Elon Musk Bayangkan Robot Ada di Mana-mana, Cina Sudah Wujudkan

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Bayangkan menonton film di bioskop yang dilayani robot, atau menggunakan toilet umum yang dikelola sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan. Di Cina, hal ini bukan gambaran masa depan, melainkan realitas hari ini.

Elon Musk memfokuskan bisnis Tesla pada robotik tahun ini, dengan memproduksi dalam jumlah besar, sehingga robot ada di mana pun sesegera mungkin. Pada Oktober 2024, orang terkaya di dunia versi Forbes dan Bloomberg ini memperkirakan ada 10 miliar robot humanoid pada 2040.

Namun Cina kemungkinan menjadi yang pertama mewujudkannya. Robot telah merambah logistik, fasilitas publik hingga tugas pengamanan perbatasan di Cina. Sementara Tesla belum menjual satu pun unit humanoid hingga akhir 2025.

Tesla membuka restoran ‘Tesla Diner & Drive-In’ di Hollywood. Restoran bergaya futuristik ini mengerahkan berbagai teknologi, termasuk robot Optimus u (Instagram Teslamotors)

Ekosistem Tiongkok yang terdiri dari lebih dari 150 perusahaan robotika tidak hanya berinovasi, tetapi juga melakukan komersialisasi dalam skala besar.

“Cina saat ini mengungguli Amerika Serikat dalam tahap awal komersialisasi robot humanoid,” kata mitra di perusahaan konsultan Horváth Andreas Brauchle dikutip dari CNBC Internasional, pekan lalu. “Meskipun kedua negara diperkirakan membangun pasar yang besar serupa dari waktu ke waktu, Cina berkembang lebih cepat pada fase awal ini.”

Cina menerapkan strategi terkoordinasi yang memperlakukan robot humanoid, mesin yang dirancang untuk meniru bentuk dan fungsi manusia, sebagai landasan supremasi ekonomi dan teknologi.

Beijing telah menggelontorkan miliaran dolar untuk subsidi, hibah penelitian, dan infrastruktur, menciptakan lingkungan di mana perusahaan rintisan dan pemain mapan dapat berinovasi dengan cepat.

Perusahaan seperti UBTech dan Unitree Robotics misalnya, sudah memproduksi ribuan unit setiap tahun, dengan aplikasi yang beragam mulai dari jalur perakitan manufaktur hingga layanan perhotelan.

Robot Ada di Mana-mana di Cina

K11 ART HOUSE Cinema, Shenzhen menjadi yang pertama di dunia, yang sepenuhnya menggunakan robot sebagai pekerja tanpa kendali manusia. Robot yang digunakan yakni Atom, yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Yuejiang Robotics.

Berbeda dari robot penelitian yang biasanya hanya beroperasi di laboratorium, Atom dirancang untuk bekerja langsung di lingkungan publik yang ramai, seperti bioskop.

Yuejiang Robotics menyebut Atom mampu bekerja hingga 14 jam per hari, melayani penjualan lebih dari 1.000 cangkir popcorn, membantu pelanggan, serta menangani situasi darurat kecil secara mandiri. Robot ini ditujukan untuk bekerja di lingkungan layanan dengan aktivitas tinggi sehingga membutuhkan konsistensi dan ketahanan kerja. 

Secara desain, Atom dibangun agar dapat bergerak dan menggunakan tangan layaknya manusia. Robot ini ditenagai oleh sistem kecerdasan buatan berbasis neural yang berfungsi sebagai ‘otak’, yang membuat Atom bisa memahami situasi, merencanakan tindakan, dan mengambil keputusan secara otonom tanpa intervensi manusia.

Untuk penglihatan, Atom menggunakan dua kamera yang berfungsi sebagai ‘mata’ guna mengukur kedalaman dan jarak, menyerupai cara kerja penglihatan manusia. Sementara itu, tangan dengan lima jari dilengkapi sistem umpan balik waktu nyata atau real time, yang memungkinkan penyesuaian kekuatan genggaman secara halus.

Teknologi itu membuat Atom mampu memegang gelas popcorn, baki, maupun kemasan tanpa tergelincir atau merusaknya, sebagaimana dikutip dari Gizmochina pada Senin (5/1).

Selama liburan Festival Musim Semi pada awal 2025, robot humanoid yang dilengkapi dengan perlengkapan polisi menemani petugas berpatroli di jalanan di Shenzhen.

Robot polisi melakukan atraksi saat upacara HUT ke-79 Bhayangkara di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Selasa (1/7/2025) (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Dikutip dari Xinhua pada Juni 2025, perusahaan-perusahaan di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan di China barat daya, mengerahkan robot di lingkungan nyata termasuk sekolah dasar, jalur pejalan kaki di pusat kota, dan objek wisata di.

