FAJAR.CO.ID, TEHERAN — Sekretariat Dewan Pertahanan Republik Islam Iran mengutuk peningkatan retorika yang mengancam dan pernyataan intervensionis terhadap negara tersebut, dan berjanji akan memberikan tanggapan yang keras.
“Keamanan, kemerdekaan, dan integritas teritorial Iran adalah garis merah yang tak dapat dilanggar,” tulis sekretariat dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa.
“Setiap agresi atau kelanjutan tindakan permusuhan akan ditanggapi dengan tanggapan yang proporsional, tegas, dan definitif,” tambahnya.
Musuh-musuh lama Iran, yang telah berulang kali dan secara eksplisit bertanggung jawab atas pembunuhan perempuan dan anak-anak Iran, kini berupaya untuk menghancurkan dan merusak seluruh negara dengan mengulangi dan mengintensifkan retorika yang mengancam dan membuat pernyataan intervensionis yang secara terang-terangan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang telah ditetapkan.
Pendekatan ini bukan hanya ekspresi posisi politik tetapi merupakan bagian dari pola tekanan dan intimidasi, yang tidak dapat dibiarkan tanpa konsekuensi dan biaya, atau dianggap di luar persamaan berbasis lapangan.
Dengan mengandalkan solidaritas nasional, kemampuan pencegahan yang komprehensif, dan kesiapan pertahanan penuh, Republik Islam Iran secara tegas menegaskan kembali bahwa keamanan, kemerdekaan, dan integritas teritorial negara adalah garis merah yang tak dapat dilanggar.
Dalam kerangka pertahanan yang sah, Republik Islam Iran tidak membatasi diri hanya pada respons setelah tindakan agresi terjadi. “Sebaliknya, Iran menganggap indikator ancaman yang nyata sebagai komponen integral dari persamaan keamanannya,” demikian catatan tersebut.
Sementara itu, sebuah laporan menyebutkan Iran memperingatkan bahwa mereka dapat menyerang Israel terlebih dahulu jika mendeteksi tanda-tanda serangan yang akan segera terjadi.
“Iran tidak akan membatasi pembalasannya atau menunggu untuk diserang terlebih dahulu,” kata para pejabat seperti dikutip oleh beberapa sumber.
Teheran menyatakan setiap ancaman terhadap keamanan atau wilayahnya sebagai garis merah,” dan bersumpah akan memberikan respons yang tegas dan proporsional terhadap serangan atau tindakan permusuhan.
Pada bagian lain, laporan menunjukkan adanya patroli berkelanjutan oleh pesawat pengintai militer AS di Selat Hormuz. Tidak hanya itu, pergerakan pesawat kargo militer AS ke Eropa dan Timur Tengah terbanpau masif usai aksi penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinua, Cilia Flores.
Selain itu, Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu juga masif memberikan ancaman terhadap Iran, terutama sejak terjadinya aksi demonstrasi di dalam negeri Iran. Trump bahkan terang-terangan akan mengambil tindakan jika rezim Iran melakukan tindakan berlebihan terhadap demonstran. Iran sendiri menangkap sejumlah perusuh yang diklaim memiliki hubungan dengan Mossad. (fajar)





