Jakarta, VIVA – Di tengah meningkatnya angka pengangguran di Indonesia, secercah harapan justru muncul dari sektor yang kerap dipandang sederhana: usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,47 juta orang per Agustus 2024, naik 4,91 persen dibanding Februari di tahun yang sama. Angka ini menjadi alarm sosial, terutama bagi kelompok usia produktif yang kesulitan menembus pasar kerja formal. Scroll untuk informasi selengkapnya, yuk!
Kondisi tersebut kian terasa di daerah, ketika lapangan pekerjaan masih terpusat di kota besar. Urbanisasi menjadi pilihan banyak orang demi mencari penghidupan, meski tak jarang berujung pada pekerjaan informal dengan penghasilan tidak menentu.
Di sisi lain, peluang kerja di desa kerap terhambat oleh keterbatasan modal, akses pasar, serta minimnya pendampingan usaha. Situasi ini membuat pengangguran dan setengah pengangguran di wilayah non-perkotaan menjadi persoalan laten yang jarang tersorot.
Dalam konteks inilah UMKM memainkan peran penting sebagai penyangga ekonomi keluarga. UMKM bukan hanya menyediakan penghasilan bagi pemilik usaha, tetapi juga membuka kesempatan kerja skala kecil di lingkungan terdekat—mulai dari tetangga, ibu rumah tangga, hingga pemuda desa.
Tak heran jika sektor ini mampu menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, menjadikannya salah satu solusi paling realistis dalam meredam laju pengangguran, terutama di tengah ketatnya persaingan kerja formal.
Perkembangan UMKM dalam beberapa tahun terakhir pun tak lepas dari sentuhan teknologi, khususnya layanan keuangan digital atau financial technology (fintech). Layanan berbasis teknologi ini mempermudah pelaku usaha kecil mengakses pembiayaan, menabung, hingga mengelola keuangan. Seiring meningkatnya adopsi digital, pasar fintech Indonesia diperkirakan terus bertumbuh hingga bernilai puluhan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan.
Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha, menilai peran fintech kini melampaui sekadar layanan keuangan.
“Fintech tidak hanya menjadi salah satu sektor jasa keuangan yang berkontribusi sebesar 4,74 persen terhadap perekonomian Indonesia. Lewat layanan keuangan seperti pembiayaan, dompet digital, investasi mikro, dan produk lainnya, fintech telah mendukung penguatan UMKM yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja,” ujar Andi Taufan dalam keterangannya, dikutip Selasa 6 Januari 2026.





