Bisnis.com, JAKARTA — Produsen mobil asal Jepang, PT Honda Prospect Motor (HPM) membeberkan sejumlah faktor penyebab lesunya penjualan mobil sepanjang 2025.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy mengatakan, sepanjang 2025, tantangan utama industri otomotif berasal dari tekanan daya beli konsumen, pengetatan pembiayaan, serta dinamika ekonomi.
"Kondisi ini membuat konsumen semakin berhati-hati dan selektif dalam mengambil keputusan pembelian," ujar Billy kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).
Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume penjualan mobil wholesales alias dari pabrik ke dealer masih terkontraksi 9,6% (year-on-year/YoY) menjadi 710.084 unit pada Januari–November 2025, dibandingkan periode 11 bulan 2024 sebesar 785.917 unit.
Adapun, Gaikindo telah merevisi target penjualan mobil baru pada 2025 menjadi 780.000 unit, dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 850.000–900.000 unit.
Sementara itu, penjualan mobil secara ritel atau dari dealer ke konsumen pun ikut merosot 8,4% YoY menjadi 739.977 unit, dibandingkan pada 11 bulan 2024 yang mencatatkan angka 807.586 unit.
Baca Juga
- Honda HR‑V vs Hyundai Creta Bekas Awal 2026, Harga Mulai Rp136 Juta
- Pasar Mobil Listrik di AS Lesu, LG Jual Pabrik Baterai EV ke Honda
- Honda Minta Pemerintah Guyur Insentif untuk Dorong Pasar Otomotif 2026
Lebih lanjut Billy mengatakan, pada 2026, pasar otomotif akan dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah, kemudahan akses pembiayaan, serta kondisi ekonomi secara umum.
"Menjawab tantangan tersebut, strategi Honda difokuskan pada penyediaan pengalaman menyeluruh bagi konsumen, dengan memperkuat model-model yang paling relevan dengan kebutuhan pasar," jelasnya.
Pada saat yang sama, Honda akan terus mengembangkan elektrifikasi secara bertahap untuk memperkuat karakter dan nilai khas Honda di setiap produknya.
Billy menyampaikan bahwa pelaku industri pada dasarnya menaruh harapan besar terhadap arah kebijakan pemerintah ke depan. Dia menilai perumusan insentif dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek agar selaras dengan sasaran pembangunan jangka panjang sektor otomotif nasional.
Menurutnya, dukungan kebijakan yang mampu menjaga keberlanjutan industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi ekspektasi utama para pelaku usaha.
Adapun, penjualan ritel Honda sepanjang 11 bulan 2025 mencapai 64.225 unit dengan pangsa pasar 8,7%. Kontribusi terbesar berasal dari Honda Brio yang membukukan lebih dari 35.000 unit, disusul Honda HR-V dan Honda WR-V yang masing-masing mencatatkan lebih dari 12.000 unit dan 7.000 unit.


