Kegiatan belajar mengajar mulai kembali berjalan pascabencana di Sumatera sejak Senin (5/1). Namun, tidak semua siswa bisa belajar di sekolah masing-masing. Sebagian harus mengikuti pembelajaran dari tenda darurat.
Kapusdatin BNPB Abdul Muhari (Aam) mengatakan, proses pembelajaran dari tenda darurat akan berlangsung selama 2–3 pekan ke depan.
“Untuk sekolah-sekolah yang kemarin masih memulai proses belajar mengajar di tenda sementara, kemungkinan kondisi ini akan berlangsung hingga 2–3 minggu ke depan sampai benar-benar sekolah tersebut bersih dan dapat dioptimalkan seperti semula,” kata Aam dalam jumpa pers, Selasa (6/1).
Menurutnya, ada sekitar 54 sekolah yang tidak bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Nah, ini yang kita dukung dulu sementara dengan tenda darurat. BNPB sendiri, untuk di Aceh, setidaknya di Pidie Jaya ada 6 tenda, di Gayo ada 5 tenda, dan beberapa tempat lain yang masih menggunakan tenda darurat,” paparnya.
Aam memastikan, meski harus belajar di tenda, hal tersebut tidak akan mengurangi fokus para siswa untuk menimba ilmu. Buku hingga peralatan sekolah lainnya juga disediakan oleh BNPB.
Ia menambahkan, selama 2–3 minggu ke depan, proses pemulihan sekolah-sekolah yang tidak bisa digunakan untuk belajar akan dilakukan.
“Itu (waktu 2–3 pekan) estimasi kami secara kasar saja, karena di beberapa titik lumpurnya masih cukup banyak. Selain itu, meja dan kursi juga sudah rusak. Ada beberapa sekolah yang ruangannya sebenarnya bisa digunakan, tetapi sementara masih belajar di lantai dulu,” tutupnya.




