Menurut informasi intelijen yang diperoleh surat kabar Inggris The Times, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat: jika gejolak di Iran semakin parah, ia akan melarikan diri ke Moskow.
EtIndonesia. Laporan The Times tertanggal 4 Januari mengutip sebuah laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Khamenei yang kini berusia 86 tahun telah menyusun rencana pelarian cadangan. Jika pasukan keamanannya tidak mampu menghentikan gelombang demonstrasi yang kian membesar, atau jika mereka berbalik meninggalkannya di tengah kekacauan, Khamenei akan meninggalkan Teheran bersama lebih dari 20 orang kepercayaannya serta anggota keluarganya.
Seorang sumber intelijen mengatakan: “Rencana ‘B’ ini disiapkan untuk Khamenei beserta para mitra yang sangat dekat dengannya dan keluarganya, termasuk putranya sekaligus penerus yang telah ditunjuk, Mojtaba.”
Beni Sabti, seorang analis yang bertahun-tahun lalu melarikan diri dari Iran dan kini bekerja untuk badan intelijen Israel, mengatakan bahwa Khamenei kemungkinan akan melarikan diri ke Moskow karena “ia tidak punya tempat lain untuk dituju.” Ia juga menyebut bahwa Khamenei sangat “mengagumi Putin, dan budaya Iran relatif mirip dengan budaya Rusia.”
Rencana pelarian ini disebut-sebut mencontoh pengalaman mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad. Pada Desember 2024, sebelum pasukan oposisi memasuki Damaskus, Assad melarikan diri ke Moskow dengan pesawat.
Sumber tersebut mengatakan bahwa “mereka telah merencanakan rute evakuasi dari Teheran, dan begitu merasa perlu untuk melarikan diri, rencana itu akan segera dijalankan.” Ini termasuk “mengumpulkan aset, properti, dan uang tunai di luar negeri untuk memastikan jalur pelarian yang aman.”
Khamenei diketahui memiliki jaringan aset yang sangat besar. Menurut estimasi hasil investigasi Reuters pada tahun 2013, total aset yang dimiliki dan dikendalikan Khamenei mencapai sekitar 95 miliar dolar AS, termasuk properti dan perusahaan. Banyak pembantu seniornya juga telah mengatur agar keluarga mereka tinggal di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, Kanada, dan Dubai.
Sejak pecahnya aksi protes di Iran pada 28 Desember tahun lalu, situasi terus memanas. Warga yang tidak puas turun ke jalan, dan tuntutan yang semula berfokus pada persoalan ekonomi telah berkembang menjadi tuntutan politik, dengan sasaran langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 Januari menyatakan bahwa jika Iran menembaki para demonstran damai atau melakukan penindasan dengan kekerasan, Amerika Serikat akan melakukan intervensi. (Hui)
Laporan diterjemahkan oleh reporter NTDTV.com Jin Jing / Editor Lin Qing





