Bisnis.com, JAKARTA – PT Toyota Astra Motor (TAM) berharap tahun 2026 menjadi momentum pemulihan pasar otomotif nasional, seiring dengan catatan kinerja lesu sepanjang tahun lalu.
Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily mengatakan, 2025 menjadi tahun yang sangat menantang bagi pelaku industri otomotif, karena permintaan masyarakat secara umum juga ikut menurun.
Seiring dengan itu, lanjutnya, fokus Toyota sebagai perusahaan mobilitas tidak semata-mata menghadirkan produk kendaraan, melainkan juga menyediakan solusi mobilitas yang sesuai dengan beragam kebutuhan masyarakat Indonesia.
Menurut Ernando, kondisi makroekonomi serta tingkat daya beli masyarakat dinilai akan menjadi faktor penentu utama dalam membentuk arah pergerakan pasar pada 2026.
"Stagnasi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir semestinya menjadi pembelajaran, sehingga tahun 2026 diharapkan dapat menjadi titik balik bagi pemulihan pasar otomotif nasional," ujar Ernando kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, volume penjualan mobil wholesales alias dari pabrik ke dealer masih terkontraksi 9,6% (year-on-year/YoY) menjadi 710.084 unit pada Januari–November 2025, dibandingkan periode 11 bulan 2024 sebesar 785.917 unit.
Baca Juga
- Toyota Berharap Insentif Fiskal untuk Dongkrak Penjualan Mobil 2026
- Daftar Eksportir Mobil Terbesar per November 2025, Toyota hingga Hyundai
- Toyota Pimpin Pasar Mobil Hybrid (HEV) November 2025, Suzuki & Honda Mengekor
Adapun, Gaikindo telah merevisi target penjualan mobil baru pada 2025 menjadi 780.000 unit, dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 850.000–900.000 unit.
Sementara itu, penjualan mobil secara ritel atau dari dealer ke konsumen pun ikut merosot 8,4% YoY menjadi 739.977 unit, dibandingkan pada 11 bulan 2024 yang mencatatkan angka 807.586 unit.
Sebelumnya, Toyota berharap pemerintah dapat memberikan insentif fiskal untuk industri otomotif pada 2026 dalam rangka mendongkrak penjualan mobil yang masih lesu.
Misalnya, pemberian relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dengan persyaratan tertentu pada 2021, kala itu penjualan mobil naik 66,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Semoga tahun ini seluruh stakeholder yang menjadi bagian dari industri otomotif nasional bisa berkolaborasi bersama untuk mendorong pertumbuhan pasar serta menjaga daya saing industri ke depan. Termasuk kehadiran pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan," pungkas Ernando.
Ditinjau dari sisi kinerja, Toyota masih memimpin pasar otomotif nasional dengan pangsa pasar sebesar 31,5%. Sepanjang Januari–November 2025, penjualan wholesales Toyota tercatat mencapai 224.018 unit, sementara penjualan ritel mencapai 233.655 unit.




