WARGA Kuba diliputi kekhawatiran potensi agresi Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela akan semakin memperparah kondisi negara tersebut. Kuba selama bertahun-tahun terjerat krisis ekonomi, kelangkaan kebutuhan pokok, serta pemadaman listrik yang berlangsung rutin.
Kecemasan itu mencuat setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam sebuah operasi dini hari. Pascaoperasi tersebut, Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu melontarkan ancaman terhadap sejumlah pemimpin kiri lain di kawasan Amerika Latin dan menyatakan keyakinannya Kuba siap runtuh.
Trump juga mengecilkan kemungkinan perlunya aksi militer langsung terhadap Kuba. Ia menilai Havana akan sulit bertahan tanpa pasokan minyak dari Venezuela.
Baca juga : AS Sita Kapal Venezuela, Kuba dan Iran Protes Keras
"2026 akan menjadi tahun yang berat, sangat berat," kata Axel Alfonso, 53, seorang sopir yang bekerja di perusahaan milik negara.
"Kalau Venezuela adalah pemasok utama, setidaknya untuk minyak, ini akan jadi sedikit rumit," ujar Alfonso, yang seperti mayoritas warga Kuba, telah menghabiskan seluruh hidupnya di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat yang diberlakukan sejak 1962.
Pulau yang diperintah Partai Komunis itu telah melewati pergantian 13 pemerintahan Amerika Serikat, dengan kebijakan yang tingkat tekanannya silih berganti. "Kami sudah bertahan dan berjuang selama 60 tahun dan kami harus terus maju," ucap Alfonso.
Baca juga : Delcy Rodriguez Resmi Dilantik sebagai Presiden Sementara Venezuela
Bayang-bayang KetidakpastianBerjarak sekitar 90 mil atau kurang lebih 145 kilometer dari pesisir Florida, Kuba terakhir kali menghadapi ujian ekonomi besar setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Saat itu, Moskow merupakan mitra dagang utama sekaligus sumber kredit utama bagi Havana. Untuk bertahan, Kuba kemudian membuka sektor pariwisata dan investasi asing.
Sejak tahun 2000, ketergantungan Kuba terhadap Venezuela meningkat, terutama dalam pasokan minyak, melalui kesepakatan yang dirintis oleh pendahulu Maduro, Hugo Chavez. Sebagai imbalannya, Kuba mengirimkan dokter, guru dan pelatih olahraga ke Venezuela.
Pada kuartal terakhir 2025, Venezuela tercatat mengirim rata-rata 30.000 hingga 35.000 barel minyak per hari ke Kuba. "Jumlah tersebut mewakili 50% dari defisit minyak pulau ini," kata Jorge Pinon, pakar energi dan peneliti di University of Texas, kepada AFP.
Volume tersebut jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu, sebelum krisis ekonomi Venezuela memangkas tajam kapasitas produksinya.
Menurut Pinon, tidak jelas apakah pengiriman minyak Venezuela ke Kuba akan berlanjut terutama dalam konteks penyitaan kapal tanker minyak di kawasan Karibia oleh Amerika Serikat baru-baru ini.
Ia menambahkan Kuba tidak memiliki sumber daya untuk membeli volume minyak sebesar itu di pasar internasional, juga tidak memiliki mitra politik yang bisa menyelamatkannya.
Dalam enam tahun terakhir, Kuba terperosok semakin dalam ke dalam krisis akibat kombinasi pengetatan sanksi Amerika Serikat, lemahnya pengelolaan ekonomi domestik, serta runtuhnya sektor pariwisata selama pandemi Covid-19.
Produk domestik bruto Kuba tercatat menyusut hingga 11% dalam lima tahun terakhir.
Pemerintah menghadapi kelangkaan devisa yang akut untuk membiayai layanan sosial dasar, mulai dari pasokan listrik dan layanan kesehatan hingga distribusi pangan bersubsidi dan kebutuhan pokok lain yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Tekanan ekonomi tersebut memicu gelombang demonstrasi antipemerintah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 11 Juli 2021. Ribuan warga turun ke jalan sambil meneriakkan "Kami lapar" dan "Kebebasan!".
Sejak protes tersebut, pemadaman listrik yang semakin sering dan berkepanjangan, serta kelangkaan pangan dan obat-obatan, terus memperdalam ketidakpuasan publik. Aksi protes sporadis dalam skala lebih kecil pun kerap muncul, meski dengan cepat berhasil dikendalikan aparat pemerintah.
Kini, banyak warga khawatir bahwa terhentinya pasokan minyak dari Venezuela akan semakin mengguncang situasi yang sudah rapuh. “Kami hidup dalam masa penuh ketidakpastian,” kata Daira Perez, 30, seorang pengacara kepada AFP.
Meski dihantui kecemasan terhadap masa depan, sebagian warga Kuba tetap berupaya menunjukkan ketegaran. "Dia (Trump) terus melontarkan ancaman keras," kata Roberto Brown, 80, warga Havana yang masih mengingat dengan jelas Krisis Rudal Kuba 1962, ketika dunia nyaris terjerumus ke dalam perang nuklir.
"Kami sudah bilang padanya dulu: kami hanya berjarak 90 mil, rudal jarak jauh dari sana bisa sampai ke sini, tapi yang dari sini juga bisa sampai ke sana," pungkas Brown. (AFP/Z-2)





