Maduro, 63 tahun, melalui penerjemah di Pengadilan Federal Manhattan sebelum ucapannya dipotong Hakim Distrik AS Alvin Hellerstein, dilansir dari Reuters pada Selasa (6/1/2026).

Istri Maduro, Cilia Flores, juga menyatakan tidak bersalah. Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 17 Maret 2026.

Puluhan demonstran pendukung dan penentang Maduro berkumpul di luar gedung pengadilan menjelang sidang singkat yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Beberapa jam kemudian di Caracas, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara. Dalam pernyataannya, Rodriguez menyampaikan dukungan kepada Maduro tanpa memberi sinyal akan menentang langkah Amerika Serikat.

“Saya datang dengan luka di hati atas penculikan dua pahlawan yang kini disandera,” ujarnya, seraya berjanji membawa Venezuela tetap melangkah maju di masa-masa yang mengerikan.

Baca Juga

  • Wali Kota New York Mamdani Kecam Penangkapan Maduro, Telepon Trump Langsung
  • Penangkapan Presiden Venezuela Maduro Disorot DK PBB, Sekutu AS Cenderung Diam
  • Maduro Tumbang, Krisis Utang Venezuela Kembali Mengemuka

Maduro didakwa memimpin jaringan perdagangan kokain yang bekerja sama dengan kelompok kriminal bersenjata, termasuk kartel Sinaloa dan Zetas dari Meksiko, pemberontak FARC Kolombia, serta geng Tren de Aragua asal Venezuela.

Dia menghadapi empat dakwaan pidana, yakni narkoterorisme, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak.

Maduro selama ini membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai kedok ambisi imperialis terhadap cadangan minyak besar Venezuela.

Trump tidak menutupi keinginannya untuk ikut menikmati kekayaan minyak Venezuela. Saham perusahaan minyak AS melonjak pada Senin, didorong prospek akses ke cadangan minyak raksasa negara Amerika Latin tersebut.

Di tengah reaksi keras para pemimpin dunia dan politisi AS atas penangkapan kepala negara yang belum pernah terjadi sebelumnya, pemerintah Venezuela menerbitkan perintah darurat yang memerintahkan polisi memburu dan menangkap siapa pun yang mendukung serangan AS pada Sabtu (3/1/2026) lalu.

Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan membahas implikasi penggerebekan tersebut, yang dikecam Rusia, China, dan sekutu kiri Venezuela. 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyuarakan kekhawatiran atas stabilitas Venezuela dan legalitas serangan Trump, yang disebut sebagai intervensi AS paling dramatis di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.

Pasukan Khusus AS dilaporkan masuk ke Caracas dengan helikopter pada Sabtu (3/1/2026), menembus pengamanan Maduro dan menyeretnya dari ambang ruang aman.

Maduro dan Istri Hadiri Sidang, Nyatakan Tidak Bersalah

Pada Senin (5/1/2025) pagi, Maduro, dengan tangan yang diborgol, dan istrinya dikawal petugas bersenjata lengkap dari pusat tahanan Brooklyn menuju helikopter yang membawa mereka ke pengadilan federal Manhattan.

Sidang dimulai pukul 12.02 waktu setempat, dengan hakim membacakan ringkasan dakwaan. Maduro, yang diborgol di pergelangan kaki dan mengenakan seragam tahanan oranye-krem, mengikuti persidangan melalui penerjemah.

Hakim meminta Maduro berdiri untuk mengonfirmasi identitasnya, yang dijawab dalam bahasa Spanyol. Hakim juga mengingatkan hak pasangan tersebut untuk memberi tahu konsulat Venezuela terkait penangkapan mereka.

Jaksa menyebut Maduro terlibat perdagangan narkotika sejak menjadi anggota Majelis Nasional Venezuela pada 2000, berlanjut saat menjabat menteri luar negeri hingga terpilih sebagai presiden pada 2013 menggantikan mendiang Hugo Chavez.

Pengacara Maduro, Barry Pollack, mengatakan pihaknya memperkirakan proses hukum yang panjang dan kompleks terkait apa yang dia sebut sebagai “penculikan militer” terhadap kliennya. Dia menambahkan, Maduro belum mengajukan permohonan pembebasan, meski opsi tersebut bisa dipertimbangkan kemudian.

Sementara itu, pengacara Flores, Mark Donnelly, menyatakan kliennya mengalami sejumlah cedera serius, termasuk memar parah di tulang rusuk, dan meminta pemeriksaan sinar-X serta evaluasi medis.

Jaksa federal New York pertama kali mendakwa Maduro pada 2020 dalam kasus perdagangan narkotika yang melibatkan pejabat Venezuela dan gerilyawan Kolombia. Dakwaan terbaru yang diumumkan Sabtu lalu memuat rincian tambahan serta terdakwa baru, termasuk Cilia Flores.

Amerika Serikat sejak lama menganggap Maduro sebagai pemimpin tidak sah, menyusul pemilu 2018 yang dinyatakan penuh kecurangan.

Sejumlah pakar hukum internasional pun mempertanyakan legalitas penggerebekan tersebut, dengan sebagian mengecam tindakan Trump sebagai penolakan terhadap tatanan internasional berbasis aturan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sindikat Love Scamming Internasional Ada di Yogya: Raup Rp 33 M per Bulan
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Penyidik Kejagung Satroni Kemenhut, Digeledah?
• 57 menit laluokezone.com
thumb
3 Daerah yang Masih Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Awal 2026
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo Tegaskan Program MBG Bentuk Kepedulian Negara
• 18 jam lalueranasional.com
thumb
Kumpulan Kata Bahasa Inggris Aesthetic dan Artinya untuk Caption
• 19 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.