Disebut Cari Aman Pilih SBN Ketimbang Kredit, Bank Buka Suara

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank angkat bicara menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut perbankan cenderung “cari aman” dengan memarkir dana pada instrumen berimbal hasil pasti ketimbang agresif menyalurkan kredit. 

BCA menegaskan bahwa pertumbuhan kredit perseroan terjaga dan sejalan dengan dinamika perekonomian nasional. Hingga November 2025, kredit BCA secara bank only tercatat tumbuh sehat mencapai Rp921 triliun.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan perseroan tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit hingga akhir 2025, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan pembiayaan, termasuk terhadap fasilitas kredit yang belum ditarik.

“Pada saat yang bersamaan, BCA juga mengelola undisbursed loan secara pruden. Ditopang likuiditas yang memadai, kami berkomitmen menyalurkan kredit yang berkualitas ke berbagai segmen dan sektor dengan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” kata Hera kepada Bisnis, Selasa (6/1/2025). 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Dari sisi likuiditas, loan to deposit ratio (LDR) BCA tercatat sebesar 75,6% pada sembilan bulan pertama 2025, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 75,1%. 

Sementara itu, posisi permodalan BCA juga tetap solid dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 29,9%.

Baca Juga

  • Laba Bank Swasta Menanjak, Bank BUMN Justru Menyusut Per November 2025
  • Momen Kebangkitan LQ45 Tahun 2026, Saham Perbankan & Konsumer Andalan
  • Intip Daftar Top 10 Bank Laba Terbesar jelang Rilis Lapkeu Kuartal IV/2025

“Posisi permodalan ini kami pandang sangat memadai untuk mengantisipasi potensi risiko sekaligus menopang pertumbuhan usaha secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” tambah Hera.

Sementara itu, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli menilai secara industri kondisi likuiditas perbankan saat ini relatif lebih longgar dibandingkan akhir tahun lalu. Hal ini tercermin dari posisi LDR perbankan yang umumnya berada di bawah 90%.

Menurut Ganda, pelonggaran likuiditas tersebut antara lain dipengaruhi oleh penempatan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun di bank-bank milik negara. 

Di sisi lain, indikator kesehatan perbankan seperti CAR dan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga masih terjaga stabil, masing-masing di kisaran 26% dan di bawah 3%.

Terkait faktor yang menahan ekspansi kredit, Ganda menilai hal tersebut merupakan kombinasi antara strategi kehati-hatian perbankan dalam menjaga kualitas aset serta sikap pelaku usaha yang masih cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Menghadapi 2026, bank cenderung tetap selektif dalam penyaluran kredit. Fokus sektor tidak akan berubah drastis dibandingkan 2025, dengan tetap mengandalkan sektor ritel, perdagangan, dan sektor-sektor lain yang relatif resilien,” ujarnya.

Seiring dengan hal ini, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai stagnasi penyaluran kredit perbankan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah likuiditas. 

Menurutnya, fenomena lazy bank atau bank yang lebih memilih memarkir dana di instrumen aman seperti surat berharga negara (SBN), merupakan masalah struktural yang telah berlangsung lama dan berkaitan erat dengan melemahnya kepercayaan dunia usaha.

Bhima merespons pernyataan Purbaya yang menepis anggapan bahwa tingginya fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) mencerminkan lemahnya permintaan kredit dan menilai perbankan cenderung enggan menyalurkan kredit karena lebih nyaman mengejar kepastian imbal hasil melalui instrumen keuangan.

“Ini seperti kucing dan tikus. Bank banyak parkir di SBN selain karena imbal hasilnya tinggi, juga karena risiko dunia usaha meningkat. Akhirnya bank jadi lazy bank, malas menyalurkan kredit ke sektor riil,” ujar Bhima kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026). 

Namun dari sisi dunia usaha, Bhima menilai rendahnya penarikan komitmen kredit juga tidak lepas dari menurunnya kepercayaan terhadap arah kebijakan fiskal. 

Pelaku usaha, kata dia, belum sepenuhnya yakin terhadap efektivitas belanja negara, termasuk sejumlah program pemerintah yang dinilai boros anggaran tetapi berdampak ekonomi terbatas.

Pelaku usaha, kata dia, belum sepenuhnya yakin terhadap efektivitas belanja negara, termasuk sejumlah program pemerintah yang dinilai boros anggaran tetapi berdampak ekonomi terbatas. 

Selain itu, Bhima mempertanyakan kebijakan penambahan likuiditas sekitar Rp200 triliun kepada perbankan, padahal fenomena kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit telah berlangsung dalam satu dekade terakhir. Dalam periode tersebut, perbankan dinilai lebih memilih memarkir dana ketimbang menyalurkannya ke sektor produktif. 

“Kalau dari awal sudah tahu bank cenderung malas menyalurkan kredit, tambahan likuiditas bukan jawabannya. Apalagi pada akhirnya Rp76 triliun ditarik kembali untuk kebutuhan cashflow APBN,” katanya.

Dia juga menyoroti faktor non-ekonomi yang dinilai ikut menekan iklim usaha, mulai dari masuknya pendekatan militeristik ke sektor ekonomi hingga kebijakan yang kurang transparan. Kondisi tersebut, menurut Bhima, menciptakan climate of fear di kalangan pengusaha dan mempersempit ruang sektor swasta.

Dari sisi kebijakan fiskal, Celios mendorong evaluasi menyeluruh pada 2026, termasuk efisiensi anggaran daerah, sentralisasi fiskal di pemerintah pusat, serta lambatnya pencairan belanja negara. Bhima menilai kesalahan kebijakan fiskal pada 2025 tidak seharusnya dilanjutkan. 

Dia juga memandang stimulus fiskal masih bersifat parsial dan belum menyasar kelas menengah yang menyumbang lebih dari 68% konsumsi rumah tangga nasional. Menurutnya, stimulus yang tidak menyentuh basis konsumsi utama akan sulit mendorong permintaan kredit dan pertumbuhan ekonomi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Jawab Doktif soal Kemungkinan Sita Akun Medsos Richard Lee
• 3 jam laludetik.com
thumb
IHSG Dibuka Melesat Nyaris ke Level 9.000, Sebanyak 337 Saham Menguat
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Italia: AS Roma dan Juventus Dekati Inter Milan, AC Milan, dan Napoli
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Khephren Thuram Bongkar Peran Penting Jonathan David di Balik Kemenangan Juventus
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Diproyeksi Lanjutkan Penguatan hingga 9.077, Cek Analisa Empat Saham Ini
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.