Sebuah kantor di Jalan Gito Gati, Kabupaten Sleman, yang digerebek Polresta Yogyakarta pada Senin (5/1) lalu, ternyata merupakan kantor sindikat love scamming berskala internasional. Kantor tersebut terhubung dengan perusahaan di China dan menipu banyak korban dari luar negeri.
Setiap bulannya, kantor itu meraup puluhan miliar rupiah dari para korban.
“Satreskrim Polresta Yogyakarta mendatangi kantor PT Altair Trans Service yang beralamat di Jalan Gito Gati, wilayah Sleman, yang diduga digunakan sebagai tempat love scamming. Dalam operasi tangkap tangan, ditemukan handphone, laptop, CCTV, dan WiFi yang digunakan sebagai sarana tindak pidana,” kata Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia saat konferensi pers, Rabu (7/1).
Polisi juga menemukan foto dan video porno di ponsel serta laptop yang diamankan saat penggerebekan. Total barang bukti yang disita meliputi 50 unit laptop, 30 unit ponsel, empat unit CCTV, dan dua router WiFi.
6 TersangkaDalam operasi tersebut, polisi mengamankan 64 orang yang terdiri dari jajaran pimpinan hingga karyawan. Dari jumlah itu, enam orang ditetapkan sebagai tersangka.
Para tersangka itu:
R (laki-laki, 35 tahun) selaku CEO,
H (perempuan, 33 tahun) sebagai HRD,
P (laki-laki, 28 tahun) sebagai project manager,
M (perempuan, 28 tahun) sebagai project manager,
V (laki-laki, 28 tahun) sebagai team leader,
G (laki-laki, 22 tahun) sebagai team leader.
Pandia menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan, PT Altair Trans Service merupakan perusahaan penyedia tenaga kerja sesuai permintaan klien. Dalam kasus ini, klien mereka adalah pemilik aplikasi kencan daring asal China.
“Dalam pelaksanaannya, perusahaan mempekerjakan pegawainya untuk menjalankan aktivitas sebagai admin percakapan pada aplikasi kencan daring dari China yang telah diinstal di perangkat yang disiapkan perusahaan, baik laptop maupun handphone, lengkap dengan foto dan video bermuatan pornografi,” jelas Pandia.
Para karyawan berperan sebagai agen atau admin chat yang berpura-pura menjadi perempuan, menyesuaikan negara pengguna aplikasi seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.
Selain menyamar sebagai orang lain, karyawan juga ditugaskan membujuk pengguna agar membeli koin atau melakukan top up untuk mengirim gift di dalam aplikasi.
“Karyawan kemudian mengirimkan konten tertentu berupa foto atau video pornografi secara bertahap kepada korban. Untuk dapat mengakses konten tersebut, korban harus mengirim gift dengan nominal tertentu,” ujar Pandia.
Beroperasi Selama SetahunKasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan kantor tersebut telah beroperasi hampir satu tahun dengan keuntungan mencapai Rp 33 miliar per bulan.
“Dari hasil pemeriksaan saksi, kegiatan ini berjalan hampir satu tahun. Setiap shift memiliki target dua juta koin per bulan, dengan nilai 16 koin setara 5 dolar AS,” kata Adrian.
Ia menjelaskan, setiap sif mampu menghasilkan Rp 10-11 miliar. Dalam satu hari terdapat tiga sif.
“Rp 11 miliar dikali tiga per bulan,” ujarnya.
Adrian menyebut aplikasi kencan daring yang digunakan merupakan aplikasi kloningan asal China bernama WOW.
“Aplikasi yang digunakan adalah aplikasi kloningan dari China, yakni WOW,” katanya.
Konten pornografi yang digunakan para karyawan sebagian telah disiapkan oleh perusahaan asal China dan sebagian lainnya diunduh oleh perusahaan di Indonesia.
“Konten berupa foto dan video porno sudah tersedia di dalam galeri perangkat saat digunakan karyawan,” jelasnya.
Atas perbuatannya, enam tersangka dijerat dengan tindak pidana pornografi serta Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), dengan ancaman hukuman minimal 6 bulan dan maksimal 10 tahun penjara

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3631480/original/095248600_1636737886-simon-peel-ui-Bh1eegzQ-unsplash.jpg)