Di Sekolah Dasar Paotongshu Chengdu, para siswa berinteraksi dengan dua jenis robot yang berbeda, yaitu Xiao Zha, robot jenaka dengan dua kaki beroda dari Chengdu Humanoid Robot Innovation Center yang menyampaikan salam pagi, serta robot berkaki empat TD Tech yang berpatroli di koridor untuk menjaga keamanan.

Di pusat-pusat budaya Chengdu, robotika canggih meningkatkan pengalaman wisatawan. Di sepanjang Jalur Pejalan Kaki Jinli di pusat kota, kacamata realitas tertambah alias augmented reality (AR) dari INMO Technology menyediakan terjemahan waktu nyata atau real time bagi turis asing.

Sementara itu, di Kuil Wuhou, pemandu holografik menampilkan perencanaan rute interaktif kepada pengunjung, dan layar AI menawarkan dukungan multibahasa.

Untuk manajemen perkotaan, Ultra Magnus, robot bipedal yang dilengkapi dengan anggota tubuh yang lincah dan lapisan logam, menjadi petugas yang mengarahkan lalu lintas di jalan distrik bisnis.

Sementara itu, beberapa anjing robot melakukan patroli keamanan di Lapangan Tianfu, jantung kota Chengdu.

Sempat viral juga di Indonesia pada akhir 2025, kontainer berukuran kecil – sedang mengangkut logistik di Cina selama 24 jam, tanpa ada peran manusia.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
Sebuah kiriman dibagikan oleh INFO HSE INDONESIA (@infohse.id)

Di terminal pelabuhan Guangzhou di Guangdong, Tiongkok selatan, derek bertenaga AI secara otomatis membongkar kapal kargo, sementara kendaraan tanpa pengemudi menavigasi dermaga dengan presisi seperti mesin jam.

Inilah revolusi pelabuhan otomatis Cina yang sedang berlangsung. Terminal Nansha Fase IV di Guangzhou, yang selesai dibangun pada November 2024, termasuk di antara 52 pelabuhan yang sepenuhnya otomatis di negara itu pada akhir tahun 2024, menurut Kementerian Perhubungan.

Ke-52 pelabuhan itu membentang di sepanjang garis pantai Tiongkok, dari Teluk Bohai hingga Delta Sungai Yangtze dan Kawasan Teluk Besar Guangdong - Hong Kong - Makau, membentuk jaringan yang terdepan dalam skala, efisiensi, dan teknologi di seluruh dunia.

"Sebelumnya, operator derek bekerja di kabin setinggi 40 meter, berjuang keras untuk melihat kontainer di bawah," kata salah satu operator veteran di Pelabuhan Guangzhou Yang Xuan dikutip dari Xinhua pada April 2025.

"Sekarang kami beroperasi di ruang kendali cerdas yang berjarak ratusan meter dari kapal, dengan efisiensi dan keamanan yang jauh lebih tinggi,” Yan Xuan menambahkan.

Terminal itu mengintegrasikan teknologi mutakhir termasuk navigasi BeiDou, komunikasi 5G, pengemudian otomatis, dan AI. Kendaraan berpemandu cerdasnya secara otomatis menghitung rute optimal, sementara algoritma cerdas mengoordinasikan semua peralatan pemuatan.

Kemajuan ini mengubah aturan produktivitas. Di Provinsi Shandong, Cina timur, terminal otomatis pelabuhan Qingdao mencetak rekor dunia ke-11 untuk kecepatan pemuatan pada bulan Desember 2024, dengan setiap derek menangani rata-rata 60,6 kontainer per jam, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dermaga tradisional.

Kolaborasi antar-pelabuhan otomatis telah sangat meningkatkan efisiensi pengiriman. Jalur Shanghai dan Guangzhou misalnya, memangkas biaya logistik hingga 65% dibandingkan dengan transportasi darat.

Pelabuhan-pelabuhan di seluruh Cina juga semakin banyak mengintegrasikan solusi AI. Pada Maret 2025, Sinotrans South China Co., Ltd. meluncurkan asisten AI yang didukung oleh model bahasa DeepSeek, memungkinkan klien untuk menjalankan kueri tentang status pengiriman dalam bahasa yang mudah dipahami.

"Baik itu menanyakan tentang rencana dermaga, pergerakan kontainer, atau kemajuan pemuatan, pelanggan mendapatkan respons instan dan akurat melalui perintah sederhana," kata Ye Zengjian, engineer di Sinotrans South China Co., Ltd.

