Indonesia dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia menurut Global Flourishing Study (GFS) yang digagas Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset global Gallup.
Survei ini menilai kesejahteraan holistik masyarakat dari lima dimensi utama: kebahagiaan, kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter moral, dan hubungan sosial.
Hasilnya, Indonesia meraih skor rata-rata 8,47 dari 10, menempatkannya di posisi pertama dunia, mengungguli Israel dan Filipina. Jepang justru tercatat memiliki skor terendah, yakni 5,93. Survei ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 23 negara dan wilayah.
Prof. Nur Syam Guru Besar Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menekankan pentingnya apresiasi atas pencapaian ini.
“Jadi yang pertama tentu kita bersyukur. Bersyukur karena ada lembaga survei internasional yang reputasinya tak diragukan, seperti Harvard, Baylor University, dan Gallup. Saya rasa tiga lembaga survei yang patut dibanggakan itu menghasilkan informasi yang membahagiakan kepada kita semua,” katanya dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (7/1/2026).
Meski demikian, Nur Syam mengingatkan bahwa survei ini hanya menggambarkan potensi kebahagiaan, bukan kondisi mutlak. Menurutnya, penilaian ini bersifat persepsi.
“Jadi kita boleh gembira tetapi juga kita justru ini menurut saya tantangan. Jadi kalau surveinya itu menyatakan Indonesia paling bahagia justru tantangan bagi para pejabat, bagi kita,” terangnya.
Rektor UINSA periode 2008–2012 itu menyebut fenomena tersebut sebagai happiness paradox, di mana persepsi kebahagiaan tidak selalu sejalan dengan indikator fisik atau sosial lainnya.
Nur Syam menambahkan, dalam survei lain, negara-negara Skandinavia seperti Swedia dan Finlandia sering disebut sebagai negara paling bahagia.
Nur Syam menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk kebahagiaan karena berbagai indikator dasar terpenuhi. Menurutnya, kondisi kehidupan masyarakat yang relatif aman dan nyaman menjadi salah satu faktor utama.
“Coba bayangkan kita hidup di Afghanistan atau Palestina. Di Indonesia, orang bisa bekerja dengan aman, sekolah nyaman, dan beribadah tenang. Dari sisi life satisfaction, kita memang ada pada tempat yang layak,” katanya.
Selain keamanan, dimensi kesehatan fisik dan mental juga menjadi faktor penting. Nur Syam menekankan, indikator ini dapat diukur melalui data kesehatan masyarakat, seperti jumlah orang yang sehat dibanding yang sakit.
“Lalu ada makna hidup, di mana masyarakat bisa mensyukuri apa yang dimiliki. Punya uang ya bersyukur, tidak punya pun tetap bersyukur,” tambahnya.
Hubungan sosial atau prosocial relationship juga dianggap menjadi faktor yang memperkuat kebahagiaan masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan peran pertemanan dan komunitas dalam kehidupan sehari-hari.
“Pertemanan kita luar biasa. Di masjid, gereja, tempat kerja, atau kafe, masyarakat bisa menjalin hubungan yang membahagiakan,” ujarnya.
Meski demikian, Nur Syam menekankan bahwa survei ini mengukur persepsi, bukan kebahagiaan riil secara objektif. Ia menyinggung survei sebelumnya oleh BPS yang menggunakan indikator fisik semata, seperti pendapatan dan lingkungan sosial.
“Sekarang BPS juga memasukkan indikator non-fisik, seperti perasaan nyaman. Ini selaras dengan metode yang digunakan Harvard, Baylor, dan Gallup,” ujarnya. (saf/ipg)


