Bisnis.com, JAKARTA – Daya dorong dividen sebagai pemanis kinerja saham, nyatanya belum mampu memberikan tenaga secara jangka panjang bagi penguatan saham terkait. Beberapa saham yang tercatat royal membagikan dividen, masih mengalami koreksi selepas euforia.
Hal itu tampak dari kinerja 20 saham paling royal membagikan dividen, yang tergabung dalam IDX High Dividend 20. Sepanjang 2025, kinerja indeks tersebut turun tipis 0,41% saat IHSG melesat 22,13%.
Meskipun begitu, secara bulanan indeks IDX High Dividend 20 sempat ouperform IHSG pada Mei 2025 dengan kenaikan 7,83% dan Oktober 2025 dengan kinerja positif 6,13%.
Kenaikan kinerja indeks tersebut tidak terlepas dari sentimen pengumuman dividen dari sejumlah konstituennya. Pada Mei-Juli 2025, misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mengumumkan dividen final tahun buku 2024 senilai Rp21,04 triliun dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) senilai Rp7,8 triliun.
Adapun, pada Oktober 2025, UNTR mengumumkan dividen interim tahun buku 2025 senilai Rp2,05 triliun dan PT Astra International Tbk. (ASII) senilai Rp3,96 triliun.
Analis Senior Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai, kinerja fluktuatif indeks saham royal dividen sepanjang 2025, memang menunjukkan bahwa dividen hanya bersifat pemanis sementara terhadap kinerja saham.
“Lesunya IDX High Dividend 20 sepanjang 2025, menegaskan bahwa dividen lebih berfungsi sebagai katalis jangka pendek, belum mampu mendorong tren naik yang berkelanjutan,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (6/1/2026).
Lesunya kinerja saham royal dividen memang tampak signifikan sepanjang 2025. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, terkoreksi 17,26% sepanjang setahun belakangan. Begitu juga dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang terkoreksi 15,52% pada periode yang sama.
Kiwoom menilai, kinerja indeks yang terbatas belakangan, lebih disebabkan oleh terbatasnya prospek pertumbuhan laba emiten terkait. Dengan demikian, rotasi investor ke saham-saham bertema growth tidak terhindarkan.
Meskipun, dari sisi fundamental, kinerja arus kas emiten dalam indeks ini cenderung kuat. Hanya saja, pertumbuhannya dinilai moderat sehingga kurang menarik minat investor untuk capital gain jangka panjang.
Sementara itu, kinerja emiten terafiliasi konglomerat Tanah Air justru menawarkan story pertumbuhan yang kian menarik. Emiten milik Prajogo Pangestu misalnya, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), misalnya, telah terbang 792,11%, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 239,04%, atau PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) telah naik 83,33%.
“Tekanan indeks terutama berasal dari terbatasnya prospek pertumbuhan laba dan rotasi investor ke saham bertema pertumbuhan, sehingga dividen lebih dipandang sebagai pemanis sesaat menjelang cum date,” katanya.
Memasuki 2026, Kiwoom menilai peluang penguatan tetap terbuka. Terlebih, di tengah tren penurunan suku bunga yang berlanjut dan kondisi makro yang kian stabil. Hanya saja, pergerakannya cenderung gradual dan selektif terhadap saham-saham tertentu.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





