TABLOIDBINTANG.COM - Pedangdut senior Mansyur S tengah berduka setelah sang istri tercinta, Rosidah binti Ismail, meninggal dunia pada Senin (5/1). Kepergian almarhumah meninggalkan kesedihan mendalam setelah 56 tahun mendampingi perjalanan hidup dan karier pelantun lagu legendaris Kopi Susu tersebut.
Di tengah rasa kehilangan, Mansyur S mengenang berbagai momen berharga bersama sang istri. Salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatannya terjadi pada hari pertama pernikahan mereka di tahun 1970. Saat itu, ia dihadapkan pada pilihan sulit antara tugas pekerjaan dan kebahagiaan sebagai pengantin baru.
Mansyur S mengungkapkan bahwa pada malam resepsi, dirinya harus segera berangkat menyanyi meski prosesi pernikahan belum sepenuhnya selesai. Keputusan itu menjadi kenangan yang tak pernah terhapus dari ingatannya hingga kini.
"Banyak, banyak sekali kenangan yang tidak pernah terlupakan. Ada satu, pada saat saya jadi mempelai tahun '70, jam 8 malam itu saya sudah dijemput untuk nyanyi. Nyanyi dijemput di suatu asrama di Cikarang. Kasihan, ditinggal dia nangis ditinggal sama suaminya yang lagi di pelaminan. Itu satu yang enggak bisa saya lupa," kenang Masyur S.
Sejak momen tersebut, Rosidah tetap setia mendampingi Mansyur S dalam suka maupun duka. Ia menjadi sosok pendamping yang selalu hadir di balik kesuksesan sang pedangdut senior. Bagi Mansyur, sang istri adalah jawaban atas doa-doanya selama ini.
Ia mengaku sejak awal berumah tangga mendambakan pasangan yang salehah dan mampu membangun keluarga yang harmonis. Menurutnya, semua itu ia temukan dalam diri almarhumah.
"Terus lagi, saya saat berkeluarga mendambakan seorang istri yang salehah, salehah, salehah. Dan keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah. Alhamdulillah saya dapati dari almarhumah istri saya, Hj. Rosyida binti Ismail. Saya dapat ibadahnya, mengurus anak, harus menjadi anak yang baik, anak yang berhasil. Alhamdulillah," ungkapnya.
Tak hanya soal peran sebagai istri dan ibu, Mansyur S juga mengenang hal-hal sederhana yang kini sangat ia rindukan, salah satunya adalah masakan sang istri. Baginya, cita rasa masakan Hj. Rosidah memiliki keistimewaan yang tak tergantikan.
"Ada lagi satu hal yang terakhir yang nggak pernah saya lupa, saya kangen sama masakan beliau. Luar biasa masakan dia. Itu saja," ucapnya.
Kini, setelah puluhan tahun bersama, Mansyur S hanya bisa mengiringi kepergian istrinya dengan doa terbaik. Ia berharap almarhumah mendapat tempat mulia di sisi Tuhan dan seluruh amal ibadahnya diterima.
"Saya kira sebagai suami yang merasakan liku-liku hidup ini, mudah-mudahan istri tercinta almarhumah Hj. Rosyida akan mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Dilapangkan kuburnya, Allah mengampuni atas segala kekhilafan, dan husnul khatimah," doanya.