World Humanoid Robot Games pertama di dunia yang digelar di Beijing, Cina pada 15 – 17 Agustus (YouTube ShanghaiEye)

Kini, produsen robot UBTECH Robotics mendapatkan kontrak 264 juta yuan di Guangxi pada akhir 2025 untuk mengerahkan robot humanoid industri Walker S2 dalam mendukung pelayanan publik di perbatasan dengan Vietnam.

Robot berbentuk manusia itu memandu para pelancong, memindahkan perbekalan, dan mendukung patroli. Proyek ini dimulai pada Desember 2025.

Cina Target Integrasikan AI di 90% Sektor Ekonomi pada 2030

Beijing meluncurkan strategi terbaru untuk memenangkan perlombaan AI pada akhir Oktober 2025. Cina berambisi mempercepat adopsi AI setidaknya enam bidang utama, mulai dari mempercepat penelitian dan pengembangan ilmiah hingga meningkatkan kapasitas tata kelola.

Rencana itu menetapkan target konkret yang mencolok, termasuk menerapkan berbagai aplikasi di 90% sektor ekonomi yang luas hanya dalam lima tahun. Bayangkan asisten AI yang tersebar luas dan tertanam di sebagian besar aspek kehidupan, mulai dari peralatan manufaktur hingga layanan kota, atau infrastruktur kota pintar yang dapat mengoptimalkan arus lalu lintas dan penggunaan energi secara real-time.

Peneliti di Program Teknologi dan Hubungan Internasional di Carnegie Endowment for International Peace Scott Singer menyebutkan, Cina yakin dapat mengintegrasikan AI di seluruh bagian masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dan mengamankan kepemimpinan AI.

Strategi itu pernah digunakan Tiongkok sebelumnya. Pada pertengahan 2010-an, Beijing mentransformasi ekonomi digital dengan menyebarkan aplikasi internet di seluruh apa yang disebut sebagai ‘ekonomi riil’.

Pendekatan adopsi AI Cina saat ini berpusat pada Inisiatif AI+, yang merupakan kiasan terhadap tujuan Internet+ pemerintah sebelumnya untuk mengejar transformasi digital sektor tradisional melalui integrasi teknologi.

Inisiatif AI+ diluncurkan pada Konferensi Kerja Ekonomi Pusat Desember 2024, tepat sebelum DeepSeek menjadi terkenal secara global.

Hingga saat ini, AI+ sebagian besar beroperasi sebagai sinyal penggalangan dana dari pemerintah pusat yang dirancang untuk memobilisasi sumber daya di seluruh sistem Tiongkok yang lebih luas. Rencana yang baru diumumkan oleh Dewan Negara menawarkan formulasi paling rinci tentang bagaimana pemerintah pusat membayangkan AI disebarkan ke seluruh perekonomian.

Ambisi itu bertumpu pada apa yang diyakini Cina sebagai resep kebijakan teknologi baru yang terbukti dan mudah diadaptasi, yakni pemerintah mengirimkan sinyal permintaan yang jelas, pemerintah daerah dan modal swasta mengisi celah, banyak inisiatif gagal sementara beberapa berhasil, dan ekonomi tumbuh.

Ini itu merupakan formula yang sama yang memungkinkan Cina untuk mengembangkan ekonomi secara besar-besaran selama booming internet pada pertengahan 2010-an.

Selama waktu itu, Cina mengarahkan kembali ekosistem modal ventura yang sudah ada tetapi berkembang pesat, yang telah menciptakan rata-rata 238 dana baru per tahun.

Investor swasta berkumpul di kota-kota pesisir dan mengkatalisasi investasi dalam inovasi yang paling menjanjikan. Dana yang didukung negara menyebarkan investasi teknologi ke pedalaman Tiongkok, memastikan cakupan geografis yang komprehensif.

Insentif raksasa teknologi Cina untuk mengembangkan aplikasi internet sangat selaras dengan prioritas pemerintah pusat. Dan para pembuat kebijakan berupaya menciptakan lingkungan regulasi yang optimal, mendorong persaingan ketat antar pemerintah daerah untuk menjadi pusat AI sambil melindungi pasar domestik dari persaingan Barat.

Kombinasi kekuatan finansial, keselarasan insentif perusahaan-pemerintah, dan regulasi yang dikalibrasi dengan cermat itu membantu startup AI di Cina untuk berkembang. “Hasilnya dramatis. Pendanaan ekuitas Tiongkok untuk startup AI melonjak dari 11% dari investasi global pada 2016 menjadi 48% pada 2017, melampaui Amerika Serikat,” kata dia dalam laman resmi, pada September 2025.

