Pemerintah harus memberikan perhatian terhadap kelaikan kapal wisata yang beroperasi di destinasi wisata superprioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Sebab, kapal-kapal yang tidak laik itu rentan tenggelam ketika terjadi cuaca ekstrem. Hal ini dikhawatirkan akan membuat pariwisata di Labuan Bajo dan Indonesia tercoreng.
Sejumlah pihak mendesak agar Kementerian Perhubungan segera menertibkan semua kapal wisata yang beroperasi di Labuan Bajo. Ini menyusul tenggelamnya KM Putri Sakinah yang menewaskan Martin Carreras Fernando (44) berserta keluarga. Martin adalah pelatih klub sepakbola putri Valencia, Spanyol.
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah 30 menit berlayar dari Pulau Kalong, pada Jumat (26/12/2025), tepatnya pukul 20.30 Wita, mesin kapal mati. Kapal terombang-ambil oleh kondisi cuaca buruk sehingga kapal tersebut pun tenggelam. Awak kapal dan penumpang berusaha mencari selamat.
Kapal itu dicarter oleh keluarga Fernando. Ada istrinya Ortuno Andrea serta keempat anak mereka, Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, Martines Ortuno Enriquejavier, dan Mar Martinez Ortuno.
Ortuno Andrea dan Mar Martinez ditemukan selamat. Namun, seperti ayahnya, Martines Ortuno Maria Lia dilaporkan tewas. Sedangkan Martin Garcia dan Martines Enriquejavier masih dicari.
Ragel Manafe (30), warga Kota Kupang yang pernah berwisata ke Labuan Bajo meminta semua kapal diperiksa ulang. Pemeriksaan mulai dari kondisi mesin dan ukuran serta bentuk badan kapal. Dengan begitu, kapal yang tidak laik laut dilarang beroperasi.
"Rombongan kami pernah nyaris tenggelam sekitar Pulau Padar pada bulan Juli 2022 lalu. Saya trauma sampai hari ini," ungkap Ragel pada Selasa (6/1/2026). Pulau Padar merupakan bagian dari destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Doni Parera, pegiat wisata di Labuan Bajo, mengatakan, desain dan modifikasi banyak kapal wisata di Labuan Bajo tidak mempertimbangkan aspek keselamatan. Sebab, yang dikejar adalah pendapatan sehingga pemilik menambahkan ruang di kapal.
"Kapal yang dulu, yang dioperasikan oleh nelayan setempat untuk mengangkut tamu, itu lambungnya lebar dan tidak tinggi. Desain ini memang cocok untuk kondisi laut setempat. Karena itu, dulu jarang terjadi kasus tenggelam kapal," ucapnya.
Namun kini, kapal wisata didesain dengan model ramping lalu disusun menjadi lebih dari dua dek. Setiap dek diisi beberapa kamar demi menampung lebih banyak tamu. Model kapal yang ramping dan tinggi mudah tumbang jika terjadi angin atau gelombang tiba-tiba.
Menurut Doni, persoalan seperti ini sudah diketahui oleh Kementerian Perhubungan yang memberi izin operasi serta izin berlayar bagi setiap kali kapal hendak meninggalkan pelabuhan. "Pasti ada yang tidak beres dalam proses perizinan itu," ucapnya.
Serial Artikel
Mengapa Kapal Wisata yang Tenggelam di Labuan Bajo Terus Berulang?
Keselamatan wisatawan harus jadi prioritas. Kecelakaan berulang dapat mencoreng nama destinasi superprioritas.
Sementara itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD NTT Yunus Takandewa mengatakan, tenggelamnya KM Putri Sakinah telah mencoreng pariwisata Indonesia. Lebih dari itu, peristiwa ini menyayat rasa kemanusiaan dunia karena telah merenggut nyawa para wisatawan.
Menurut dia, pengelola pariwisata termasuk otoritas pelabuhan, harus dimintai pertanggungjawaban karena abai terhadap keselamatan wisatawan. Ada pengabaian atau pembiaran terhadap aspek kelaikan kapal maupun kondisi cuaca setempat.
Ia berharap Kementerian Pariwisata dan Kementrian Perhubungan peka pada peristiwa ini. "Agar Labuhan Bajo yang disebut sebagai tujuan wisata superprioritas sudah harus memiliki standar pelayanan dan keselamatan internasional," kata Yunus.
Terkait banyak kapal tidak laik laut, Kepala Bidang Humas dan Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Heri Junaedi belum memberikan penjelasan. Kendati sempat membacanya, pertanyaan yang dikirim lewat pesan singkat sejak Selasa pagi belum juga direspons.
Sebagai sebuah destinasi wisata superprioritas, Labuan Bajo menarik banyak wisatawan ke sana. Di Pulau itu, hidup komodo, reptil purba yang masih bertahan hidup. Komodo pernah ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia pada tahun 2012.
Komodo menjadi ikon destinasi pariwisata setempat. Keberadaannya kian dikenal setelah ramai dipromosikan dan menjadi bagian dari destinasi superprioritas Labuan Bajo. Tahun 2024, lebih dari 400.000 turis berkunjung ke sana.
Selain Pulau Komodo, Pulau Padar juga tak kalah menariknya. Berada di puncak perbukitan, wisatawan dapat melihat lekukan bikit yang indah. Terlebih saat Desember, tampak rumput menghijau di atas bukit karang.
Ketika matahari terbit, itulah saat yang tepat menikmati panorama Pulau Padar. Banyak wisatawan menyewa kapal untuk berlayar ke Padar pada malam hari. Mereka tidur di atas kapal lalu pada pagi harinya mendaki ke puncak Padar.
Serial Artikel
"Permaisuri" Komodo dari Puncak Padar
Puncak Pulau Pandar dicapai setelah melewati 815 anak tangga. Puncak itu menawarkan pesona lekukan teluk yang saling membelakangi. Bersama Pulau Komodo, Padar biasa ditawarkan sebagai destinasi kepada wisatawan.




