Perairan subtropis di wilayah Northland, Selandia Baru, baru-baru ini dikunjungi hewan paling langka di dunia, yakni sub spesies dari lumba-lumba terkecil di Bumi.
Spesies yang dimaksud adalah lumba-lumba Hector (Cephalorhynchus hectori), yang terbagi menjadi dua subspesies, yakni lumba-lumba hector Pulau Selatan (C. h. hectori) dan lumba-lumba māui (C. h. maui).
Keduanya merupakan satwa endemik Selandia Baru dan secara fisik hampir mustahil dibedakan dengan mata telanjang. Tubuhnya cenderung pendek dan kekar dibandingkan lumba-lumba lain, dengan panjang sekitar 1,2 hingga 1,5 meter.
Warna tubuhnya abu-abu dan putih dengan corak hitam, serta memiliki sirip punggung hitam yang membulat dan datar, sering disamakan dengan bentuk telinga karakter Mickey Mouse.
Penampakan langka ini pertama kali dilaporkan oleh Jochen Zaeschmar, peneliti lumba-lumba dari Far Out Ocean Research Collective. Ia melihat seekor lumba-lumba soliter di Bay of Islands beberapa hari lalu, yang kemudian kembali terlihat di kawasan English Bay.
Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah individu tersebut merupakan lumba-lumba hector Pulau Selatan atau justru lumba-lumba māui yang jauh lebih langka. Karena itu, Departemen Konservasi Selandia Baru (DOC) meminta warga setempat untuk turut memantau dan melaporkan keberadaan lumba-lumba tersebut, agar peneliti dapat mengambil sampel DNA.
“Pengambilan DNA sangat krusial untuk memastikan subspesiesnya,” demikian pernyataan DOC sebagaimana dikutip IFLScience.
Meski terdapat perbedaan fisik kecil, misalnya lumba-lumba māui memiliki moncong yang lebih panjang dan lebar dibanding saudaranya, perbedaan tersebut sangat sulit dikenali sekilas. Analisis genetik menjadi cara paling akurat karena kedua subspesies memiliki perbedaan DNA yang jelas.
Lumba-lumba hector Pulau Selatan merupakan subspesies yang lebih banyak jumlahnya, dengan populasi sekitar 15 ribu individu dewasa. Sesuai namanya, mereka umumnya ditemukan di sekitar Pulau Selatan Selandia Baru. Karena itu, kemunculan mereka sejauh ini di wilayah utara tergolong sangat jarang.
“Jika ini memang lumba-lumba hector, maka ini baru penampakan terkonfirmasi kedua di Northland dalam 100 tahun terakhir,” ujar Kristina Hillock, Penasihat Senior Spesies Laut DOC.
Sementara itu, lumba-lumba māui memiliki wilayah jelajah yang jauh lebih terbatas, yakni di pantai barat Pulau Utara, terutama antara Manukau Harbour hingga Port Waikato. Subspesies ini juga jauh lebih langka, dengan perkiraan hanya sekitar 54 individu dewasa yang masih tersisa.
Identifikasi subspesies lumba-lumba yang terlihat ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Langkah tersebut merupakan bagian penting dari pemantauan konservasi. Secara global, lumba-lumba hector dikategorikan terancam punah oleh IUCN.
Di Selandia Baru sendiri, status konservasinya berbeda: subspesies Pulau Selatan berstatus rentan secara nasional, sementara lumba-lumba māui masuk kategori kritis secara nasional.
Kedua subspesies ini sangat rentan mengalami penurunan populasi lebih lanjut. Umur hidupnya relatif lebih pendek dibandingkan mamalia laut lainnya, mencapai usia dewasa cukup lambat, dan memiliki tingkat reproduksi yang rendah. Kombinasi faktor tersebut membuat upaya pemulihan populasi menjadi sangat sulit dan memakan waktu panjang.
Karena itu, pemantauan menjadi kunci. DOC pun mengimbau masyarakat yang berada di sekitar lokasi untuk waspada.
“Jika Anda melihat lumba-lumba dengan sirip punggung yang membulat, segera laporkan,” pesan DOC.
Penampakan ini bisa menjadi potongan penting dalam upaya menyelamatkan salah satu mamalia laut paling langka di dunia, dan mungkin momen bersejarah bagi konservasi laut Selandia Baru.