Strategi itu juga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Cina, yang tumbuh lebih dari 6% setiap tahun sejak 2015 hingga pandemi corona.

Akan tetapi, untuk mewujudkan visi terkait AI saat ini, Cina menghadapi tantangan dari sisi ekosistem modal ventura yang sedang lesu. Pendanaan VC untuk startup AI Tiongkok turun hampir 50% secara tahunan alias year on year (yoy) pada awal 2025.

“Itu mencerminkan kehati-hatian investor yang lebih luas di tengah pertumbuhan yang lambat, ketidakpastian regulasi, dan ketegangan geopolitik,” kata Scott.

Pada kuartal kedua 2025, pendanaan turun menjadi hanya US$ 4,7 miliar atau level terendah dalam satu dekade. Beberapa faktor di antaranya sektor real estat anjlok, tingkat pengangguran kaum muda melebihi 17%, dan kepercayaan konsumen menurun.

Situasi geopolitik juga tidak membantu, dengan kontrol ekspor yang masih menghantam sektor teknologi Tiongkok, tarif yang mengancam perekonomian secara lebih luas, dan langkah-langkah kebijakan yang berfokus pada kontrol ideologis yang menakutkan sebagian besar investor.

Krisis pendanaan itu dinilai dapat menimbulkan masalah khusus bagi penerapan AI. Ketika Tiongkok meluncurkan aplikasi pembayaran seluler dan pengiriman makanan pada pertengahan 2010-an, teknologi intinya sudah berfungsi. Perusahaan hanya membutuhkan modal untuk meningkatkan akuisisi pengguna dan membangun jaringan logistik.

Integrasi AI pada dasarnya berbeda. Dibutuhkan penelitian dan pengembangan (R&D) yang berkelanjutan agar dapat bekerja dengan andal dalam konteks tertentu.

Suatu rumah sakit tidak bisa hanya memasang ChatGPT dan menyebutnya sebagai layanan kesehatan yang didukung AI. Diperlukan pengembangan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menangani alur kerja medis, kepatuhan terhadap peraturan, dan integrasi dengan sistem yang ada.

“Tanpa modal yang cukup untuk mendanai siklus pengembangan multi-tahun ini, sebagian besar proyek AI+ akan terhenti sebelum mereka menyelesaikan masalah implementasi inti. Waktunya sangat buruk karena Tiongkok membutuhkan investasi berkelanjutan dalam R&D AI tepat ketika lingkungan pendanaan telah berubah menjadi lebih menghindari risiko dan berfokus pada jangka pendek,” ujar Scott.

Meskipun pendanaan pemerintah tetap menjadi alternatif potensial untuk investasi swasta, kemungkinan besar akan dibatasi di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan beban utang pemerintah daerah yang meningkat, sehingga membatasi kemampuan negara untuk sepenuhnya mengkompensasi kekurangan pendanaan swasta.

Pertumbuhan ekonomi Cina terbaru dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Meski begitu, dalam persaingan ketat untuk dominasi di bidang robotika berbasis AI, Cina melaju lebih cepat. Sementara Amerika Serikat bergulat dengan hambatan regulasi dan jalur yang lebih lambat menuju pasar. 

“Alih-alih panik berdasarkan ketakutan yang berlebihan tentang kemajuan Cina, para pembuat kebijakan AS harus fokus pada apa yang benar-benar dapat diberikan Tiongkok,” ujar Scott.

Namun, meskipun Washington harus memperlakukan proyeksi jangka pendek Beijing dengan skeptis, persaingan AI pada akhirnya akan bergantung pada fundamental ekonomi yang lebih dalam dan eksekusi kebijakan yang berkelanjutan.

“Di sini, para pembuat kebijakan AS tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu dan meremehkan Cina. Para pembuat kebijakan AS tidak siap ketika Tiongkok membangun kekuatan yang mendalam dan diperoleh dengan susah payah di bidang energi, 5G, dan robotika industri, termasuk AI yang terintegrasi,” Scott menambahkan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bahlil Tegaskan Koalisi Pendukung Prabowo–Gibran Tetap Solid: Kita Kompak Bantu Presiden
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Bareskrim Polri Amankan 5 Tersangka Jaringan Judi Online, 1 Buron
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Pengelola Ancol (PJAA) Terima Ganti Rugi Proyek Tol Senilai Rp175,9 Miliar
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Telkomsel Tunjuk Lionel Chng Jadi Direktur Marketing, Ini Daftar Direksi Terbaru
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Perang Bintang Persib Vs Persija di BRI Super League: Siapa yang Mendapat Sorotan Tajam?
• 7 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.