Pendidikan Vokasi, Jembatan Mengisi Kebutuhan Industri

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Sebuah robot tengah membuat masakan sendiri di ruang mekatronika Sekolah Menengah Kejuruan Wisudha Karya di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, medio November 2025. Ruangan praktik itu dilengkapi dengan fasilitas robotik berbasis akal imitasi dan koding, seperti robot yang bisa membuat masakan sendiri, drumer robot, serta peralatan robotika untuk memindahkan dan mendistribusikan barang-barang.

Azzura Fairus Zulfahri (17) memiliki mimpi untuk mendalami robotika dan elektronika. Selepas lulus dari sekolah menengah kejuruan, ia bercita-cita bekerja di industri manufaktur berskala besar. Ia meyakini, di era industri 4.0, teknologi bakal melesat dengan berbasis internet (internet of things/IoT) dan pemrograman robotik yang menjadi minatnya.

Berasal dari keluarga sederhana, ayah bekerja sebagai buruh harian di Jepara, tidak menghalangi Azzura untuk mendalami elektronika. Siswa kelas XII SMK Wisudha Karya itu menunjukkan keseriusannya dengan meraih juara dua Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Tingkat Nasional 2025 di bidang robotik yang berbasis revolusi industri 4.0.

Di lomba itu, ia menciptakan sistem manufaktur dengan merakit komponen perangkat komunikasi yang dioperasikan oleh robot untuk tujuan pengelolaan barang.

Baca JugaKomitmen Djarum Foundation dalam Pembinaan Atlet dan Masa Depan Olahraga

Jurusan Teknik Elektronika di SMK Wisudha Karya yang menyediakan fasilitas dan praktik robotik dipandang Azzura menjadi jalan mengejar mimpi besarnya. Di sekolah binaan Djarum Foundation itu, ia mengaku banyak mempelajari, mengasah, dan mengoperasikan pemrograman, serta pemrograman robotik.

”Keinginan saya terus berkembang di elektronika. Saya kelak ingin ke perusahaan-perusahaan manufaktur besar di luar negeri yang mengembangkan banyak robot, seperti di China,” ujar Azzura, Rabu (12/11/2025).

Kepala SMK Wisudha Karya Fakhrudin mengemukakan, sekolah menengah kejuruan harus terus beradaptasi dan mengikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan pasar lapangan kerja, ditunjang dengan guru-guru yang terbuka terhadap perubahan. Dicontohkan, beberapa industri mengurangi tenaga kerja berbasis manusia karena digantikan oleh robotika. Oleh karena itu, pelatihan-pelatihan guru perlu rutin diberikan untuk memperbarui pengetahuan dan menyesuaikan dengan situasi kebutuhan industri.

Lewat kemitraan dengan dunia industri, sekolah mendapat pembinaan dalam hal pengembangan kurikulum yang sesuai kebutuhan industri, bantuan infrastruktur pendidikan, serta penyaluran para lulusan untuk bekerja di perusahaan. Permintaan pekerja dari industri mengalir setiap tahun. Setiap tahun, rata-rata 85 persen lulusan SMK Wisudha Karya terserap masuk ke perusahaan.

”Tantangan terbesar kami adalah menyiapkan siswa berkualitas yang siap memenuhi kebutuhan industri, baik hard skill maupun soft skill,” ujar Fakhrudin.

Baca JugaIlmu Bioteknologi Indonesia Tertinggal, Peneliti Muda Ditantang Berinovasi
Kesiapan SDM

Ia menambahkan, industri semakin mencari lulusan SMK dengan standar soft skill yang dimiliki perusahaan. Bahkan, siswa dengan kemampuan soft skill yang mumpuni lebih dicari ketimbang kemampuan hard skill.

”Kemampuan soft skill itu meliputi kemampuan komunikasi, kolaborasi, inisiatif dan kreativitas, serta kritis dalam menyikapi persoalan. Ini yang menjadi tantangan besar kami di sekolah untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan soft skill mumpuni,” kata Fakhrudin.

Salah satu soft skill yang perlu diasah di sekolah adalah manajemen waktu dan kemampuan adaptasi untuk bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Sebab, ada kemungkinan lulusan ditempatkan bukan di bidang yang selama ini dipelajari di sekolah. Siswa juga dibekali dengan kemampuan penunjang, seperti software.

Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation Galuh Paskamagma mengatakan, kolaborasi dunia pendidikan dengan industri menjadi jembatan penghubung yang mengantarkan lulusan ke dunia kerja. Inisiasi itu dilakukan oleh Djarum Foundation sejak 2011 untuk membina dan memfasilitasi lulusan siswa unggul dari sekolah menengah kejuruan binaan untuk menjadi pekerja di industri.

Intervensi ke sekolah-sekolah mitra diawali dengan penyelarasan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan industri. Dari 20 sekolah menengah kejuruan binaan Djarum Foundation di Kudus, hingga saat ini sebanyak 34.883 lulusan SMK telah difasilitasi untuk bekerja di perusahaan. Puluhan perusahaan dalam dan luar negeri menjadi partner Djarum Foundation. Beberapa jurusan SMK secara rutin mengirim lulusan ke luar negeri, yakni jurusan teknik manufaktur, pengelasan (welding), otomotif, perhotelan, dan restoran.

Baca JugaVictor Rachmat Hartono Berbagi Cerita Djarum di Paramadina

Pada 2026, Djarum Foundation berencana mengirim 600 lulusan SMK ke Jepang atau meningkat 10 kali lipat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 100 orang di antaranya berasal dari lulusan SMK Wisudha Karya.

Meningkatnya permintaan lulusan SMK untuk bekerja di luar negeri, antara lain, datang dari berkembangnya industri hospitality, seperti di Jepang. Di tengah tekanan ekonomi Indonesia yang masih berat, peluang terbuka untuk bekerja di industri luar negeri.

Meski demikian, tantangan lain yang muncul, lanjut Galuh, adalah kesiapan dan ketahanan fisik. Beberapa lulusan SMK yang bekerja di pabrikan di luar negeri tidak memiliki ketahanan fisik yang baik, seperti daya tahan untuk berdiri selama berjam-jam. Kriteria itu harus disiasati dengan mempersiapkan pelatihan fisik siswa di sekolah.

Secara terpisah, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Daniel Mudiyarso mengatakan, perbaikan sistem pendidikan perlu dilakukan secara integral, yakni sejak pendidikan dasar. Untuk itu, dibutuhkan keberanian politik membenahi pendidikan dasar mulai dari siswa hingga guru.

”Investasi harus diberikan kepada generasi paling muda. Perhatian khusus untuk pendidikan dasar membutuhkan guru berkualitas. Guru berkualitas diperlukan untuk menyiapkan anak-anak didik dengan kualitas yang tinggi,” ucap Daniel dalam diskusi bertajuk ”Menuju Masyarakat Ilmu Pengetahuan” di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pelaporan SPT 2025 Lewat Coretax Capai 47.395
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Cerita Prabowo Tolak Lihat Daftar Perusahaan Nakal Pelanggar Aturan: Saya Tak Mau Terpengaruh
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Hindari Kamar Nomor Berakhiran 01 saat Menginap di Hotel, Ini Kata Pakar
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Sang Ayah Meninggal Mendadak, Venna Melinda Ungkap Riwayat Penyakit Almarhum
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Laga Persib vs Persija Dijaga Ketat, Polda Jabar Siapkan Pengamanan Berlapis
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.