Human Metapneumovirus atau HMPV—yang dijuluki "super flu" oleh sebagian media—sebenarnya bukan virus baru. Ia sudah ditemukan sejak 2001 dan rutin mampir setiap musim dingin di berbagai belahan dunia. Yang membuat kita panik kali ini adalah jumlah kasusnya yang tiba-tiba melonjak di China pada akhir 2025, dan kini mulai terdeteksi di Indonesia.
Bedanya dengan flu biasa? Gejalanya memang mirip: batuk, pilek, demam, sesak napas. Tapi pada kelompok rentan—anak-anak di bawah lima tahun, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta—HMPV bisa berkembang jadi pneumonia atau bronkiolitis. Bayangkan seperti flu yang "naik kelas" menjadi lebih agresif.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Jenderal P2P Kemenkes, mengingatkan tiga langkah utama: waspada tanpa panik, tingkatkan imunitas, dan jaga protokol kesehatan. Sederhana, tapi justru di situlah letak tantangannya.
Kelelahan Pandemi yang Masih TersisaJujur saja, siapa yang tidak lelah dengan protokol kesehatan? Setelah hampir tiga tahun hidup dengan masker, hand sanitizer, dan jaga jarak, kita semua ingin kembali normal. Makan di restoran tanpa khawatir, nonton bioskop tanpa cek-cok soal masker, naik transportasi umum tanpa parno.
Tapi "kembali normal" bukan berarti menutup mata pada risiko yang masih ada. Ini yang sering kita lupakan. Kita cenderung berpikir hitam-putih: kalau tidak lockdown, berarti aman. Kalau tidak ada wabah besar, berarti boleh lengah.
Padahal, kesehatan masyarakat itu seperti merawat tanaman. Bukan cuma disiram saat layu, tapi perlu perhatian rutin agar tetap subur. Cuci tangan, etika batuk, tidak memaksakan diri saat sakit—itu bukan tindakan berlebihan. Itu investasi kesehatan jangka panjang.
Sistem Kesehatan Kita Siap atau Tidak?Yang membuat saya gelisah bukan hanya soal virusnya, tapi kesiapan kita sebagai masyarakat. Selama pandemi COVID-19, kita melihat sendiri betapa rapuhnya sistem kesehatan kita. Rumah sakit kewalahan, tenaga medis kelelahan, oksigen langka, bahkan tempat pemakaman penuh. Apakah kita sudah belajar dari pengalaman itu? Apakah fasilitas kesehatan kita kini lebih siap menghadapi lonjakan kasus penyakit pernapasan? Apakah stok obat dan alat medis sudah diantisipasi? Saya berharap jawabannya "ya". Tapi melihat bagaimana kita masih sering reaktif ketimbang proaktif, saya tidak terlalu yakin. Kita baru panik saat angka kasusnya sudah tinggi, baru bergerak saat masalahnya sudah di depan mata. Padahal, pencegahan selalu lebih murah dan efektif daripada pengobatan.
Belajar Hidup dengan Ketidakpastian
Mungkin inilah kenyataan baru yang harus kita terima: dunia pasca-pandemi bukan berarti dunia tanpa ancaman penyakit menular. Virus akan terus bermutasi, penyakit baru akan terus muncul. Kita tidak bisa hidup dalam ketakutan terus-menerus, tapi juga tidak bisa bersikap seolah-olah semuanya sudah aman.
Yang kita butuhkan adalah keseimbangan. Waspada, tapi tidak paranoid. Hati-hati, tapi tetap produktif. Menjaga kesehatan diri dan orang lain, tanpa mengorbankan kesehatan mental kita sendiri.
Tanggung Jawab BersamaSuper flu, HMPV, atau apapun namanya, mengingatkan kita bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga medis, tapi juga tanggung jawab setiap individu. Saat kita sakit tapi tetap memaksakan masuk kantor, kita tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Saat kita tidak menutup mulut saat batuk, kita menyebarkan risiko ke orang-orang di sekitar.
Mungkin terdengar klise, tapi kesadaran kolektif inilah yang akan menyelamatkan kita dari krisis kesehatan berikutnya. Bukan vaksin saja, bukan obat saja, tapi kesadaran bahwa kita semua terhubung dalam satu ekosistem kesehatan.



