Washington, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Venezuela tidak akan mengadakan pemilu baru dalam 30 hari ke depan.
"Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa mengadakan pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa memberikan suara," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan NBC News.
"Ini akan membutuhkan waktu. Kita harus memulihkan kesehatan negara itu," tambahnya.
Trump mengatakan bahwa aksi militer AS pada Sabtu 3 Januari, telah menghasilkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Ibu Negara Cilia Flores, dan juga berjanji untuk menegakkan kendali Amerika atas negara itu untuk sementara waktu, dengan pasukan AS jika perlu.
Dia menekankan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela.
- AP Photo/Alex Brandon
“Tidak. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga-lembaga kesehatan mental mereka ke negara kita,” kata Trump.
Selain itu, dia mengatakan kepada NBC News bahwa AS dapat membantu mensubsidi upaya perusahaan minyak untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela, sebuah proses yang diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 18 bulan.
"Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang. Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan membiayainya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan," kata Trump.
Selama wawancara, NBC News mengatakan Trump menyebut beberapa pejabat AS termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller sebagai tokoh yang akan membantu memandu keterlibatan AS di Venezuela.
Ketika ditanya siapa yang pada akhirnya akan bertanggung jawab, dia memberikan jawaban satu kata: "Saya."
Maduro mengaku tidak bersalah pada Senin 5 Januari di pengadilan New York atas tuduhan federal, termasuk terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain, dengan mengatakan bahwa dia tetap menjadi pemimpin negaranya.




